Laporkan Masalah

PERTARUNGAN KUASA ANTARAGEN: STRATEGI PENEMPATAN KAPITAL DALAM ARENA WISATA GOA PINDUL

VICTORIA SUNDARI H, Prof. Dr. Susetiawan, SU: Dr. Muhammad Supraja, M.Si.

2018 | Disertasi | DOKTOR SOSIOLOGI

Studi ini menegaskan bahwa pengembangan desa wisata diwarnai dengan pertarungan kuasa antaragen. Pertarungan kuasa tidak hanya melibatkan agen utama, tetapi juga melibatkan multiagen yang kompleks. Tujuan studi ini untuk memetakan pertarungan kuasa antaragen, kepemilikan kapital, strategi perebutan, dan penempatan kapital paraagen, serta berbagai pencapaian aktor dalam pertarungan kuasa di Desa Wisata Bejiharjo, Gunungkidul, Yogyakarta. Peneliti menggunakan penelitian etnografi dibantu dengan teknik statistik Multiple Corespondence Analysis (MCA) untuk menempatkan keserupaan aktor-aktor berdasarkan kelas atau kelompok dan korespondensi mereka. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi, dan kuesioner. Hasil pengumpulan data diolah, dideskripsikan, didialogkan dengan teori, dan diinterpretasikan secara terus menerus dengan menggunakan siklus interaktif dalam analisis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertarungan kuasa terjadi antara Kelompok Usaha Wisata Dominan, Kelompok Usaha Wisata Privat, dan Kelompok Usaha Wisata Subordinat. Pertarungan tersebut bertujuan untuk mengontrol dan menguasai sumber daya material dan simbolis. Tesis Bourdieu membantu untuk memetakan, menjelaskan, dan memahami arena, pemilikan kapital, struktur pertarungan, habitus, strategi yang dipergunakan, serta hasil, dan posisi kuasa para agen. Namun, tesis Bourdieu mempunyai keterbatasan dalam menjelaskan tentang arena wisata Goa Pindul sebagai arena abu-abu (grey area) atau wilayah tidak bertuan. Arena wisata Goa Pindul menghadapi dua bentuk ketidakpastian struktur yaitu tumpang tindih struktur kepemilikan kawasan dan tidak terdefinisikannya aliran air dalam Goa Pindul sebagai air sungai atau bukan. Hal ini menjadikan arena wisata Goa Pindul bersifat arena abu-abu. Pertarungan dalam arena abu-abu ini menjadi menarik untuk diperhatikan, karena terjadi perubahan pola relasi kepemilikan kapital dan kekuasaan yang didefinisikan secara dinamis dan cair. Relasi kapital ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik dalam arena wisata sebagai arena abu-abu membuka peluang bagi agen untuk bisa memiliki arena wisata sebagai kapital ekonomi milik agen. Selain itu, akumulasi kapital budaya yang berperan dalam membangun lintasan naik, diruntuhkan dengan hilangnya siginifikansi keahlian bersertifikat dalam arena wisata. Pola relasi kapital sosial dan arena ditentukan pula oleh kapital ekonomi dan budaya dimana klaim memperjuangkan masyarakat dan kesejahteraan, serta ketidakharusan memiliki keahlian untuk masuk arena wisata, telah menguatkan pertarungan kuasa antaragen. Penggunaan strategi seperti konservasi, suksesi, dan subversi memungkinkan terjadinya kepemilikan kekuasaan turun-naik. Kalah menang dalam pertarungan berpeluang terjadinya perubahan struktur dominan dalam arena pertarungan, bahkan agen dapat kehilangan kuasanya. Fenomena yang tidak ditemukan dalam analisis Bourdieu adalah terjadinya dekapitalisasi yang berpotensi pada pertarungan terus-menerus, mengarah pada pertikaian, dan berpeluang menghasilkan keruntuhan agen dalam arena wisata.

This study demonstrates that the development of tourism village is characterized by the power struggle between agents. The power struggle involves not only the main agents, but also complex multi agents. This study aims to examine the struggle of power between agents, capital ownership, struggle strategy and capital assignment of the agents, and various achievements of the actors in the struggle of power at the tourism village of Bejiharjo, Gunungkidul, Yogyakarta. The researcher employed ethnographic design with Multiple Correspondence Analysis (MCA) to categorize the similarities of actors based on class or group and their correspondence. Research data were collected through indepth interviews, observations, documentation study, and a questionnaire. The collected research data were described and framed with the theories, and further interpreted continuously using interactive cycle in the research analysis. The results indicate that power struggle occurs, involving the dominant tourism business group, private tourism business group, and subordinate tourism business group. The struggle aims to control material and symbolic resources. Bourdieus thesis is able to identify and explain the arena, capital ownership, the structure of the struggle, habitus, the strategies used, results and the position of agents. However, the thesis still has some limitations in explaining the status of Goa Pindul as a grey area or non-managed area. Goa Pindul tourism arena faces two forms of structural uncertainty, namely the overlapping ownership and the undefined water flow in Goa Pindul, whether or not it is river water. This makes Goa Pindul become a grey area. The power struggle in the grey area is interesting to investigate as there has been a change of capital ownership relation pattern and power which have been dynamically and fluidly defined. The relationships of economic, social, cultural and symbolic capitals in the tourism arena as a grey area provide opportunities for agents to own the tourism arena as agent-owned economic capital. Besides that, the accumulation of cultural capital playing an important role in building trajectories is undermined by the loss significance of certified expertise in the tourism arena. The relationship pattern of social capital and arena is determined by economic and cultural capital, where the claim that it fights for the society and prosperity, and the non-obligatory expertise to enter the tourism arena has empowered the power struggle between agents. The implementation of such strategies as conservation, succession, and subversion allows dynamic power ownership. The win and loss in the struggle provide an opportunity for the dominant structure change in the arena to take place. Even, agents can lose their power. The phenomenon not identified in the Bourdieuan analysis is decapitalisation which potentially causes continuous struggle or battle, leading to disputes and the collapse of agents in the tourism arena.

Kata Kunci : Pertarungan kuasa, Bourdieu, kapital, arena, habitus

  1. S3-2018-353962-abstract.pdf  
  2. S3-2018-353962-bibliography.pdf  
  3. S3-2018-353962-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2018-353962-title.pdf