PENGARUH PENURUNAN DAUR TANAMAN JATI TERHADAP VOLUME TEBANGAN (Kasus di KPH Randublatung Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah)
Gurnita Aristyawati, Ris Hadi Purwanto, Teguh Yuwono
2009 | Skripsi | S1 KEHUTANANSalah satu sarana pengaturan hasil untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya hutan adalah daur. Daur (rotasi) adalah jangka waktu antara kegiatan pemanenan dengan kegiatan pemanenan berikutnya. Salah satu KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) yang menurunkan daur tanaman jati adalah KPH Randublatung. Berbagai persepsi muncul karena masih terbatasnya informasi mengenai hal tersebut. Perlu adanya penelitian untuk mengetahui lebih mendalam mengenai penurunan daur tanaman jati berdasarkan data di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan Perhutani menurunkan daur di KPH Randublatung serta pengaruhnya terhadap volume tebangan. Penelitian dilakukan di KPH Randublatung menggunakan dua pendekatan yaitu kualitatif studi kasus dan kuantitatif deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer hasil wawancara dengan key-informan dan data sekunder berupa arsip perusahaan. Teknik pengumpulan data primer adalah wawancara relatif terstruktur dan tidak terstruktur, sedangkan data sekunder diperoleh langsung dari kantor KPH Randublatung dan SPH III Salatiga. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif yang dikolaborasikan dengan data kuantitatif pendukung, kemudian keduanya dilakukan analisis diskriptif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor-faktor yang menyebabkan Perhutani menurunkan daur adalah (1)Degradasi kelas hutan produktif akibat penjarahan sejak reformasi politik di Indonesia tahun 1998, (2)Posisi Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara yang memiliki kewajiban finansial kepada negara serta menyetorkan keuntungan, (3)Gangguan keamanan hutan relatif tinggi sampai tahun 2002 dan diprediksi akan terus berlangsung. Pengaruh penurunan daur terhadap volume tebangan adalah meningkatnya jumlah volume tebangan. Peningkatan volume tebangan tersebut berpengaruh terhadap tiga aspek yaitu (1)Aspek biofisik meliputi: a)Menurunnya kelas hutan produktif, b)Menurunnya kualitas tegakan; (2)Aspek ekonomi meliputi: a)KPH Randublatung tetap menjadi KPH unggulan karena tidak pernah absen menghasilkan keuntungan dan sebagai penopang penghasilan KPH-KPH minus, b)Perhutani merupakan BUMN mandiri yang tidak memiliki hutang; dan (3)Aspek sosial yaitu gangguan keamanan hutan terus berlangsung.
One of the result-control instruments to achieve preservation of forest resources is the rotation. Rotation is the interval between a regeneration harvest and the next regeneration harvest. One of the KPH’s (Kesatuan Pemangkuan Hutan – Forest Management Unit) that reduces the teak plant rotation is KPH Randublatung. Various perceptions have surfaced due to limited information available about this. A research needs to be carried out to understand better about the reduction of teak plant rotation based on data obtained from the field. This research is aimed at identifying the factors which caused Perhutani to reduce the rotation in KPH Randublatung and the impact the reduction has on the annual allowable cut. Research is carried out at KPH Randublatung using two approaches, namely qualitative case study and descriptive quantitative. The data used are primary data in the form of results of interview with key-informants, and secondary data in the form of company archives. The technique of primary data collection is through relative structured and unstructured interviews, where as the secondary data is obtained directly from KPH Randublatung and SPH III Salatiga. The data is analyzed using qualitative data analysis colaborated with supporting quantitative data, and then both are subjected to descriptive analysis. From the outcome of research, it can be determined that the factors which caused Perhutani to reduce the rotation are (1) Degradation of productive-forest class due to plundering since Indonesia’s political reform in 1998, (2) Perhutani’s position as a BUMN (State-Owned Enterprise) carries a financial obligation to generate profit for the State, (3) Relatively high incidence of security disturbance up to 2002, which was predicted to continue. The impact of rotation reduction on the annual allowable cut is an increase of the annual allowable cut. This increase of annual allowable cut has three impacts, namely (1) Biophysical aspects, which include a) downgrading of productiveforest class, and b) decreasing of teak-stand quality; (2) Economical aspects, which includes: a) The fact that KPH Randublatung remains an exceptional KPH because it never fails to generate profit to make up the lack of revenues from other deficient KPH’s, b) Perhutani remains an independent BUMN which has no burdens of liability or debts, and (3) Social aspects, namely the on going forest security disturbance.
Kata Kunci : Daur tanaman jati; volume tebangan; Perhutani