Foreign Policy Analysis: The Case of Russia's Annexation of Crimea under Vladimir Putin in the Post-Cold War Era
DANU ISMAIL SUPADI, Prof. Dr. Mohammad Mohtar Mas'oed
2019 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALKetika negara terus meningkatkan kekuatan mereka dalam mencapai tujuan mereka, beberapa negara cenderung mengalami konflik karena ada berbagai gagasan dan kepentingan yang saling bersaing yang akhirnya mengarah pada benturan kepentingan. Perang Dingin dapat diperdebatkan sebagai titik ujung dari bentrokan ideologi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang mempolarisasi dunia ini menjadi blok 'Barat' dan 'Timur'. Perang Dingin mungkin telah berakhir namun peristiwa itu tidak menghentikan persaingan kekuasaan di antara negara-bangsa. Dalam skripsi ini, penulis ingin mempelajari tentang kebijakan luar negeri Rusia khususnya terhadap kawasan Eropa Tengah dan Timur secara khusus dengan menganalisis masalah Krimea. Pada 2014, Rusia di bawah komando Presiden Vladimir Putin menganeksasi Krimea - sebuah republik otonom di bawah kendali Ukraina. Akibatnya, dilihat dari perspektif de jure, Krimea masih menjadi bagian dari Ukraina karena komunitas internasional menolak untuk mengakui aneksasi Rusia. Masalah ini telah dibiarkan tidak terselesaikan oleh komunitas internasional, sehingga mengarah ke tindakan yang lebih agresif yang dilakukan oleh Rusia. Oleh karena itu, analisis kebijakan luar negeri akan menjadi tujuan utama untuk dipelajari dalam skripsi ini karena ada banyak argumen dan penjelasan mengenai motif Putin dalam menganeksasi Krimea tetapi hanya sedikit dari penjelesan tersebut yang menyoroti tentang pentingnya korelasi antara situasi politik dalam negeri dan interaksi antar negara dalam pembuatan kebijakan luar negeri. Tujuan dari skripsi ini adalah untuk menjelaskan alasan atau faktor yang mendasari dan yang telah berkontribusi pada aneksasi Krimea oleh Rusia di tahun 2014 melalui penggabungan kekuatan relatif Rusia seperti yang terlihat dalam sistem internasional dan tantangan domestik yang perlu ditangani. Untuk memahami hal ini, realisme neoklasik yang pertama kali diciptakan oleh Gideon Rose akan digunakan dalam skripsi ini karena menawarkan pendekatan alternatif untuk analisis kebijakan luar negeri.
As states continue to increase their power in achieving their goals, some states are prone to conflict since there are competing ideas and interests which eventually lead to the clash of interest. The Cold War could be argued as the tipping point of ideology clash between the United States and Soviet Union which polarized this world into 'West' and 'East' bloc. The Cold War might have ended yet it does not stop the contestation of power amongst nation-states. In this paper, the author would like to study about the Russian foreign policy particularly towards the region of Central and Eastern Europe specifically by analyzing on Crimea's issue. In 2014, Russia under the command of President Vladimir Putin annexed Crimea -- an autonomous republic under the control of Ukraine. As a result, seen from de jure perspective, Crimea is still part of Ukraine as the international community refused to acknowledge Russia's annexation. This issue has been left unsolved by the international community, thus leading to more aggressive actions conducted by Russia. Hence, foreign policy analysis will become the main objective to be studied in this thesis as there are many arguments and explanations regarding Putin's motive in annexing Crimea but few of them highlighted the importance of correlation between domestic political situation and interaction among states in foreign policy making. The aim of this thesis is to explain the underlying reasons or factors that had contributed to the annexation of Crimea in 2014 through incorporating Russia's relative power as seen in the international system and the domestic challenges that need to be dealt with. In order to understand this, neoclassical realism which is first coined by Gideon Rose will be used in this paper as it offers an alternative approach to foreign policy analysis.
Kata Kunci : Russia, the European Union, neoclassical realism, foreign policy analysis, Annexation of Crimea, Ukraine, democracy, Vladimir Putin