ANALISIS KEGAGALAN ADVOKASI KEBIJAKAN PUBLIK STUDI KASUS JOGJA INDEPENDENT 2017
GIOVANNI DEWANGGA, Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si.
2018 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIKJogja Independent (JOINT) lahir dari keresahan sekelompok orang tentang keadaan Kota Yogyakarta yang menurut mereka tidak lagi ideal. Keresahan ini didasari pada sikap pemerintah yang dirasa tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat namun lebih condong kepada partai politik yang mengusung pemerintahan saat itu. Berangkat dari keresahan ini, JOINT menawarkan kepada masyarakat Kota Yogyakarta sebuah solusi untuk megatasi masalah tersebut. JOINT mengajak masyarakat untuk bekerjasama membuat pemerintahan yang tidak terikat pada partai politik dengan bersama mengusung calon pasangan walikota dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Yogyakarta tahun 2017 yang berasal dari masyarakat dan maju menggunakan jalur perseorangan. Namun usaha ini kemudian gagal setelah tidak ada dukungan yang cukup bagi JOINT untuk melanjutkan perjalanan mereka di Pilkada Kota Yogyakarta tahun 2017. Penelitian ini berusaha melihat usaha yang dilakukan JOINT sebagai sebuah usaha advokasi kebijakan yang pada akhirnya mengalami kegagalan dengan berdasar pada unsur-unsur advokasi dan proses-proses advokasi yang diutarakan oleh Sharma (1995) dalam An Introduction to Advocacy: Training Guide. Diawali dengan penggambaran umum mengenai JOINT, bagaimana latar belakang terbentuknya JOINT, tokoh-tokoh yang berperan penting dalam JOINT, usaha-usaha yang telah dilakukan JOINT seperti konvensi untuk menentukan calon pasangan walikota dan wakil walikota, pengumpulan dukungan dari masyarakat sebagai syarat untuk maju melalui jalur perseorangan hingga akhirnya menyatakan mundur dari pilkada karena terbatasnya dukungan yang mereka peroleh. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data berupa data primer dan sekunder diperoleh melalui proses wawancara dengan narasumber yang berkaitan langsung dengan JOINT dan dokumentasi dari berbagai sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan kegagalan yang dialami JOINT terjadi karena kurang kuatnya unsur dasar advokasi yang dimiliki oleh JOINT. Pergeseran fokus dari yang mulanya berdasar pada sistem dan nilai-nilai independensi dan pada akhirnya berfokus pada ketokohan menjadikan kegoyahan pada JOINT yang berakibat pada gagalnya JOINT di Pilwalkot Kota Yogyakarta tahun 2017. Pemilihan Garin Nugroho dan Rommy Heryanto sebagai bakal calon pasangan walikota dari JOINT tidak dapat meningkatkan dukungan terhadap JOINT, bahkan malah menjadikan keraguan pada beberapa relawan yang ada di JOINT. Adanya perbedaan kepentingan di dalam JOINT, turut andil dalam kegagalan JOINT. Kegagalan JOINT dalam memperoleh kekuasaan pada akhirnya menggagalkan usaha mereka untuk mengubah kebijakan-kebijakan yang sejak awal ingin diubah. Selain itu, tidak ada usaha lain dari JOINT untuk mengubah kebijakan-kebijakan yang mereka kritisi dengan usaha advokasi yang lain.
Jogja Independent (JOINT) was born from the unrest of a group of people about the condition in Yogyakarta which they think is no longer ideal. This unrest is based on the attitude of the government that didn't accomodate people's interest but more inclined to the political party that carries them. Based on this problems, JOINT offers Yogyakarta citizens a solution. JOINT invites the community to work together to build a government that is not tied to political parties by bringing together city mayor candidates for Yogyakarta regional elections in 2017 which come from the community and go forward using individual paths beside usual political party way. But this effort then fails after there is not enough support for JOINT to continue their journey at Yogyakarta regional elections in 2017. This research seeks to see JOINT's efforts as an advocacy effort that fails by looking at the basis of the advocacy elements and advocacy processes expressed by Sharma (1995) in An Introduction to Advocacy: Training Guide. Beginning with a general description of the JOINT, how the background of the JOINT formation, the key figures in JOINT, the efforts JOINT has undertaken such as conventions for determining potential mayors and deputy mayors candidate, gathering support from the community as a requirement for progressing through the independent path to finally declare to end their journey in this election because of the limited support they get. This research uses descriptive analysis method with qualitative approach. The data source in the form of primary and secondary data obtained through the process of interviews with sources that directly related to JOINT and documentation from various sources. The results of this study indicate the failure experienced by JOINT occurred due to the weakness of the JOINT's basic elements of advocacy. The change of their orientation from value-oriented organization, that focus on how to be an independent organization to figure-oriented organization weaken their footing and made them failed at Yogyakarta regional election. The selection of Garin Nugroho and Rommy Heryanto as a pairs that represent JOINT as mayors on the regional election could not increase support for JOINT, even doubting some of the volunteers in JOINT. The differences in vision in JOINT also contributing in their failure. JOINT's failure to gain power ultimately thwarted their efforts to change policies that they wanted to change from the beginning. In addition, there is no other effort from JOINT to change the policies they criticize with other advocacy efforts.
Kata Kunci : Advokasi Kebijakan, Jogja Independent, Kegagalan Advokasi