Distribusi Spasial Penggunaan Kontrasepsi Mantap di Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul
ELINE KENSARI, Dr. Umi Listyaningsih, M.Si
2018 | Skripsi | S1 GEOGRAFI LINGKUNGANMasalah kependudukan merupakan masalah yang kompleks. Jumlah penduduk yang semakin bertambah menjadi tantangan bagi pemerintah. Bappenas bersama BPS dan UNFPA telah memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2035 mencapai 305.652 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk. Jumlah penduduk yang terlalu tinggi akan menjadi penghambat bagi pembangunan sehingga perlu adanya kontrol dari pemerintah. Salah satu caranya yaitu dengan pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB). Program KB yang paling efektif dilakukan bagi pasangan usia subur adalah menggunakan kontrasepsi mantap yang bersifat permanen. Harapan pemerintah yaitu dapat meningkatkan penggunaan kontrasepsi mantap setiap tahunnya. Namun, di Kecamatan Saptosari penggunaan kontrasepsi mantap setiap tahunnya cenderung stabil tidak mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pengguna kontrasepsi mantap dan mengetahui distribusi penggunaan kontrasepsi mantap setiap desa di Kecamatan Saptosari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan merupakan data primer yang didapatkan dari penelitian langsung di lapangan dan data sekunder dari BKKBN Gunungkidul dan PLKB Saptosari. Responden dalam penelitian merupakan pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepsi mantap baik Metode Operasi Wanita (MOW) maupun Metode Operasi Pria (MOP). Hasil penelitian ini adalah pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepsi mantap merupakan tamatan sekolah dasar, memiliki penghasilan yang rendah yaitu dibawah Upah Minimum Kabupaten (UPK), sebagian besar bekerja sebagai petani dengan rentang usia antaraa 31-40 tahun. Selain itu kebanyakan pengguna kontrasepsi mantap sudah memiliki 2 anak dan hanya ingin memiliki 2 anak saja. Tingkat pengetahuan yang tinggi tentang kontrasepsi dan mendapatkan dukungan dari pasangan juga memengaruhi penggunaan kontrasepsi mantap. Sementara dilihat dari aksesibilitas, pengguna kontrasepsi mantap rela menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi mantap. Distribusi penggunaan kontrasepsi mantap setiap desa di Kecamatan Saptosari semuanya sudah memenuhi target sebanyak 89 akseptor kontrasepsi mantap yang telah ditentukan oleh BKKBN.
Population problems are complex problems. The increasing population is a challenge for the government. In 2025 Indonesia is expected to face demographic bonuses. Bappenas together with BPS and UNFPA have projected that Indonesia's population in 2035 will reach 305,652 million. Population growth is influenced by 3 main factors, namely fertility, mortality and migration. A population that is too high will be an obstacle to development, so there needs to be control from the government. One way is by implementing a Family Planning program. The most effective family planning program for couples of childbearing age is to use permanent contraception. The government's expectation is that it can increase the use of permanent contraception every year. However, in Saptosari Subdistrict the use of permanent contraception every year tends to be stable and does not increase. This study aims to determine the characteristics of users of permanent contraception and find out the distribution of permanent contraceptive use in every village in Saptosari District. This research uses descriptive method with a quantitative approach. The data used is primary data obtained from direct research in the field and secondary data from the BKKBN Gunungkidul and PLKB Saptosari. Respondents in the study were couples of childbearing age who used permanent contraception both Female Operating Methods (MOW) and Male Operating Methods (MOP). The results of this study are couples of childbearing age who use permanent contraception are elementary school graduates, have a low income that is below the District Minimum Wage (UPK), most work as farmers with an age range between 31-40 years. In addition, most users of permanent contraception already have 2 children and only want to have 2 children. The high level of knowledge about contraception and getting support from partners also influences the use of permanent contraception. While viewed from accessibility, users of permanent contraception are willing to travel long distances to get a permanent contraceptive service. The distribution of permanent contraceptive use in every village in Saptosari District has all met the targets set by the BKKBN.
Kata Kunci : Kontrasepsi mantap, distribusi spasial, karakteristik, keluarga berencana