PERTUMBUHAN PORANG (Amorphophallus muelleri) PADA BERBAGAI INTENSITAS NAUNGAN DAN DOSIS PUPUK KANDANG
ADITIA PERMANA KURNIAWAN , Budiadi, Daryono Prehaten,
2012 | Skripsi | S1 KEHUTANANAgroforestri merupakan salah satu solusi untuk mengoptimalkan lahan di bawah tegakan hutan karena terbatasnya lahan. Porang merupakan salah satu tumbuhan bawah yang toleran dan memiliki banyak manfaat antara lain, sebagai bahan pembuat konyaku (sejenis tahu) dan shiratake (sejenis mie). Porang juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan porang terhadap tingkat naungan dan dosis pupuk kandang. Penelitian ini menggunakan rancangan split plot (rancangan petak terbagi) dengan menguji tingkatan naungan (0%, 30%, 55%, dan 75%) sebagai main plot (petak utama), sedangkan dosis pupuk kandang (100 g per polibag, 200 g per polibag, dan 300 g per polibag) sebagai subplot (anak petak). Parameter yang diukur adalah tinggi batang semu, diameter batang semu, berat biomassa di atas tanah, dan bobot basah umbi. Hasil penelitian menunjukkan intensitas naungan berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi, diameter, berat biomassa di atas tanah, dan bobot basah umbi. Intensitas naungan yang optimal untuk pertumbuhan porang yang digunakan dalam sistem agroforestri adalah 55%. Pemberian dosis pupuk kandang hanya berpengaruh terhadap bobot basah umbi pada dosis 200 g. Tidak terjadi interaksi antara intensitas naungan dan dosis pupuk kandang.
Agroforestry is one of the solutions to optimize space under tree or forest stand because of the limited arable area. Porang is a species which has characteristics being shade tolerant and multipurpose, for example as food such as konyaku (tofu) and shiratake (a kind of noodle). It also has high economical value. The research aimed to know the growth response of porang under different shade levels and dosages of manure. The experiment was conducted using a split plot design with shade level of 0%, 30%, 55%, and 75% as main plot, whereas dosages of manure were 100 g/polybag, 200 g/polybag, and 300 g/polybag as subplot. The observed parameters were: plant height, diameters, aboveground biomass and the weight of beet. The result of the experiment showed that shade levels affected to the height and diameters growth, the weight of aboveground biomass and the weight of beet, significantly. The optimal shade level for porang growth used in agroforestry system was 55%. The dosage of manure only affected to the weight of beet at the dosage of 200 g significantly. Interaction between different shade levels and dosages of manure is not happened.
Kata Kunci : agroforestri, naungan, porang, pupuk kandang