YOUTH AND HATE NARRATIVE; A STUDY ON THE RECEPTION OF HATE NARRATIVES BY SENIOR HIGH SCHOOL STUDENTS IN TUBAN, EAST JAVA
AHMAD AMINUDDIN, Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf
2019 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAMunculnya narasi kebencian bersamaan dengan komunikasi model baru melalui internet telah menjadi tantangan baru bagi masyarakat. Dalam konteks Indonesia, anak muda berada dalam jumlah pengguna internet tertinggi, terutama yang berada di usia sekolah menengah atas yang dikategorikan sebagai generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menguji model penerimaan narasi kebencian dari internet; secara khusus penelitian ini mengamati tentang penerimaan siswa MAN Tuban dan SMK Darul Ma'wa Tuban, Jawa Timur. Dalam penelitian ini, ada tiga narasi kebencian dari internet berdasarkan masalah SARA yang digunakan untuk melihat penerimaan siswa. Ketiga narasi tersebut adalah anti-Cina, Kristen dan Syiah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, proses mendapatkan data dilakukan melalui FGD dan wawancara mendalam. Model penerimaan dalam penelitian ini mengacu pada teori �encoding-decoding� yang membagi posisi audiens menjadi tiga kategori: model dominan-hegemoni, negosiasi dan oposisi. Sementara itu, untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh, penelitian ini meneliti berbagai faktor berdasarkan beberapa aspek yang diambil dari konsep the image of the enemy (citra musuh). Faktor tersebut meliputi meliputi latar belakang atau kepribadian audiens, konteks sosial dan karakter narasi. Studi ini mengungkapkan bahwa model penerimaan siswa pada narasi kebencian sejalan dengan tiga model berdasarkan teori �encoding-decoding.� Meskipun demikian, para siswa yang setuju dengan narasi kebencian umumnya melihat kelompok sasaran dengan prasangka dan stereotip. Kelompok Cina dipandang sebagai kelompok yang dominan di sektor ekonomi dan memiliki agenda kolonial, yaitu Cinaiasasi. Orang-orang Kristen dianggap sebagai seorang kafir yang selalu memusuhi Islam. Sementara itu, Syiah dipandang sebagai kelompok yang menyimpang dan dianggap sebagai pemberontak. Dalam hal faktor penerimaan, penelitian ini menemukan bahwa ada keterlibatan siswa dalam kelompok fundamentalis. Hal ini, pada kenyataannya, mengarahkan mereka untuk memiliki pandangan eksklusif dalam melihat kelompok lain dan merasa selalu berada dalam sebuah kontestasi dengan kelompok liyan (intergroup contestation). Berdasarkan karakteristik pesan, legitimasi melalui emosi yang secara spesifik menghadirkan ketakutan dan perasaan terancam jelas memengaruhi penerimaan siswa. Selain itu, hal ini juga memicu empati siswa untuk melakukan perbuatan yang berguna demi kepentingan kelompok (altruism). Akhirnya, faktor terakhir yang berpengaruh adalah sosok narrator karena siswa secara jelas mempertimbangkan kredibilitas narator. Selain itu, beberapa siswa langsung dapat percaya terhadap narasi hanya dengan meengetahui figur narrator.
The rise of hate narratives along with the new model communication through the internet has become a new challenge for the societies. In the Indonesian context, youth are in the highest number of internet user including whom in the senior high school age which are categorized as Z generation. They have an obvious intimacy with the internet. This study aimed to examine the reception model on hate narratives from the interne, specifically, it proposed to see how the reception of the students of MAN Tuban and SMK Darul Ma'wa Tuban, East Java. In this study, there are three hate narratives from the internet based on SARA issues which was used to examine students' reception. These include the anti-Chinese, Christian and Shia. By using a qualitative approach, the process of gaining the data was held through FGD and in-depth interviews. The reception model in this study refers to the theory of encoding-decoding which divides the position of audiences into three categories: dominant-hegemonic, negotiated and opposition models. Meanwhile, to see the influential factors, this study examines various factors based on several aspects under the enemy image concept which include audiences' background or personality, social context and character of the content. This study revealed that the model of students' reception on hate narratives, in fact, was appropriate with the three model based on encoding-decoding theory. Nonetheless, the students who agreed with the hate narratives generally saw the targeted group with prejudice and stereotype. China was seen as a dominant group in the economic sector and has a colonial agenda, Chinese-zation. The Christian was assumed as an infidel who is always hostile to Islam. Meanwhile, the Shiite was viewed as a deviant group and was considered as insurgents. In terms of the reception factors, this study found that it included the involvement of the students with a fundamentalist group. It, in fact, led them to have an exclusive view in seeing others and to feel always under contestation with the out-groups (intergroup contestation). From the character of the messages, legitimization through emotion which specifically presents fear and feeling threatened obviously influenced students' reception. Furthermore, it triggered the students' empathy to do a beneficial deed for the sake of the in-group (altruism). Finally, the last influential factor is the figure of the narrator. The students obviously considered the narrator's credibility. Even, some students immediately believed in the narrative only by seeing the figure of the narrator.
Kata Kunci : Hate narratives, youth, reception model, influential factor.