Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama dalam Perspektif Konsep Pengakuan Axel Honneth (Studi di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan)
NURUL LAILI, Samsul Ma'arif M., S.Fil., M.A
2018 | Skripsi | S1 FILSAFATSkripsi ini berusaha untuk mengungkapkan fakta kerukunan antar umat beragama di Desa Balun Kabupaten Lamongan dengan menggunakan konsep pengakuan yang ditawarkan oleh Axel Honneth. Dalam beberapa konflik seolah-olah membenarkan bahwa agama penuh dengan kekerasan. Tetapi hal ini berbeda dengan yang terjadi di Desa Balun yang mempunyai rasa toleransi yang sangat tinggi. Dimana agama menjadi modal penting dalam membina kerukunan antar umat beragama. Penelitian ini merupakan penelitian filosofis kualitatif mengenai kerukunan antar umat beragama di Desa Balun melalui kajian kepustakaan yang didukung data observasi langsung yang didukung oleh data wawancara dengan menggunakan pendekatan konsep pengakuan Axel Honneth. Penelitian dilakukan secara ilmiah dengan melalui inventarisasi data kepustakaan, klarifikasi, identifikasi dan sistematisasi berbagai sumber yang terkait dengan dengan tujuan penelitian. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan unsur metodis yang meliputi deskripsi, interpretasi, dan refleksi kritis. Penelitian ini diharapkan dapat menemukan nilai-nilai dasar dalam masyarakat majemuk melalui medium bentuk-bentuk pengakuan yaitu cinta, hak dan solidaritas. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kerukunan antar umat beragama di Desa Balun tercermin dalam keluarga yang terdiri dari pemeluk agama yang berbeda, acara slametan, perayaan hari besar dan ritual keagamaan, dan kerjasama antara pemerintah desa dan tokoh agama. Axel Honneth membagi teori pengakuan terbagi menjadi tiga yaitu cinta, hak dan solidaritas. Dalam masyarakat Desa Balun, pengakuan dalam bentuk cinta tercermin dalam hubungan dalam keluarga yang berbeda agama. Pengalaman dicintai membuat individu dapat mengembangkan rasa percaya diri. Sedangkan dalam ranah pengakuan hak, masyarakat memiliki posisi yang setara dalam hubungan legal dan memiliki otonomi untuk mengambil keputusan secara rasional dengan diakui kebebasan dan kepemilikan individu, berhak dipilih dan memilih dalam politik, serta mendapat distribusi bantuan dan pendanaan secara merata. Hak untuk mendapatkan kehormatan diri. Terakhir dalam pengakuan solidaritas, individu atau kelompok tidak tunduk terhadap nilai mayoritas di Desa Balun dengan berbagi nilai yang menunjukkan kekhasan masing-masing individu atau kelompok untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bersama. Solidaritas untuk menjaga harga diri. Hubungan pengakuan antar individu berdampak pada penyelesaian konflik yang terjadi dalam masyarakat dengan tanpa menggunakan kekerasan. Sehingga dengan adanya pengakuan antar relasi individu maka tercipta hubungan yang setara, damai dan harmonis antar pemeluk agama serta membentuk sebuah identitas dari masyarakat Desa Balun.
This research attempts to reveal the fact of interreligious harmony in Balun Village Lamongan Regency by using the concept of recognition offered by Axel Honneth. Some conflicts seem to justify that religion is full of violence. However, It is different from what happened in Balun Village society which has a very high sense of tolerance where religion is an important factor in fostering interreligious harmony. This is a qualitative philosophical research on interreligious harmony in Balun Village with literature study supported by data obtained from direct observation and interviews using Axel Honneth's recognition concept approach. I analyzed the data by methodical elements which include a critical description, interpretation, and reflection. It is expected to find basic values in a pluralistic society through forms of recognition, namely love, rights, and solidarity. The finding confirm that interreligious harmony in Balun Village is represented in families consisting of family members that have different religions, slametan, celebrations of national holidays and religious rituals, and cooperation between the village government and religious leaders. Axel Honneth divides recognition theory into three categories: love, rights, and solidarity. In Balun Village society, recognition in the form of love is represented in relationships in families that have different religions. The experience of being a loved one makes a self-confident. Whereas recognition in the form of right is represented in the equality of legal relations and ownership of autonomy to make rational decisions by recognizing individual freedom and ownership, political rights to vote and be elected, and equitable distribution of aid and funding. Rights can gives the self-respect. Finally, recognition in the form of solidarity is represented in individuals or groups who are not subject to the value of local society as the majority group by share values that show the distinctiveness of each individual or group to realize common visions and goals. Solidarity can protect self-esteem. The relationship of recognition between individuals has an impact on resolving conflicts that occur in society without using violence. Therefore with the recognition of individual relations, an equal, peaceful and harmonious relationship can be created between religious adherents and it forms a distinctive identity of Balun Village society.
Kata Kunci : Kata kunci: Kerukunan Antar Umat Beragama, Desa Balun, Cinta, Hak, Solidaritas