PENGAKUAN HAK MASYARAKAT TERHADAP LAHAN EKS HAK GUNA USAHA LABUHAN MERAK DAN GUNUNG MASIGIT DI TAMAN NASIONAL BALURAN
Kusuma Rahmawati, Lies Rahayu WF
2010 | Skripsi | S1 KEHUTANANKonflik penguasaan lahan Labuhan Merak dan Gunung Masigit oleh masyarakat eks penggarap dan masyarakat pendatang menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh pengelola Taman Nasional Baluran. Konflik ini secara langsung dan tidak langsung telah mempengaruhi kelestarian dan keutuhan Taman Nasional Baluran sehingga diperlukan penelitian mengenai bentuk-bentuk pengakuan hak masyarakat terhadap Labuhan Merak dan Gunung Masigit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengakuan hak masyarakat terhadap lahan eks Hak Guna Usaha Labuhan Merak dan Gunung Masigit dan menggali aspirasi masyarakat terhadap penyelesaian konflik penguasaan lahan eks Hak Guna Usaha Labuhan Merak dan Gunung Masigit di Taman Nasional Baluran. Penelitian ini menggunakan metode survey yaitu penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Dalam penelitian ini data persepsi dan aspirasi dilakukan dengan kuisioner terbimbing, memberikan pertanyaan kuisioner mendengarkan jawaban responden, dan melakukan pengamatan di lapangan. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara deskripsi statistik dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk pengakuan hak masyarakat terhadap kawasan Labuhan Merak dan Gunung Masigit adalah transaksi ganti rugi tanpa disertai surat tanah yang dilakukan oleh masyarakat eks pekerja HGU (100%), masyarakat di luar eks pekerja PT. Gunung Gumitir (75%), pembangunan perumahan tidak permanen, semi permanen dan permanen dalam kawasan, pembangunan fasilitas umum, pengolahan lahan pertanian serta usaha penggembalaan ternak yang dilakukan di Taman Nasional Baluran.Masyarakat berkeinginan untuk tetap bermukim di Labuhan Merak dan Gunung Masigit dan menyatakan apabila kemungkinan dilaksanakan upaya relokasi dari pihak pengelola Taman Nasional Baluran mayoritas masyarakat bersedia dengan syarat ganti rugi yang sepadan dan dipindahkan bersama warga yang lain dari kawasan tersebut.
The land mastery conflict of Labuhan Merak and Gunung Masigit by the ex- labor and the comers become one of the problems that is faced by Baluran National Park manager. This conflict has influenced the sustainability and wholeness of Baluran National Park directly and indirectly so it needs a research for knowing the society right claim toward Labuhan Merak and Gunung Masigit itself. The goals of this research are to know the society right claim toward extenure by long lease right land Labuhan Merak and Gunung Masigit and to know about society aspiration toward the solution to finish the land mastery conflict Labuhan Merak and Gunung Masigit in Baluran National Park. This research used survey method, which takes samples from the population and uses questionnaire as the primary data collector. In this research, data about society perception and aspiration was taken by guided questionnaire, asking questions of questionnaires, listening the answer of respondents, and observation. Data which have been collected was analyzed by description statistically and have performed by tables and diagrams. The result of the research shows that the society right claim toward Labuahn Merak and Gunung Masigit are land transaction informally without land sertificate which done by ex-labor PT. Gunung Gumitir (100%), comers non PT. Gunung Gumitir (75%); house building non permanently, mid-permanently and permanently; developing the public facilities; developing the public facilities; and managing the farmland; as well as grazing the domestic animal in national park area.. The society wants to stay in Labuhan Merak and Gunung Masigit and if there is a probability relocation plan they state agree to move from Labuhan Merak and Gunung Masigit with the balance claim and it have to act for all the people in Labuhan Marak and Gunung Masigit
Kata Kunci : pengakuan, masyarakat, Labuhan Merak dan Gunung Masigit