PENGARUH VARIASI MEDIA TERHADAP KEMAMPUAN HIDUP STEK CABANG JENIS BAMBU PETUNG (Dendrocalamus asper)
GANIS NAWANGSIH, Adriana
2012 | Skripsi | S1 KEHUTANANPemanfaatan bambu semakin luas, namun perhatian terhadap regenerasi kurang memadai. Penggunaan stek batang atau cabang lebih praktis dan mempunyai banyak keuntungan dan menjanjikan karena bahan stek tersedia lebih banyak, mudah diperoleh dan murah, tidak merusak rumpun asal, waktu pengambilan lebih cepat, dan pembentukan rumpun lebih mudah. Media pengakaran yang umum digunakan adalah top soil (tanah lapisan atas yang subur). Saat ini untuk pengadaan top soil dalam jumlah besar sangat sulit, sehingga perlu dicari alternatif lain dalam rangka mengurangi jumlah top soil yang digunakan, yaitu dengan mencampur media top soil dengan bahan lain. Rancangan percobaan yang digunakan adalah CRD (Completly Randomized Design), dengan perlakuan sebanyak 3, ulangan 3 dan unit eksperimen 10. Sehingga total eksperimen yang diamati adalah 90 stek cabang. Data yang diperoleh diuji menggunakan ANOVA dan diuji lanjut dengan LSD. Media yang digunakan yaitu media tanah, media arang sekam dan media campuran tanah dan arang sekam ( 2:1 ). Stek cabang yang digunakan, stek cabang bambu petung dengan umur pohon induk ± 2 tahun, diameter antara 2-3 cm dan panjang 2 ruas. Perlakuan berupa variasi media tanah, media arang sekam dan media campuran tanah dengan arang sekam memberikan pengaruh yang nyata pada parameter panjang tunas, tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata pada parameter jumlah tunas, panjang akar dan persen berakar.
Recently, the utilization of bamboo is more extensive, but the attention towards its regeneration is not sufficient. The use of stem or branch cuttings are more practical and having more benefits and promising because the cutting materials are more available, easier to gain and cheaper, undamaging the source clump, faster in the taking time, and easier in the clump formation. The common rooting media used is top soil (the fertile part of upper layer soil). Recently, it is quite hard to provide top soil in a large number. Thus, it is important to find an alternative source in order to decrease the use of top soil that is by mixing the top soil media with other materials. The experiment design used was CRD (Completely Randomized Design), with 3 treatments, 3 repetitions and 10 experiment units. Thus, the total number of observed experiment was 90 branch cuttings. The collected data were tested using ANOVA and further tested with LSD. The media used were soil media, husk charcoal, and the mixture of soil and husk charcoal (2:1). The branch cutting used were branches of Petung bamboo taken from 2 years old bamboo, with 2-3 cm in diameter, and 2 nodus in length. The treatment was done by giving some variations in the soil media, the husk charcoal, and the mixture of soil and husk charcoal. The mixture of soil and husk charcoal media gave a significant influence to the length of sprout parameter, but it did not give significant influence to the number of sprout, the length of root, and the percentage of rooting.
Kata Kunci : Arang sekam, bambu petung, stek cabang.