Laporkan Masalah

EXIT STRATEGY PEREMPUAN DARI PERKAWINAN ANAK (Studi Kualitatif di Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang)

ADELIA ISMARIZHA, Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA.; Dr. Drs. Abdul Wahab, MPH

2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar Belakang: Perkawinan anak merupakan masalah kesehatan reproduksi karena memperpanjang masa reproduksi terutama pada perempuan yang berisiko mengakibatkan kematian ibu dan bayi. Kemiskinan, peranan gender dalam keluarga, pemahaman keagamaan dan tradisi perkawinan merupakan faktor terjadinya perkawinan anak di Kabupaten Rembang. Dalam kondisi yang demikian, ternyata sebagian perempuan mengambil keputusan untuk keluar dari perkawinan anak. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi strategi pada perempuan yang keluar dari perkawinan anak di Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang. Metode: Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang menggunakan pendekatan studi kasus eksploratoris. Metode pengumpulan data dengan FGD mengenai konsep perkawinan dan perkawinan anak kepada 9 informan, mengambil 6 informan untuk wawancara mendalam mengenai alasan dan strategi informan keluar dari perkawinan anak. Pemillihan informan dilakukan dengan purposive sampling strategy, dengan kriteria perempuan yang tidak menikah di usia anak, berusia 18-24 tahun, lahir dan tumbuh di Kecamatan Sedan dan sudah menikah. Hasil: Perempuan yang tidak menikah di usia anak memiliki persepsi bahwa perkawinan anak adalah hal yang tidak menyenangkan karena tidak dapat menyelesaikan sekolah, tidak dapat menikmati masa remaja dan bermain. Mereka memiliki cultural capital karena memiliki kemampuan berkeinginan berpendidikan dengan harapan mempermudah mendapatkan pekerjaan, memiliki kompetensi merencakaan usia perkawinan ketika sudah siap dan bertanggungjawab, serta memiliki sikap terhadap stigma sebagai strategi untuk tidak menikah di usia anak. Norma menikah mencegah zina dan perjodohan menjadi cultural capital yang menghambat mengambilan keputusan. Mereka memiliki economy capital dari ternak sebagai aset dalam sumber daya ekonomi keluarga. Kebijakan dan program pencegahan perkawinan anak tidak menjadi social capital sebagai strategi perempuan dalam pengambilan keputusan untuk tidak menikah di usia anak. Kesimpulan: Persepsi bahwa perkawinan anak tidak menyenangkan menjadi alasan perempuan untuk tidak menikah di usia anak. Pemberian informasi terkait perkawinan anak dan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual menjadi modal untuk perempuan tidak menikah di usia anak.

Background: Child marriage is a reproductive health problem because it extends the reproductive period, especially in women who are at risk of causing maternal and infant death. Poverty, gender roles in the family, understanding of religion and marriage traditions are factors in the occurrence of child marriage in Rembang Regency. In such conditions, it turns out that some women decide to leave child marriage. Objective: The purpose of this study is to explore strategies for women who come out of child marriage in the District of Sedan, Rembang Regency. Method: This study is a qualitative study that uses an exploratory case study approach. The methods of collecting data uses the FGD on the concept of marriage and child marriage to 9 informants, then 6 informants for in-depth interviews about the reasons and strategies of the informants out of child marriage. The selection of informants was carried out by purposive sampling strategy, with criteria for unmarried women at the age of children, aged 18-24 years, born and growing in Sedan District and married. Result: Child marriage is unpleasant, is the perception of women unmarried at the age of a child, because they cannot to complete school, enjoying adolescence and playing. They have cultural capital because they have the ability to be educated with the hope of making it easier to get a job, have a marriage age planning competence when they are ready and responsible, and have an attitude towards stigma as a strategy to not get married at the age of a child. Married norms prevent adultery and arranged marriage to become cultural capital that hinders taking decisions. They have an economy capital from livestock as an asset in the family's economic resources. Policies and programs to prevent child marriage do not become social capital as a strategy for women in making decisions not to marry at the age of children. Conclusion: Perception that child marriage is unpleasant to be the reason women to get out of the culture of child marriage. Providing sexual and reproductive health education and information about the impact of child marriage is the capital to not get marriage in childhood.

Kata Kunci : exit strategy, perkawinan anak, pengambilan keputusan, exit strategy, child marriage, decision making

  1. S2-2018-403165-abstract.pdf  
  2. S2-2018-403165-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-403165-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-403165-title.pdf