INVISIBLE GATED COMMUNITY
DERIS FRIHASTIN W, Hakimul Ikhwan, M.A. Ph.D
2018 | Tesis | MAGISTER SOSIOLOGIPenelitian ini dilakukan karena munculnya enclave dalam sebuah lingkungan sosial yaitu adanya kelompok salafi dan non salafi di Wonosalam Yogyakarta. Melalui penelitian ini penulis ingin mengetahui proses terbentuknya salafi di Wonosalam dan bentuk dari interaksi antara warga asli dan salafi terjadi integrasi atau disintegrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan interaksi warga Sukoarjo, dengan jamaah Al-Anshar, juga menggali lebih dalam alasan menjadi jamaah Al-Anshar dan alasan bisa bermukim di Sukoarjo Ngaglik Sleman, Mengetahui apakah ada integrasi atau disintegrasi warga Wonosalam Sukoarjo dengan jamaah Al-Anshar dan adanya pondok pesantren di Wonosalam, Sukoarjo, Ngaglik, Sleman. Penelitan ini menggunakan metode penelitian Kualitatif, dengan pendekatan teori dari Laclau dan Mouffe. Identitas salafi sebagai kelompok baru dengan menonjolkan identitasnya sebagai bentuk yang berbeda dengan kelompok non salafi misalnya kelompok salafi yang memanjangkan jenggotnya dan menggunakan celana diatas mata kaki dan sedangkan kelompok non salafi yang sama-sama beragama Islam akan tetapi cara berpakainya berbeda. Proses negosiasi kelompok salafi dan non salafi tahun ke tahun dari 1999 hingga 2003 dengan non salafi yang menentang hadirnya salafi di Wonosalam. Puncaknya kedua kelompok saling mempertahankan identitas masing-masing dan tetap hidup dalam kawasan yang sama. Dari masing-masing kelompok dilihat dengan teori Laclau dan Mouffe nampak identitas salafi dan non salafi terdapat berbedaan. Sehingga diperoleh kesimpulan relasi kelompok salafi dengan non salafi di Wonosalam terdapat batas secara ideologi meskipun secara relasi mereka dalam kondisi stabil sehingga kedua kelompok salafi dan non salafi dalam pola relasi Invisible Gated Community.
The idea of this research was based on the emergence of an enclave within a social space, which manifested by the Salafi and Non-Salafi in Wonosalam, Yogyakarta. Through this research, I would like to investigate the establishment process of Salafi in Wonosalam, and the integration or disintegration within the interaction process between native and the members of Salafi. The aim of this research is to build a map of Sukoharjo people. interaction with Al-Anshar woshippers, and also the reason behind their residential in Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Beside, to investigate the integration or disintegration that occures between native and Al-Anshar worshippers and the existence of Islamic boarding school in Wonosalam, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. This research is using qualitative method, and also Laclau and Mouffe's theoretical approach. Salafi identity as a new social group, distinct from non-Salafi, by the length of their beard and the hanging pants they wear. While non-Salafi, as a same member of a broader religious group, Islam, appear differently. The negotiation process between Salafi and non-Salafi, which reject the presence of Salafi group in Wonosalam, occurs during 1999 until 2003. After the negotiation process, even they live within a same geographic space, each group keep maintain their own identity. The analysis of characteristic of each group using Laclau and Mouffe's theory, reveals that the identity of both Salafi and non-Salafi is different. Therefore could be conclude that although the relation between Salafi and non-Salafi in Wonosalam is relatively stable, but there is an ideological barrier between Salafi and non-Salafi in Wonosalam, and thus they live within a relation pattern of Invisible Gated community.
Kata Kunci : Enclave, Islam, Salafi