Laporkan Masalah

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT SAMIN UNTUK MENDUKUNG KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN DI DESA BATUREJO, KECAMATAN SUKOLILO, KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH

PUTRO SETYO NEGORO, Lies Rahayu Wijayanti Faida

2012 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan penjelasan mengenai sejarah terbentuknya kearifan lokal masyarakat Samin, bentuk kearifan lokal masyarakat Samin yang mendukung upaya konservasi hutan, dan cara – cara mereka melestari – kan tradisi kearifan lokal. Metode yang dipilih adalah etnoekologi. Etnoekologi mendalami keterkaitan antara habitat dengan sistem budaya. Data dan sumber bukti diperoleh dari studi pustaka, dokumentasi gambar, pengamatan lapangan, dan wawancara mendalam dengan tokoh – tokoh masyarakat Samin. Analisis dilakukan sesuai dengan lima langkah yang dilakukan dalam waktu yang sama yaitu, memilih masalah, mengumpulkan data kebudayaan, menganalisis data kebudayaan, memformulasikan hipotesis, dan melakukan penulisan ilmiah. Sebagai gerakan yang berawal dari perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, masyarakat Samin memiliki kearifan lokal yang merupakan refleksi dari Agama Adam dan lelaku hidup jujur dan waspada yang banyak menekankan tentang pentingnya menahan hawa nafsu terutama dalam pemanfaatan sumber daya alam. Bentuk kearifan lokal yang ditampilkan yaitu, melakukan kegiatan permudaan setelah memanen kayu dari hutan, pemahaman fungsi hutan sebagai kawasan lindung bagi daerah di sekitarnya dan sumber penghidupan bagi masyarakat, melakukan penanaman di hutan yang gundul untuk menjaga kemampuan hidrologisnya, melakukan perlawanan terhadap upaya alih fungsi kawasan hutan dengan cara diplomasi dan menggalakkan kesenian lokal, melakukan pertanian organik yang dinilai tidak merusak lingkungan, memegang teguh budaya “nandur” sebagai budaya nenek moyang yang menganggap perilaku adalah investasi masa depan yang hasilnya dapat dinikmati ketika saatnya “panen” sehingga perilaku yang diterapkan pada kehidupan mereka sehari – hari diusahakan bermanfaat bagi lingkungan. Sikap tertutup untuk membatasi akses informasi modern yang masuk sehingga tidak memengaruhi pola pikir dan tetap menjaga kesederhanaan masyarakat Samin diwujudkan dalam bentuk tidak berdagang, tidak bersekolah, penanaman filosofi ke-Saminan dalam bentuk “guyub”, dan melakukan pernikahan dengan sesama penganut Saminisme.

This study was conducted to obtain an explanation of the formation history of Samin’s local wisdom, the forms of their local wisdom to support of forest conservation, and how they continue to maintain their local wisdom tradition. The preferred method is Ethnoecology. Ethnoecology explores linkages between a habitat with its cultural system. Data and source of evidence obtained from literature, documentation, images, field observations, and in-depth interviews with Samin community leaders. Analyses were performed according to five steps taken in the same times, which were selecting a problem, collecting cultural data, analyzing the cultural data, formulating hypotheses, and conducting scientific writing. Beginning as the form of resistance to Dutch colonialism, Samin community had local knowledges which were reflecting the Adam religion, behaving honest and cautions which emphasized to the importance of abstinence, especially in the utilization of natural resources. Forms of local knowledge that exist are regenerating forest following timber harvesting activities, understanding the function of forest as a protected area for the surrounding area and source of livelihood for the society, planted in a barren forest to maintain the ability of the hydrological, putting efforts to resist toward forest area conversion by way of diplomacy and promoting local arts, committing organic farming which is considered less harmful for the environment, upholding the culture of “nandur” an ancestral culture which thought behavior is the result of future investments that can be enjoyed when “panen” occurs, therefore implemented behaviors that they apply to their daily life attempt benefiting environment. Closed attitude to limit the access of incoming modern information in order to not affecting the mindset of the community while maintaining the humility is manifested by not trading, not going to schools, applying “guyub” as Samin philosophy, and marrying Saminism believers.

Kata Kunci : masyarakat Samin, kearifan lokal, konservasi sumber daya hutan

  1. S1-2012-254470-abstract.pdf  
  2. S1-2012-254470-bibliography.pdf  
  3. S1-2012-254470-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2012-254470-title.pdf