IDENTIFIKASI WARNA KULIT SEBAGAI INDIKATOR PRODUKSI GETAH Pinus merkusii Jungh. et de Vriese DI BKPH SEMPOLAN JEMBER
PIKO SHOREA SILVA W, W.W. Winarni
2011 | Skripsi | S1 KEHUTANANPinus merkusii Jungh. et de Vriese atau sering disebut tusam merupakan salah satu jenis pinus yang tumbuh baik di beberapa tempat di Indonesia, dan termasuk tanaman unggulan yang sangat potensial. Tusam menghasilkan getah yang saat ini merupakan bahan baku utama industri pengolahan gondorukem dan terpentin. Oleh karena itu perlu ada upaya untuk mencari indikator pohon tusam yang dapat menghasilkan getah yang optimal. Salah satu karakter yang mudah untuk dilihat adalah karakter warna kulit batang. Pengambilan sampel dengan purposive sampling sebanyak 60 pohon sampel. Karakter yang diteliti dalam penelitian ini adalah warna kulit (coklat keabuan, coklat gelap dan coklat kehitaman). Masing-masing pohon dilakukan pengeboran sebanyak tiga ulangan dan kemudian pemanenan getah dilakukan pada hari ketiga setelah pengeboran. Diamati pula kondisi cuaca dan kelerengan tanah sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan pada warna kulit coklat keabuan menghasilkan rata-rata produksi getah 8,26 g/3 hari, warna kulit coklat gelap 7,91 g/ 3 hari dan warna kulit coklat kehitaman 8,85 g/3 hari. Hasil analisis varians pada karakter warna kulit tidak dapat digunakan sebagai indikator produksi getah P. merkusii karena hasilnya tidak signifikan yaitu pada taraf uji 0,05.
Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, known as tusam, is one of well-grown species in many sites in Indonesia and regarded as a potential tree. Tusam produces resin as the main raw material of gondorukem and turpentine. Efforts to indicate pine tree which produces resin optimally is necessary. One of character that is easily seen is bark colour character. This research is aimed to examine the accuracy of colour bark as an indicator for pine resin production. Samples were taken by purposive sampling with 60 total of sample trees. The treatment used in this research is bark colour (greyish-brown, dark brown and blackish-brown). Resin was harvested on the third day after drilling. Weather and land gradient were also observed as supporting data. Result of this research shows to bark colour grayish-brown mean produce resin 8,26 g/3 days, bark colour dark brown 7,91 g/3 days and bark colour blackish-brown 8,85 g/3 days. Result of analysis variance shows that the bark character colour can not used as pine resin production indicator because the result was not significant at test level of 0.05.
Kata Kunci : Pinus merkusii, produksi getah, warna kulit.