DAMPAK PERUBAHAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG TERHADAP PENGHIDUPAN PENYADAP GETAH PINUS DI RPH MANGUNAN BDH BANTUL KULONPROGO KPH YOGYAKARTA
HILMA NADHIFA M, Slamet Riyanto S.Hut., M.Si
2018 | Skripsi | S1 KEHUTANANPada tahun 2015 KPH Yogyakarta memutuskan untuk merubah pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam bentuk penyadapan getah pinus menjadi pemanfaatan wisata pada kawasan hutan lindung di RPH Mangunan. Perubahan pemanfaatan hutan tersebut mengakibatkan perubahan penghidupan bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupannya dari hutan. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengkaji (1) perubahan akses penyadap getah pinus (2) perubahan aktivitas untuk memperoleh pendapatan penyadap getah pinus. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan metode survei, melibatkan 56 responden dari total 69 penyadap getah pinus. Jumlah sampel dihitung dengan formula Slovin, dengan pengambilan secara acak. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara terstruktur secara mendalam, observasi dan dokumentasi. Perubahan penghidupan dianalisis dengan menggunakan metode komparasi yaitu perbandingan akses, aktivitas, besaran dan kontribusi pendapatan dari sumberdaya hutan antara pemanfaatan hutan untuk penyadapan getah pinus dengan pemanfaatan hutan untuk wisata alam. Temuan-temuan dalam penelitian ini adalah (1) Terjadi perubahan intensitas akses dari kegiatan penanaman dan pengambilan hijauan makan ternak (HMT), pengolahan di lahan tumpangsari, pengambilan kayu bakar dan pemungutan hasil hutan non kayu. (2) Sebagian besar penyadap getah pinus (64%) beralih aktivitasnya menjadi pengelola hutan wisata dan sisanya (36%) aktivitas mata pencahariannya tidak terkait secara langsung dengan pengelolaan sumberdaya hutan. Rata-rata pendapatan penyadap getah pinus adalah Rp12.667.711/tahun, dimana 38% (Rp12.667.711) bersumber dari sumberdaya hutan. Rata-rata pendapatan penyadap getah pinus yang beralih menjadi pengelola wisata meningkat menjadi Rp18.441.429/tahun, dimana 63% (18.441.429) bersumber dari sumberdaya hutan.
In 2015 The KPH Yogyakarta decided to change the utilization of non-timber forest products in the form of pine sap tapping into tourism utilization in protected forest area of RPH Mangunan. The changes in forest utilization caused changes of livelihoods for society who depending their lives on forests. For this reason, the research aimed to examine (1) the changes in pine sap tappers access (2) the changes in pine sap tappers activity to get income. The basic method used in this research was a survey method approach, involved of 56 respondents from 69 of pine sap tappers. The number of samples was calculated by Slovin formula with simple random sampling withdrawal. This research used structured in depth interviews, observation, and documentation as data collection techniques. The changes of livelihood was analyzed by comparative methods to identify the access changes, activity, amount and contribution of income from forest resources between forest utilization for pine sap tapping and forest utilization for ecotourism. The research findings are (1) there is a change in access intensity from planting and retrieval activity of animal feed forages (HMT), processing activity at intercropping land, taking firewood, and collecting non-timber forest products (NTFPs). (2) Most of pine sap tappers (64%) switched their activities become tourism forest manager and the residual (36%) of livelihood activity are not directly related with forest resource management. The average income of pine sap tappers Rp12.667.711/year, which is 38% (Rp12.667.711) came from forest resources. The average income of pine sap tappers who involved in tourism manager increased to Rp18.441.429/year, which is 63% (Rp18.441.429) came from forest resources.
Kata Kunci : penghidupan, perubahan akses, perubahan akvitas, sumber-sumber pendapatan, pemanfaatan sumberdaya hutan; livelihood, access changes, activity changes, sources of income, forest resources utilization.