Laporkan Masalah

POLITIK PAKAIAN PADA PILKADA NTB TAHUN 2013

DESI KEMALA SARI, Dr. Amalinda Savirani, M.A

2018 | Tesis | MAGISTER POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Penelitian ini membahas tentang keterkaitan fashion dalam dunia politik atau tentang politik pakaian. Ketertarikan penulis dalam mengkaji topik ini dengan melihat pada semakin mencolok atau kontrasnya penampilan fisik para politisi, dimana pakaian yang mereka kenakan menjadi begitu politis terutama ketika memasuki momen pemilihan umum. Pakaian oleh politisi dijadikan sebagai alat politik yang membantu memperkuat berbagai agenda politik mereka. Penelitian ini kemudian menyoroti tentang politik pakaian yang berlangsung dalam Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi NTB tahun 2013. Penelitian ini akan melihat bagaimana kandidat peserta Pilgub NTB tahun 2013 menggunakan pakaiannya sebagai alat politik yang berfungsi sebagai tanda (simbol) guna menyelipkan berbagai makna pesan yang tersusun untuk mengonstruksi citra diri mereka agar dapat merebut simpati dan dukungan masyarakat. Yang kemudian menjadi objek penelitian yakni pakaian yang dikenakan oleh kandidat dalam gambar atau foto resmi yang dikeluarkan oleh KPUD Provinsi NTB yang sekaligus menjadi tanda gambar pada lembar surat suara. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kulitatif. Didalamnya menggunakan analisis semiotika dari Roland Barthes tentang "two order of significations" atau dua tahapan pemaknaan dari suatu tanda yang terdiri dari tataran denotasi dan konotasi untuk dapat menguak makna dari pakaian yang dikenakan oleh kandidat peserta Pilgub NTB 2013 serta menganalisa citra yang ingin dikonstruksi oleh para kandidat melalui pakaian mereka. Penelitian ini sendiri menggunakan dua teknik pengumpulan data utama, yakni melalui pengamatan semiotika pakaian dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakaian benar dimanfaatkan oleh kandidat Pilgub NTB tahun 2013 sebagai alat politik yang berfungsi sebagai tanda (simbol), dimana didalam pakaian yang dikenakan oleh para kandidat terselip berbagai makna pesan yang hendak disampaikan kepada masyarakat (pemilih). Makna-makna atau pesan yang terselip dalam pakaian tersebut pada akhirnya tersusun untuk membentuk citra atau gambaran tertentu tentang diri kandidat. Seperti yang diungkapkan oleh para kandidat/tim sukses Pilgub NTB tahun 2013, bahwa pakaian yang dikenakan oleh kandidat memang secara khusus dipilih dan dipersiapkan, bahkan melewati proses diskusi bersama tim kampanye untuk menentukan pakaian atau konsep pakaian seperti apa yang akan dikenakan dalam gambar surat suara guna membangun citra tertentu yang diinginkan. Setiap masing-masing kandidat/pasangan kandidat memiliki citra tertentu yang ingin dibangun dan ditonjolkan melalui pakaiannya dengan alasan atau latar belakang tersendiri membentuk citra tersebut. Hal ini yang kemudian menjadi temuan dalam penelitian ini, bahwa ragamnya makna pesan atau citra yang hendak dibentuk atau ditonjolkan oleh masing-masing kandidat melalui penampilannya tidaklah sembarangan, tetapi dipengaruhi oleh corak politik (konteks politik) atau karakter masyarakat (tipologi pemilih) sebagai dasar pertimbangan agar dapat merebut simpati dan dukungan masyarakat.

This study discusses about the relevance of fashion in the world of politics or about clothing politics. The author's interest in this topic of thesis is looking for something that more striking or contrasting physical appearance of politicians where the outfit that they wear become so political especially when entering the moment of elections. This research is also highlighting the clothing politics that took place in the Governor and Vice Governor Election in NTB at 2013. This study will look at how the candidates of the governor election in NTB at 2013 used their clothes as political tools that function as symbols to insert various message meanings. It arranged to construct their self-image in order to win sympathy and community support. Which later became the object of research, namely clothing worn by candidates in official drawings or photos issued by the NTB Province Election Commission which at the same time became a sign on the ballot sheet. This research is a type of qualitative research. In using semiotic analysis from Roland Barthes about "two order of significations" or two stages of the meaning of a sign that consists of denotation and connotation level to be able to uncover the meaning of the clothes worn by candidates for governor election in NTB at 2013 and analyze the images that want to be constructed by the candidates through their clothes. Then the results showed that the right clothing was utilized by the candidates of governor election in NTB at 2013 as a political tool that functions as a sign (symbol), which in the clothes worn by candidates is tucked into various meanings of the message to be conveyed to the society (voters). The meanings or messages tucked into the clothes are ultimately arranged to form a certain image or image of the candidate. As expressed by the candidates of governor election in NTB at 2013, the clothes that worn by candidates were specifically chosen and prepared, even through the process of discussion with the campaign team to determine what clothing or clothing concepts would be worn in the ballot picture for build the desired image. Each candidate has a certain image that they want to build and highlight through their clothes with their own reasons or backgrounds forming the image. Then, From this, it becomes the finding in this study, that the variety of meanings of the message or image that each candidate wishes to shape or highlight through his appearance is not arbitrary, but is influenced by political style (political context) or community character (voter typology) as a basis for consideration in order to win the sympathy and support of the community.

Kata Kunci : Politik Pakaian, Kandidat, Semiotika, Citra

  1. S2-2018-388932-abstract.pdf  
  2. S2-2018-388932-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-388932-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-388932-title.pdf