PERHITUNGAN ETAT HUTAN TANAMAN JATI PERUM PERHUTANI DENGAN MENGGUNAKAN CASUALTY PERCENT (Kasus di Bagian Hutan Pagotan, KPH Madiun, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur)
Taufik Ansori, Djoko Suharno Radite, Rohman
2010 | Skripsi | S1 KEHUTANANKelemahan metode Umur Tebang Rata-Rata (UTR) yaitu adanya penyimpangan umur tebang terhadap umur daur yang cukup jauh ketika diterapkan pada bagian hutan yang didominasi kelas umur muda. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan penerapan perhitungan casualty percent. Casualty percent memberikan luasan hutan yang selamat hingga akhir daur sehingga luasan hutan yang akan dihitung etatnya akan lebih representatif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor penyebab kerusakan hutan, menghitung casualty percent dalam penentuan etat yang memperhatikan faktor-faktor penyebab perubahan kelas hutan tersebut, dan penyusunan rencana tebangan selama daur berdasarkan hasil perhitungan etat yang mempertimbangkan casualty percent. Metode yang digunakan dengan casualty percent kemudian dilakukan analisis deskriptif kuantitatif yang hasilnya dihubungkan dengan hasil studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan key informan yang dipilih secara purposive sampling. Ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kerusakan hutan dengan perolehan nilai casualty percent. Dari nilai etat casualty percent kemudian dibandingkan dengan etat dengan metode UTR untuk mengetahui perbedaan hasil perhitungan etat yang diperoleh. Dari masing-masing nilai etat kemudian menjadi dasar dalam pembuatan BTHSD. Berdasarkan hasil olah data, diperoleh hasil nilai casualty percent pada KU VI sebesar 27%, KU V 41%, KU IV 56%, KU III 73%, KU II 82%, dan KU I sebesar 87%. Dari nilai casualty percent tersebut, setelah dilakukan pengurangan luas sesuai nilai casualty percent-nya, diperoleh etat luas di BH Pagotan sebesar 13,17 ha/tahun dan etat volume sebesar 2.147,32 m3/ha. berbeda jauh dengan etat dengan metode UTR dengan etat luas 39,31 ha/tahun dan etat volume sebesar 6.077,54 m3/tahun.
Age deviation of the age cut cycle and the dominance of young age classes was a weakness UTR method . These weaknesses can be overcome by applying the calculation of casualty percent. Casualty percent of forest area that provides safe until the end of the cycle so that the forest area will be counted etatnya more representative. The purpose of this study is to determine the factors causing forest destruction, casualty count in determining etat percent who consider the factors that cause changes in the forest class, and planning for felling cycle based on calculations that take into account casualty etat percent. The method that was used with casualty percent and then through quantitative descriptive analysis and the results associated with literature studies, field observations, and interviews with key informants selected by purposive sampling. This is intended to determine the relationship between the level of forest destruction by casualty percent grades. Of the value AAC with casualty percent then compared with the AAC with UTR method to know the difference AAC calculation results that was obtained. Each value of AAC then becomes the basis in the making BTHSD. Based on quantitative descriptive analysis in the book KPH Madiun RPKH year period 1969-1978 to 2001-2010, the value obtained at KU percent casualty VI 27%, KU V 41%, 56% IV KU, KU III 73%, 82 KU II %, and KU I is 87%. Percent of the value of such casualty, after extensive reduction according to the value of his casualty percent, gained widespread AAC in BH Pagotan for 13.17 ha / year and the volume of 2147.32 AAC m3/ha. different from the method AAC AAC UTR with large 39.31 ha / year and the volume of 6077.54 AAC m3/year.
Kata Kunci : AAC, metode UTR, casualty percent, BTHSD