NON-MOTORIZED TRANSPORTATION (NMT) POLICY DEVELOPMENT IN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) AREA: CASE STUDY OF BLOK M, JAKARTA
TOMI HENDRATNO, Dr. Ir. Dewanti, M.S
2018 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTADalam beberapa tahun terakhir, arah pengembangan transportasi, terutama di Asia, telah lebih terfokus pada transportasi bermotor daripada transportasi tak bermotor (NMT). Kota-kota besar di Indonesia menghadapi masalah yang timbul dari banyaknya penggunaan kendaraan bermotor. Konsep pengembangan berbasis transit (TOD) mengintegrasikan tata guna lahan (kepadatan tinggi, campuran) dengan perencanaan transportasi (transportasi publik) untuk mengurangi dampak negatif kendaraan bermotor, dengan mendorong mobilitas pengguna melalui berjalan atau bersepeda. Namun, pengembangan NMT kurang mendapatkan perhatian, terutama di area TOD. Penelitian ini berusaha untuk mencari kendala dalam pengembangan kebijakan NMT dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengguna untuk menggunakan NMT di area TOD dengan studi kasus area Blok M. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan survei kuesioner. Tiga aspek dianalisis untuk menjelaskan masalah, yaitu: 1) Perilaku perjalanan, 2) Lingkungan binaan (fasilitas), dan 3) Aspek hukum dan kelembagaan. Analisis menunjukkan bahwa preferensi transportasi bermotor, kepemilikan kendaraan pribadi, kondisi lingkungan terbangun, dan kurangnya koordinasi antar lembaga menjadi penghambat dalam pengembangan kebijakan NMT. Meskipun demikian, keinginan pengguna untuk berjalan dan bersepeda menunjukkan hasil positif setelah fasilitas diperbaiki. Perbaikan tersebut meliputi desain jalan, aksesibilitas penyandang cacat, dan pencahayaan jalan untuk berjalan. Untuk bersepeda, perbaikan fasilitas meliputi pengaturan lalu lintas, konektivitas jalur-sepeda, jalur sepeda bebas rintangan, aksesibilitas ke transportasi umum, dan tempat parkir sepeda. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini dapat digunakan pada tahapan perumusan kebijakan dalam pengembangan kebijakan terkait NMT.
In recent years, the direction of transportation development, especially in Asia, has been more focused on motorized transportation than on non-motorized transportation (NMT). Major cities in Indonesia are facing problems arising from the extensive use of motor vehicles. The concept of Transit Oriented Development (TOD) is integrating land use (high-density, mixed use) along with transportation planning (public transportation) to reduce the negative impact of motorized transportation. It supports high mobility of users on foot or by bicycle. Yet, the development of NMT does not receive the level of attention it requires, especially in TOD areas. This paper investigates the constraints of NMT policy development and the factors that influence people to use NMT in TOD areas with a case study of Blok M area. This research predominantly employs qualitative methods, conducted through field observation, semi-structured interviews, and questionnaire surveys. Three aspects were analyzed to explain the problems, namely: 1) Travel behavior, 2) Built environment (facilities), and 3) Legal / institutional settings. The analysis shows that the preference of motorized transportation, private vehicle ownership, built environment condition, and lack of coordination between institutions become a deterrent for people to use NMT. However, the likelihood of walking and cycling showed positive results after the improvement of facilities. The improvements include walkway design, universal accessibility, and walkway lighting for walking. For cycling, improvements include traffic calming, bike-lane connectivity, obstacle-free bike lane, accessibility to public transportation, and bike parking space. Based on these findings, this research can be utilized in policy formulating step on the development of NMT policy.
Kata Kunci : non-motorized transportation, walking, cycling, policy development, transit area, Jakarta