Persepsi Pembudidaya Udang Dalam Pengembangan Usaha Tambak Berkelanjutan Di Pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta Dan Jawa Tengah
PERBAWA AGUNG IMAN T, Suadi, S. Pi., M.Agr.Sc., Ph.D.; Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU PERIKANANPerkembangan teknologi budidaya dan permintaan pasar udang yang meningkat terus mendorong ekspansi budidaya udang termasuk di lahan berpasir atau lahan marjinal di Pantai Selatan Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng). Budidaya udang ini di satu sisi memberikan kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat pesisir dan negara, di sisi lain menghasilkan eksternalitas negatif terhadap lingkungan karena pengelolaan yang kurang bertanggungjawab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kelompok dan persepsi pembudidaya udang tentang pola budidaya udang yang berkelanjutan dan sikap serta tindakan mereka dalam pengelolaan usaha budidaya udang secara berkelanjutan di DIY dan Jateng. Penelitian dilakukan di lokasi terpilih, yaitu: (1) Pantai Pandansimo, Desa Poncosari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul; (2) Pantai Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo; dan (3) Pantai Keburuhan, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, dengan total responden 80 pembudidaya udang. Persepsi diukur dengan Skala Likert yang meliputi; a. empat peran kelompok, yang meliputi 4 (empat) aspek: kelas belajar (5 sub-indikator), wahana kerjasama (4 sub-indikator), unit produksi (4 sub-indikator), serta unit usaha (5 sub-indikator) dan; empat dimensi budidaya udang berkelanjutan, yang meliputi 5 (lima) aspek: teknis (7 sub-indikator), ekonomi (9 sub-indikator), lingkungan (7 sub-indikator), sosial (6 sub-indikator), serta kelembagaan (5 sub-indikator). Hasil penelitian mengenai peran kelompok menunjukkan bahwa aspek kelas belajar (66,62%) secara akumulatif lebih dominan, kemudian diikuti peran kelompok sebagai wahana kerjasama, unit produksi dan unit usaha. Hasil penelitian mengenai budidaya berkelanjutan menunjukkan bahwa aspek ekonomi secara akumulatif memiliki nilai tertinggi (0,76), sebaliknya aspek kelembagaan dan lingkungan dengan nilai terendah, yaitu masing-masing 0,64 dan 0,67. Hasil ini menunjukkan bahwa perhatian utama usaha ini masih pada aspek ekonomi, sedangkan aspek lingkungan dan kelembagaan masih belum menjadi prioritas. Karena itu, pemahaman terhadap praktek budidaya udang berkelanjutan masih perlu ditingkatkan.
The development of cultivation technology and market demand increased shrimp continues to push the expansion of shrimp farming included on sandy land or marginal land on the South Coast of Yogyakarta (DIY) and Central Java (Central Java). Shrimp farming is on one hand a positive contribution to the economy of coastal communities and the state, on the other hand generate negative externalities on the environment because less responsible management. This study aims to determine the role of the group and the perception of shrimp farmers on sustainable shrimp farming patterns and attitudes and their actions in the management of shrimp farming in a sustainable manner in Yogyakarta and Central Java. The study was conducted at selected sites, namely: (1) Pandansimo Beach, Sanden, Bantul; (2) Sand Beach Kadilangu, Temon, Kulon Progo; and (3) Keburuhan Beach, District Ngombol, Purworejo, with a total of 80 respondents shrimp farmers. Perception is measured by Likert Scale which include; a. four role group, which includes four (4) areas: classroom learning (five sub-indicators), a vehicle for cooperation (4 sub-indicators), the unit of production (4 sub-indicators), as well as business units (five sub-indicators) and; four dimensions of shrimp aquaculture sustainability, which includes five (5) areas: technical (7 sub-indicators), economic (9 sub-indicator), the environment (7 sub-indicators), social (6 sub-indicators), and institutional (5 sub-indicator). Results of research on the role of a group show that aspects of classroom learning (66.62%) cumulatively more dominant, followed by the group's role as a vehicle for cooperation, production units and business units. Results of research on sustainable farming show that the economic aspects cumulatively have the highest score (0.76), whereas the institutional and environmental aspects with the lowest value, respectively 0.64 and 0.67. These results indicate that this business is still a major concern on the economic, environmental and institutional aspects while still not a priority. Therefore, an understanding of sustainable shrimp farming practices need to be improved.
Kata Kunci : berkelanjutan, budidaya, DIY, Jawa Tengah, kelompok, persepsi, tambak, udang