Laporkan Masalah

SINERGISME AGLOMERASI INDUSTRI DAN EKONOMI LOKAL DI KABUPATEN SEMARANG

R. AGUNG PANGARSO, Dr. R. Suharyadi, M.Sc ; Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc

2018 | Disertasi | DOKTOR ILMU GEOGRAFI

Urbanisasi dan industrialisasi merupakan fenomena yang sedang terjadi pada kota-kota metropolitan, termasuk Kabupaten Semarang sebagai bagian Metropolitan Semarang. Kabupaten Semarang di satu sisi masih mengalami masalah ekonomi lokal seperti pemerataan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja, sehingga kajian aglomerasi industri yang bersinergi dengan ekonomi lokal menarik dilakukan. Penelitian bertujuan: (1) mengkaji pola keruangan aglomerasi industri; (2) mengkaji faktor-faktor utama ekonomi lokal dan pengaruhnya terhadap aglomerasi industri; dan (3) mengkaji sinergisme aglomerasi industri dan ekonomi lokal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan variabel data geografis dan tenaga kerja Industri Besar dan Sedang (IBS), data Industri Kecil (IK) terkait, serta variabel ekonomi lokal. Analisis dilakukan pada tingkat meso yaitu wilayah kabupaten dan kecamatan. Metode analisis pola keruangan menggunakan Nearest Neighbor Analysis, Indeks Ellison dan Glaeser (EG), dan Indeks Spesialisasi. Faktor-faktor ekonomi lokal diukur menggunakan Analisis Faktor dan pengaruhnya terhadap aglomerasi industri diukur dengan analisis regresi spasial menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR), serta analisis deskriptif kuantatif-kualitatif untuk mengidentifikasi sinegisme aglomerasi industri dan ekonomi lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola keruangan aglomerasi IBS di Kabupaten Semarang membentuk pola sebaran geografis yang mengelompok (clustered), beraglomerasi kuat, dan terspesialisasi secara sektoral di kecamatan tertentu pada sub-sektor industri makanan, minuman, pakaian jadi, barang galian bukan logam, dan furnitur. Kekuatan aglomerasi dan spesialisasi sektoral menggam-barkan spillover dalam bentuk keterkaitan antarperusahaan, kesempatan kerja, dan alih pengetahuan. Faktor-faktor utama ekonomi lokal berpengaruh positif terhadap aglomerasi industri yaitu (1) wilayah peternakan dan hortikultura mempengaruhi aglomerasi industri makanan; dan (2) wilayah perkotaan dan industri mempengaruhi aglomerasi industri pakaian jadi. Keterkaitan industri makanan dengan ekonomi lokal berbasis pertanian (hortikultura dan peternakan) menggambarkan integrasi spasial atau keterkaitan wilayah perdesaan dan perkotaan. Keterkaitan industri pakaian jadi yang footloose dengan wilayah perkotaan dan industri menunjukkan ketergantungan yang besar dengan pemasok dan pasar internasional. Sinergisme aglomerasi industri makanan dan pakaian jadi dengan ekonomi lokal secara keruangan dapat dikembangkan dalam kerangka klaster (cluster) industri yang tidak terbatas pada IBS tetapi juga melibatkan IK dan sektor lain yang berkaitan. Sinergisme secara fungsional perlu memperhatikan aspek pasar, keterkaitan industri dan jasa pendukung, peningkatan nilai tambah, dan kolaborasi lintas-aktor. Sinergi antarsektor tersebut dapat menjadi masukan dalam strategi pembangunan wilayah.

Urbanization and industrialization is an actual phenomena in metropolitan cities, including Semarang District as a part of Semarang Metropolitan. Semarang District in the other side is still facing local economic problems such as inequality of income distribution and insufficient employment creation. In this context, it is interesting to identify the synergism of industrial agglomeration and local economy in the region. This research aims: (1) to identify the spatial patterns of industrial agglomeration; (2) to identify the main factors of the local economy and how do they determine the industrial agglomeration; and (3) to identify the synergism of industrial agglomeration and local economy. The research uses variables of geographical data and workers of Large and Medium Industries (LMI), related Small Industries (SI), and local economy. Analysis are done in the meso-level: district and sub-district level. Nearest Neighbor Analysis, Ellison and Glaeser Index (EG), and Specialization Index are used to analyze the spatial pattern of industrial agglomeration. Factor Analysis is used to identify the main factors of local economy, and spatial regression using Geographically Weighted Regression (GWR) to identify how the main local economy factors determine the industrial agglomeration. Quantitative-qualitative descriptive analysis are used to identify the synergism of industrial agglomeration and local economy. Result shows LMI in Semarang District geographically form clustered (agglomerated) pattern, strongly agglomerated and highly specialized in some sub-district occurs in sub-sectors: food; beverages; wearing apparel; non-metal mining; and furniture Industry. The strength of agglomeration and sectoral specialization reflects the spillover in inter-firm relationship, employment opportunity, and knowledge transfer. The main factors of the local economy that determine the industrial agglomeration are: (1) factors of livestock and horticulture region positively effect to the food industry agglomeration; and (2) factors of urban and industrial region positively effect to the wearing apparel industry agglomeration. The linkage of the food industry with the agriculture-based local economy (horticulture and livestock) illustrates the spatial integration or linkages between rural and urban areas. The linkage of the apparel industry that dominantly footloose with urban and industrial areas shows a great dependence on international markets and suppliers. The synergism of industrial agglomeration and local economy occurs in food and wearing apparel industry spatially can be developed in the industrial clusters framework. It integrates LMI and related SI as well as other related sectors. The synergism functionally needs to consider the market, industrial relationship, inter-actors collaboration, and increasing value added. Inter-sector synergy will be an important recommendation for the regional development strategy.

Kata Kunci : aglomerasi industri; ekonomi lokal; pola keruangan; sinergisme

  1. S3-2018-357241-abstract.pdf  
  2. S3-2018-357241-bibliography.pdf  
  3. S3-2018-357241-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2018-357241-title.pdf