THE IDEA OF INCLUSIVE CITY IN YOGYAKARTA -A PUBLIC PERCEPTION
HONAS FIRDAUS, M. Sani Roychansyah, S.T., M.Eng., D.Eng
2018 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAPada tahun 2015 Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan empat kecamatan yaitu Wirobrajan, Gondokusuman, Kotagede dan Wirobrajan sebagai pilot proyek kebijakan pembanguan dengan konsep kota inklusi. Kota inklusi adalah kota dimana semua masyarakat mampu hidup bersama-sama dengan aman dan nyaman, serta mempuntai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi penuh dalam dimensi spasial, sosial dan ekonomi tanpa adanya diskriminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembangunan yang telah ada sejalan dengan prinsip pembangunan inklusif dengan cara mencari persepsi masyarakat terhadap kebijakan pembangunan yang berjalan selama ini. Salah satunya adalah dengan melihat persepsi masyarakat terhadap pembangunan di kota Yogyakarta dari perspektif tiga dimensi kota inklusif yang dibagi dalam beberapa indikator. Selain itu, perlu diketahui persepsi stakeholder dan orang tua mengenai kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta yang telah mengadopsi konsep inklusi pembangunan, yaitu kebijakan pendidikan inklusif yang telah berjalan dari tahun 2008. Metodologi penelitian ini menggunakan metode campuran, salah satu metode menganalisisnya adalah Importance Pemformance Analysis (IPA). Metode ini digunakan untuk mengetahui indikator yang berkinerja baik dan indikator yang perlu ditingkatkan dan membutuhkan tindakan perbaikan secepatnya. IPA tidak hanya untuk menguji kinerja indikator tetapi juga pentingnya indikator sebagai faktor penentu dalam kepuasan atau penilaian masyarakat. Hasil penelitian menunjukan tingkat kepentingan untuk semua indikator adalah 4,49 dan tingkat kinerjanya adalah 3,69. Dengan skor kinerja masih di bawah skor kepentingan, dapat disimpulkan bahwa tingkat inklusifitas Kota Yogyakarta masih belum mencapai 100%. Dapat disimpulkan bahwa kinerja pembangunan belum memenuhi harapan masyarakat. Oleh karena itu, indikator di kuadran A dan C perlu ditingkatkan dan membutuhkan perbaikan. Dari penelitian ini juga disimpulkan bahwa hanya 53% orang tua merasa puas terhadap program pendidikan inklusi, sementara 38% menyatakan cukup, dan 9% tidak puas. Selain itu, berdasarkan persepsi guru, menyatakan bahwa output dalam hal fasilitas, jumlah guru profesional dan penilaian berkelanjutan kondisi anak-anak dan kinerja pendidikan sangat tidak memadai.
In 2015 the Yogyakarta Local Government determined four sub-districts, Wirobrajan, Gondokusuman, Kotagede and Wirobrajan as pilot�s project of inclusive city. Inclusive city is a city where all resident is able to live together safely and comfortably, and have equal opportunities to fully participate in the spatial, social and economic dimensions without discrimination and exclusion. This research aims to find out whether the existing development is in line with the principles of inclusive city by looking for public perceptions of development policies that have been running. It can be analyzed from people's perceptions of development in the city of Yogyakarta from the perspective of three dimensions of inclusive cities which are divided into several indicators. In addition, it is important to know the perceptions of stakeholders and parents regarding the policy of the Yogyakarta Local Government that has adopted the concept in education sector since 2008 in term of inclusive education. This research methodology uses mixed methods, one method is Importance Performance Analysis (IPA) This method is used to find out which indicators are performing well and indicators that need to be improved and need corrective action as soon as possible. IPA is not only to test the performance of indicators but also the importance of indicators as a determining factor in community satisfaction. The results showed that the importance level was 4.49 and the performance level was 3.69. With the score of performance still below the score of importance, it is concluded that the inclusiveness level of Kota Yogyakarta is still not reaching 100%. It can be concluded that development performance has not met the importances of the community. Therefore, indicators in the A and C quadrants need to be improved. From this study it was also concluded that only 53% of parents were satisfied with the inclusive education program, while 38% stated enough, and 9% were dissatisfied. In addition, based on teacher perceptions, stating that output in terms of facilities, the number of professional teachers and continuous assessment of children 's conditions and educational performance are remarkably insufficient
Kata Kunci : inclusive city, Importance Performance Analysis, perception, Yogyakarta