School Bullying Analisis Mengenai Tindakan Bullying di Sekolah
CAECILIA WINASTI PUTRI, Drs. Purwanto, S.U., M.Phil.
2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIBeberapa tahun terakhir ini terdengar cukup banyak berita mengenai tindakan bullying yang terjadi di sekolah-sekolah. Beberapa kali kita mendengar bahwa terdapat korban meninggal dunia dikeroyok teman-temannya hanya karena kesalahpahaman saja. Menurut catatan akhir tahun 2014 Komisi Nasional Perlindungan Anak disebutkan bahwa terjadi penurunan angka laporan kekerasan pada anak, namun jumlah anak yang menjadi pelaku kekerasan meningkat sebanyak sepuluh persen dari yang awalnya hanya sebanyak enam belas persen pelaku kekerasan berumur di bawah empat belas tahun pada tahun 2013 menjadi sebanyak dua puluh enam persen di tahun 2014. Tak hanya itu, dalam sebuah artikel tahun 2013 yang dipublikasikan di website yang dikelola kementrian pendidikan dan kebudayaan, Yogyakarta menduduki peringkat tertinggi kasus bullying di sekolah dari penelitian di tiga kota besar yaitu Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan-alasan terjadinya tindakan bullying di sekolah yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu fenomenologi. Langkah yang dilakukan penulis untuk menjawab permasalahan penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara ke Guru Bimbingan dan Konseling dan beberapa siswa SMA X serta melakukan studi pustaka. Dari data-data tersebut peneliti kemudian melakukan analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa-siswi SMA X melakukan bullying secara verbal kepada teman satu kelas karena menganggap hal itu menarik, karena iseng, dan juga sebagai sarana mengakrabkan diri terhadap teman lain.
In the last few years, there has been quite a lot of news about the bullying actions that have taken place in schools. Several times we heard that there was a death victim beaten by his friends just because of a misunderstanding. According to the 2014 final note, the National Commission on Child Protection stated that there was a decrease in the number of reports of child abuse, but the number of children who became perpetrators of violence increased by ten percent from the initial sixteen percent of those under the age of fourteen to twenty-six percent in 2014. Not only that, in 2013, an article published on a website managed by the ministry of education and culture said Yogyakarta was ranked the highest in bullying cases in schools from research in three major cities namely Jakarta, Surabaya, and Yogyakarta . This study aims to determine the reasons for the occurrence of bullying in schools carried out by the students themselves. This study uses qualitative research methods namely phenomenology. The step taken by the researcher to answer the problem of this research is by conducting interviews with Counseling Teachers and several students from high school X and conducting literature studies. From these data the researcher then analyzes and draws conclusions. The results showed that student from high school X verbally bullied classmates because they found it interesting, because it was fun, and also as a means of familiarizing themselves with other friends.
Kata Kunci : bullying, siswa, sekolah