Penyelesaian Konflik dalam Hubungan Perkawinan: Studi Fenomenologis pada Pasangan Perkawinan Campuran antara Jawa dan Jepang
FIKA NADIA TIRTA MAHARANI, Retno Suhapti, Dra., SU., MA., Psikolog
2019 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIKemampuan penyelesaian konflik adalah kemampuan yang krusial bagi pasangan perkawinan campuran. Terlebih lagi pada pasangan perkawinan campuran antara Jawa dan Jepang. Budaya Jawa dan Jepang sama-sama mengepentingkan menjaga harmonisasi, sehingga apabila konflik muncul ada kecenderungan individunya untuk menghindar. Apabila saling menghindar, maka konflik tidak terselesaikan. Sementara itu, kemampuan penyelesaian konflik mempengaruhi kualitas hubungan perkawinan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konflik serta penyelesaian konflik dalam pasangan perkawinan campuran antara Jawa dan Jepang. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Analisis data menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan observasi kepada empat pasangan perkawinan campuran antara Jawa dan Jepang yang dilakukan di Kota Yogyakarta dan Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik yang sering ditemukan pada responden penelitian adalah seputar anak dan keuangan. Apabila dikategorikan berdasar gender, suami cenderung untuk mengalah, sedangkan istri khususnya yang mempunyai kewarganegaraan Jepang cenderung untuk memiliki orientasi pada solusi saat menghadapi konflik. Apabila dikategorikan berdasar suku, individu bersuku Jawa memiliki kecenderungan diam yang mengarah pada penghindaran konflik. Individu yang berkewarganegaran Jepang memiliki kecenderungan untuk berkonfrontasi dalam menyampaikan pendapat, keinginan serta emosinya kepada pasangannya ketika berkonflik. Saat menyelesaikan konflik, pasangan melalui tahapan pencarian solusi secara bersama serta adanya komitmen antar pasangan.
The ability to resolve conflict is a crucial ability for intermarriages. Morever, for Javanese and Japanese intermarriage couples. Javanese and Japanese culture both emphasize the importance of maintaining harmony, so that when conflicts arise there is an individual tendency to avoid them. If the coupple avoid the conflict, then the conflict will not be resolved. Meanwhile, conflict resolution capabilities affect the quality of marital relations. This study aims to explore the conflicts and conflict resolution used among Javanese and Japanese intercultural couples. The method used in this study was qualitative with a phenomenological approach. Data anaysis used in this study was Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The data were collected through in-depth interviews and observations among four Javanese and Japanese intercultural couples in Yogyakarta and Semarang. The result showed that among Javanese and Japanese couples, the most concerned conflict surrounds child rearing and finance. When categorized by gender, husbands tend to conform to their wives preferences. Meanwhile wives, especially Japanese wives tend to be solution oriented towards conflict. When categorized by ethnics, Javanese tend to be silent leading to avoidance of conflict. Japanese tend to confront directly to their couple about their opinions, desire and emotions. Couples go through the discussion of possible solutions and form commitments with each other in order to resolve the conflict.
Kata Kunci : konflik, penyelesaian konflik, perkawinan campuran/ conflict, conflict resolution, intercultural marriage