Laporkan Masalah

Kesesuaian Antara Perilaku Australia dalam Kerja Sama MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) dengan Identitas Australia sebagai Negara Kekuatan Tengah

Jonathan Evert Rayon, Dafri Agussalim, Dr., M.A.

2018 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Skripsi ini menjelaskan tentang tingkat kesesuaian antara perilaku Australia dalam kerja sama MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) dengan identitas Australia sebagai negara kekuatan tengah. Keikutsertaan Australia dalam kerja sama MIKTA sejak September 2013 tidak hanya dilihat sebagai strategi yang diambil guna memenuhi kepentingannya, tetapi juga sebagai upaya Australia dalam mempertahankan konsepsi tertentu tentang dirinya yang muncul akibat identitasnya sebagai negara kekuatan tengah. Terdapat tiga karakteristik yang mendefinisikan Australia sebagai negara kekuatan tengah, yaitu Australia sebagai warga internasional yang baik, memiliki kecenderungan tinggi untuk menggunakan pendekatan multilateral dalam memecahkan masalah global, serta mengambil inisiatif dalam merespon krisis atau konflik yang mengancam stabilitas internasional. Berdasarkan temuan penelitian, terdapat tingkat kesesuaian yang cukup tinggi antara perilaku Australia selama masa kepemimpinannya dalam kerja sama MIKTA dengan ketiga karakteristik yang membangun diri Australia sebagai negara kekuatan tengah. Sesuai dengan teori konstruktivisme, kesesuaian antara perilaku dengan identitas tersebut menandakan bahwa identitas bukan lagi berfungsi mengatur perilaku negara saja atau bersifat regulatif, tetapi sudah menjadi bagian integral yang membangun negara sebagai aktor internasional. Kesesuaian tersebut menandakan pula bahwa perilaku atau tindakan yang diambil Australia dalam kerja sama MIKTA bertujuan untuk memenuhi peran serta ekspektasi yang muncul karena pengadopsian identitas negara kekuatan tengah sebagai representasi dirinya dalam sistem internasional.

This thesis explains about the degree of compatibility between Australia's behaviour in MIKTA cooperation (Mexico, Indonesia, South Korea, Turkey, and Australia) and its identity as a middle power. Australia's involvement in MIKTA cooperation since September 2013 can not only be seen as a strategy taken to accomplish its interests, but also as an effort to preserve a specific conception of itself which occurs as a consequence of its identity as a middle power. There are three characteristics which define Australia as a middle power, namely considering Australia as a good international citizen, having high tendency of using multilateral approach to solve global problems, and taking initiatives to respond to crises or conflicts which threaten international stability. Based on the research findings, it is known that there is a quite high degree of compatibility between Australia's behaviour during the period of its leadership in MIKTA cooperation and its three consitutive characteristics as a middle power. In accordance with the theory of constructivism, the compatibility between state's behaviour and its identity indicates that identity does not only regulate state's behaviour, but also plays an important role as an integral part of the state as an international actor. This compatibility also shows that Australia's behaviour in MIKTA cooperation is also meant to fulfill the roles and expectations which arise due to its decision to adopt middle power as an identity acting as the representation of Australia in the international system.

Kata Kunci : Australia, MIKTA, identitas, negara kekuatan tengah, makna, konstruktivisme, warga internasional yang baik

  1. S1-2018-378619-abstract.pdf  
  2. S1-2018-378619-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-378619-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-378619-title.pdf