PENGALAMAN PERAWATAN POSTPARTUM PADA IBU YANG MENGKONSUMSI RUJAK DAN OBAT BALANGA DI KECAMATAN BANDA NEIRA KABUPATEN MALUKU TENGAH
WA MINA LA ISA, Dr. Budi Wahyuni, MM., MA.; Wiwin Lismidiati, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat
2018 | Tesis | MAGISTER KEPERAWATANLatar Belakang: Indonesia merupakan negara kepuluan dan mempunyai suku dan budaya yang berbeda terutama pada perawatan postpartum, yang dimana setiap daerah mempunyai ciri khas. Salah satunya yaitu di Kecamatan Banda Neira Maluku Tengah, yang mempunyai berbagi macam ritual dan pantangan yang harus dilakukan oleh ibu setelah melahirkan. Setelah melahirkanibu diwajibkan untuk mengkonsumsi rujak dan obat balanga yang khusus di racik oleh maibiang, selain mengkonsusmi rujak dan obat balanga ibu postpartum harus mengikuti perawatan setelah melahirkan yang dilakukan oleh maibiang meliputi: perawatan vagina yang menggunakan air panas, pantangan aktivitas, makanan pantangan dan pantangan seksual. Semua ritual yang dilakukan oleh ibu setelah melahirkan membuat ambevalensi saat melakukan perawatan pada ibu setelah melahirkan. Perawatan yang dilakukan dipercaya oleh ibu postpartum dapat menyembuhkan dan menyehatkan ibu pasca melahirkan dan mencegah anak sakit. Tujuan: Mengeksplorasi pengalaman perawatan postpartum pada ibu yang mengkonsusmi rujak dan obat balanga di Kecamatan Banda Neira. Metode: Penelitian ini menggunakan design penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dengan menggunakan panduan wawancara. Jumlah partisipan pada penelitian ini sebanyak 24 orang dan 17 orang dengan hari perkiraan lahir (HPL) antara bulan febuari sampai maret. Tehnik pengambilan partisipan menggunakan purposive sampling dan menggunakan analisis data Cresswell. Hasil: dalam penelitian ini(1) Tahapan tradisi perawatan postpartum dengan mengkonsumsi rujak dan obat balanga berdasarkan pengalaman ibu. (2) Adanya ketidak nyamanan dalam menjalani tahapan tradisi perawatan postpartum rujak dan obat balanga. (3) Konsekuensi sosial dan keterbatasan biaya menjadi alasan mereka memilih budaya perawatan postpartum minum rujak dan obat balanga. Kesimpulan: Pengalaman ibu postpartum di Kecamatan Banda Neira yang mengkonsumsi rujak dan obat balanga yang menjalani perawatan postpartum terkait dengan budaya yaitu setiap tahap yag harus dijalani tanpa terkecuali dimulai dari perawatan perineum, minum rujak dan obat balanga sampai dengan pantangan yang harus dijalani oleh ibu postpartum. Dalam tahap proses perawatan sesuai dengan tradisi ibu postpartum mengalami berbagai macam perubahan dimulai dari perubahan fisik, psikologi dan seksual, adanya konsekuansi sosial yang harus di terima oleh ibu postpartum apabila tidak melakukan perawatan postpartum sesuai dengan budaya , selain itu fktor biaya menjadi alasan ibu dan keluarga mengambil keputusan untuk mengikuti perawatn postpartum sesuai dengan budaya
Background: Indonesia is an archipelagic country that has different tribes and cultures, especially in postpartum treatment, where each region has certain characteristics. One of them is in Banda Neira District, Central Maluku, which has various kinds of rituals and abstinence which must be performed by mothers after giving birth. The mothers are required to consume rujak and balanga drugs which are specially formulated by maibiang (someone who helps mother delivers baby). In addition to consume rujak and balanga drugs, postpartum mothers must do several treatments performed by maibiang including: vaginal treatment using hot water, activity abstinence, food abstinence, and sexual abstinence. All the rituals carried out, make an ambiguity when taking care of the mother after giving birth. All the treatments performed are believed to cure and nourish postpartum mothers and prevent the children from illness. Objective: To explore postpartum treatment experiences in mothers who consumed rujak and balanga drugs in Banda Neira District. Method: This study uses a qualitative research design with a phenomenological approach. Data collection used is in-depth interviews using interview guides. The number of participants in this study were 24 mothers and 17 mothers with estimated day of birth between February and March. The participant retrieval technique used purposive sampling and was equipped with Cresswell data analysis. Results: In this study (1) the stages of the postpartum treatment tradition by consuming rujak and balanga drugs based on mother's experience. (2) There was discomfort in undergoing the stages of the postpartum tradition of rujak and balanga drugs. (3) Social consequences and limited costs are the reasons they choose the culture of postpartum treatment for taking rujak and balanga drugs. Conclusion: The postpartum mother must undergo various treatments as a consequence in undergoing postpartum treatment related to culture in Banda Neira. Each stage must be carried out without exception starting from the treatment of the perineum, drinking rujak and balanga medicine up to the restrictions that must be followed by the postpartum mother. In the stage of the treatment process according to tradition, postpartum mothers experience various kinds of changes starting from physical, psychological and sexual changes. So that there are social consequences that must be accepted by postpartum mothers if they do not carry out postpartum treatment according to culture. In addition, the cost factor is the reason for the mother and family to make a decision to follow the postpartum program in accordance with the culture.
Kata Kunci : perawatan postpartum, konsumsi rujak dan obat balanga, budaya, postpartum treatment, consumption of rujak and balanga drugs, culture