Laporkan Masalah

PEMETAAN FASE TANAH MELALUI PENDEKATAN PARTISIPATIF

FUTUHA HELEN SARA, Dr.Dyah Rahmawati Hizbaron,M.T.,M.Sc

2019 | Skripsi | S1 GEOGRAFI LINGKUNGAN

Pemetaan tanah merupakan salah satu upaya penting dalam melakukan inventarisasi data tanah. Selama ini pemetaan tanah dilakukan dari tingkatan global ke detil melalui pendekatan bentuklahan, sementara itu dalam tingkatan detil, manusia memiliki intervensi dan persepsi terhadap tanah. Manusia sebagai pengolah tanah menjadi salah satu agen yang berpengaruh dalam proses pembentukan tanah. Tanah yang terkena intensitas tinggi oleh aktivitas manusia dalam tatanan taksonomi detil kemudian disebut sebagai fase tanah. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya alternatif dalam pemetaan tanah skala detil yang melibatkan masyarakat yakni dengan menggunakan metode partisipatif (etnopedologi). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk i) mengidentifikasi nama tanah lokal (fase tanah) dan pemetaan sebarannya, ii) mengidentifikasi faktor penciri fase tanah dan susunan keruangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menemukenali nama tanah lokal atau fase tanah, karakteristik, dan distribusinya. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengidentifikasi sifat fisik tanah secara kuantitatif, faktor penciri, dan analisis susunan keruangan melalui skenario satuan penggunaan lahan, satuan bentuklahan, dan satuan litologi. Penelitian dilakukan di bagian hilir Sub-DAS Bompon, di Dusun Kalisari, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 8 nama tanah lokal yakni Cabuk Hitam, Cabuk Putih, Cabuk Grogol, Lendut, Lincat, Lempung, Baturan, dan Gresik dengan faktor penciri berupa warna, struktur, dan pemanfaatan tanah. Berdasarkan hasil analisis susunan keruangan, distribusi tanah lokal secara spasial cenderung mengikuti pola penggunaan lahan.

Soil mapping is important to soil data inventory. Soil mapping has been carried out from the global level to the detail level using landforms approach. Thus, in detailed level, human has intervention and also perception towards soil. Humans cultivate the soil and become agents in the process of soil formation. The soil that affected intensively by humans� activities in detailed soil taxonomy is called soil phases. This research was conducted as an alternative effort to detailed soil mapping that involve society by using participatory methods (ethnopedology). The aims of this research are i) to identify local soil types (soil phases) and those distribution (detailed soil mapping); ii) to identify the characteristic factors and spatial arrangement of soil phases. Two methods that occured in this research both of qualitative and quantitative approach. The qualitative approach is used to identify the name of local soil types, their characteristics, and distribution. The quantitative approach is done by analyzing characteristic factors and 3 spatial scenario models for spatial arrangement: land use, landform, and lithology. This research is conducted in the downstream of Bompon Sub-Watershed, Part of Kalisari Hamlet, Margoyoso Village, Salaman sub-district, Magelang, Central Java. The results show that there are 8 soil phases: Cabuk Hitam, Cabuk Putih, Cabuk Grogol, Lendut, Lincat, Lempung, Baturan, and Gresik. The characteristic factors are soil color, soil structure, and soil utilization. Based on three of scenario spatial arrangement�s analysis, the spatial arrangement of soil phase distribution is close to land use pattern.

Kata Kunci : Ethnopedology, Mapping, Soil Phase, Participatory Approach, Spatial Arrangement

  1. S1-2019-363760-abstract.pdf  
  2. S1-2019-363760-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-363760-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-363760-title.pdf