Penanganan Gelandangan dan Pengemis Migran Oleh Pemerintah Kabupaten Sleman
FASHIA ADESA PUTRI, Dr. Mulyadi, MPP., Ph.D.
2018 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANSalah satu alasan paling kuat seseorang melakukan migrasi adalah Ekonomi, misalnya mendapatkan kesempatan kerja di daerah lain. Namun, tidak semua orang yang melakukan migrasi berhasil memperoleh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut dapat mendorong seseorang akhirnya menjadi gelandangan dan pengemis. Sleman, sebagai salah satu kabupaten di DIY, juga tidak terlepas dari permasalahan gelandangan dan pengemis. Letakanya yang berdekatan dengan wilayah lain, seperti Magelang, Boyolali, dan Klaten, membuat banyak gelandangan dan pengemis migran yang mencari pendapatan di Sleman. Terkait hal tersebut, peran pemerintah dibutuhkan untuk mengatasi masalah gelandangan dan pengemis migran. Peneliti menggunakan beberapa konsep untuk memberikan pemahaman awal mengenai tema penelitian, yakni konsep gelandangan dan pengemis, konsep migrasi, dan konsep peran pemerintah. Ketiga konsep tersebut membantu peneliti dalam melihat bagaimana migrasi dapat mempengaruhi jumlah gelandangan dan pengamen, dan bagaimana Pemerintah Kabupaten Sleman melihat permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mendapatkan informasi yang mendalam terkait dengan topik dan tujuan penelitian. Informan yang dipilih dalam penelitian ini berjumlah 8 orang, yang terdiri dari perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Sleman, pekerja sosial di Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras Yogyakarta, perwakilan dari Rumah Singgah Diponegoro, dan 5 gelandangan dan pengemis binaan Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras Yogyakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas gelandangan dan pengemis yang ada di Sleman, berasal dari luar daerah DIY. Pengaruh dari tingginya migrasi dengan tingginya jumlah gelandangan dan pengemis di Sleman bergantung kepada modal yang dimiliki individu. Semakin sedikit modal yang dimiliki individu akan semakin tinggi resiko seseorang akhirnya menjadi gelandangan atau pengemis. Semenjak dikeluarkannya Perda No.1 Tahun 2014 mengenai penanganan gelandangan dan pengemis, Pemerintah Kabupaten Sleman tidak lagi memiliki kewajiban untuk melakukan penanganan dan pelatihan, yang menjadi fokus pemerintah Kabupaten Sleman saat ini adalah pengurangan jumlah gelandangan dan pengemis di jalanan dengan melakukan penjaringan atau razia
One of the biggest reason someone being a migrant is economy. Suppose that person got a job opportunity or searching for one in other city. However, not all migrant succeed get the job to fulfill their livelihood. This can encourage someone to eventually become a vagrant and beggar. Sleman, as one of the district of DIY, also not exempt from vagrant and beggar problem. Its location adjacent to other regions, such as Magelang, Boyolali, and Klaten, making a lot of migrant vagrant and beggar looking for livelihood in Sleman. In this regard, the role of the government is needed to overcome the problem of migrant vagrant and beggars. This research used several concepts to give initial understanding about this research, which are vagrant and beggar concept, migration concept, and the role of government concept. These concepts help researchers to see how migration can affect the amount of vagrant and beggars, and how the Sleman district government sees these problems. This research uses qualitative method to obtain in-depth information related to research topics and objectives. The selected informants in this study are 8 people, consisting of representatives of the Sleman District Social Service, social workers at the Bina Karya and Laras Yogyakarta Social Rehabilitation Centers, representatives from the Diponegoro Shelter House, and 5 homeless and beggars assisted by the Bina Karya and Laras Social Rehabilitation Center Yogyakarta. For collecting data, the researcher used observation, interviews, and documentation study. From this research, we can conclude that the majority of homeless people and beggars in Sleman, came from outside the DIY area. The influence of high migration with the high number of vagrant and beggars in Sleman depends on the resource owned by individuals. The less resource a person has, the higher the risk of someone becoming a vagrant or beggar. Since the issuance of Regional Regulation No. 1 of 2014 concerning the management of vagrant and beggars, the Sleman District Government no longer has an obligation to carry out management and training, which is the focus of the Sleman District government at this time is the reduction in the amount of vagrant and beggar on the streets by screening or arrest.
Kata Kunci : Migran, Gelandangan, Pengemis