ANALISIS KEMAMPUAN VEGETASI DALAM PENYERAPAN TIMBAL DAN PENGENDALIAN IKLIM MIKRO DI JALUR HIJAU KOTA YOGYAKARTA
SURYANA RISKI SIREGAR, Siti Nurul Rofiqo Irwan, S.P., M.Agr., Ph.D; Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P., Ph.D
2019 | Skripsi | S1 AGRONOMIPenelitian bertujuan untuk 1) mengukur kemampuan beberapa jenis vegetasi di Jalan Lingkar Alun-Alun Kota Yogyakarta dalam menyerap timbal, 2) mengetahui kemampuan vegetasi dalam pengendalian iklim mikro di Jalan Lingkar Alun-Alun Kota Yogyakarta, dan 3) mengidentifikasi faktor penentu utama penyebab tingginya kemampuan jenis vegetasi dalam penyerapan timbal dan pengendalian iklim mikro. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei lapangan, data yang diperoleh dianalisis menggunakan Anova dan uji lanjut HSD-Tukey. Pengamatan iklim mikro menggunakan dua metode yaitu transect line dan klasterisasi. Pengujian kandungan timbal dilakukan pada beberapa tanaman yaitu angsana (Pterocarpus indicus), asam jawa (Tamarindus indica), dan tanjung (Mimusops elengi) dengan metode Inductively Couple Plasma (ICP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tanaman berpengaruh nyata terhadap kandungan Pb dalam jaringan daun, namun tidak demikian dengan ukuran diameter batang tanaman. Kandungan Pb pada jaringan daun tanaman asam jawa (3,08 mg/kg) sama dengan tanjung (4,39 mg/kg), dan kandungan Pb dalam jaringan daun tanaman tanjung lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman angsana (2,5 mg/kg). Karakter stomata pada daun tanaman asam jawa dan tanjung yang membuka lebih lebar dibandingkan dengan tanaman angsana merupakan faktor penentu utama tingginya serapan Pb pada tanaman asam jawa dan tanjung. Tanaman dengan ukuran diameter batang yang berbeda memiliki kandungan Pb dalam jaringan daun tidak berbeda nyata. Tanaman asam jawa merupakan jenis yang paling efektif sebagai penyerap Pb dibandingkan dengan angsana dan tanjung, karena kandungan Pb pada daunnya sama dengan kandungan Pb pada daun tanjung (sedangkan konsentrasi Pb pada daun angsana lebih rendah), namun metabolisme dan biomassa tanaman asam jawa tidak terganggu sedangkan pada tanjung menurun akibat konsentrasi Pb daun yang cukup tinggi. Komponen vegetasi penyusun klaster KI dan KII kemampuannya dalam mengendalikan iklim mikro jauh lebih baik jika dibandingkan klaster KIII dan KIV, karena komponen vegetasi penyusun klaster KI dan KII memiliki ukuran tajuk lebih lebar dibandingkan klaster KIII dan KIV. Vegetasi di Jalan Lingkar Alun-Alun Yogyakarta mampu menurunkan suhu lingkungan sekitar 1,72-4,70 ºC, serta meningkatkan kelembaban udara sekitar 4-9 %.
The study aims to 1) measure the ability of several types of vegetation on the Yogyakarta City Square to absorb lead, 2) determine the ability of vegetation in controlling microclimate on the Yogyakarta City Square, and 3) identify the main determinants of the high ability types of vegetation in lead absorption and microclimate control. The study was conducted using the field survey method, the data obtained were analyzed using ANOVA and Tukey HSD follow-up. Microclimate observation used two methods, namely the transect line and clustering. The measure of lead content was carried out on several plants, namely angsana (Pterocarpus indicus), tamarind (Tamarindus indica), and cape (Mimusops elengi) with the Inductively Couple Plasma (ICP) method. The results showed that plant species had a significant effect on the content of Pb in leaf tissue, but not so with the size of the stem diameters of the plant. Pb content in leaf tissue of tamarind plant (3.08 mg/kg) is the same as the cape (4.39 mg/kg), and Pb content in leaf tissue of cape is higher than angsana plant (2.5 mg/kg). The stomata character on the leaves of tamarind and cape plants which opens wider than the angsana plant is the main determinant of high Pb uptake in tamarind and cape. Plants with different stem diameters sizes had Pb content in leaf tissue not significantly different. Tamarind plants are the most effective type of Pb absorber compared to angsana and cape, because the Pb content in the leaves is the same as Pb content in cape leaves (whereas Pb concentration in angsana leaves is lower), but the metabolism and biomass of tamarind plants are not disturbed while on promontory decreased due to high leaf Pb concentration. The component of KI and KII cluster vegetation, the ability on microclimate control is much better than the KIII and KIV clusters because the KI and KII cluster constituent vegetation components had a wider canopy size than the KIII and KIV clusters. Vegetation on the Yogyakarta City Square is able to reduce the ambient temperature around 1.72-4.70 ºC and increase air humidity around 4-9%.
Kata Kunci : Kata kunci: Angsana, Asam Jawa, Iklim Mikro, Jalur Hijau, Tanjung, Timbal.