Laporkan Masalah

Penyesuaian diri (coping) wanita yang telah menikah muda: Studi kasus di Kabupaten Majalengka

LULU LAILA QADRIYYAH, Budi Andayani, Dr., M.A., Psikolog

2018 | Skripsi | S1 PSIKOLOGI

Pada umumnya pernikahan merupakan salah satu tugas perkembangan yang dilakukan individu usia dewasa. Namun, saat ini banyak individu yang melakukan pernikahan pada usia yang belum dewasa. Fenomena tersebut disebut pernikahan usia muda dan cenderung terjadi pada wanita daripada laki-laki. Banyak studi yang telah mengungkap bahwa wanita yang menikah usia muda rentan mengalami konflik dalam pernikahannya karena wanita tersebut belum memiliki kematangan emosi untuk mengelola emosinya. Dampak dari hal tersebut berkorelasi dengan perceraian, namun beberapa wanita yang menikah muda berhasil melalui berbagai konflik dengan melakukan strategi koping sehingga mereka mampu menyesuaikan diri dan mempertahankan pernikahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran proses penyesuaian diri (coping) wanita yang menikah muda dalam mengatasi setiap konflik dalam kehidupan pernikahannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini diambil berdasarkan teknik pengambilan sampel purposive sampling, yang memiliki kriteria wanita yang menikah dibawah usia 20 tahun dengan usia pernikahan lebih dari lima tahun dan tidak bercerai. Didapat tiga partisipan yang berdomisili di Majalengka, Jawa Barat. Data didapatkan melalui wawancara yang mendalam dan observasi. Hasil penelitian ini menujukan bahwa setiap partisipan memiliki faktor pendorong yang mempengaruhi keputusanya menikah di usia muda yang berbeda-beda, yaitu faktor ekonomi, budaya, religiusitas dan hamil diluar pernikahan. Ketiga partisipan memiliki aspek internal, aspek eksternal, faktor risiko, faktor protektif, dan strategi koping yang beragam, tetapi ketiganya tetap mampu mencapai penyesuaian diri karena telah memaknai dan menerima kondisi pernikahannya. Pemaknaan tersebut membuat partisipan mampu bertahan dan melanjutkan kehidupan pernikahnnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh strategi religious coping yang mendorong mereka melakukan penerimaan pada sifat pasangan dan kehidupan pernikahanya.

Marriage is one of the development task of adults. But a lot of people get married before they enter adulthood. This phenomenon called early marriage. Early marriage more often happened to women compared to their opposite gender. A lot of study found that women who gat married early are prone to relationship conflict that could lead to divorce due to lack of emotional maturity. There are also women who succeed to mantain the marriage despite all the conflict and attributed the success to the right coping strategies and successful adjustment. This study aimed to understand the proccess of self adjustment in conflict resolution in women who got married early. Data collected using qualitative method and case study approach with depth interview and observation. The participants are 3 women in majalengka city who got married before the age of 20 and had been married for at least 5 years by the time of the study. Participants selected with purposive sampling. Results showed that factors like economy, culture, religious believe, and pregnancy out of wedlock are the reason these women decided to get married early. Participants had diverse external factors, internal factors, risk factors, protective factors and coping strategy but all the 3 participants are able to adjust themselves successfuly because they accept and understand the meaning of their marriage. This understanding promoted by religious coping that helped participant reached acceptance in regard of their spouse and married life.

Kata Kunci : menikah muda, strategi koping, penyesuaian diri

  1. S1-2018-347092-abstract.pdf  
  2. S1-2018-347092-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-347092-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-347092-title.pdf