EFEKTIVITAS MENONTON DRAMA KOREA DALAM PEMEROLEHAN DAN PEMAHAMAN KOSAKATA BAHASA KOREA : STUDI KASUS MAHASISWA BAHASA DAN KEBUDAYAAN KOREA UGM
WIDYA NUR MASHITA, Hwang Who Young, M. A.
2018 | Skripsi | S1 BAHASA DAN KEBUDAYAAN KOREAPenelitian ini menelaah tentang pengaruh menonton drama Korea terhadap pemerolehan dan pemahaman kosakata bahasa Korea di kalangan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Metode penelitian yang digunakan berupa eksperimen kuasi dengan desain control group prates-pascates. Selain itu, dilaksanakan pula wawancara terkait hasil pemerolehan dan pemahaman kosakata bahasa Korea mahasiswa sebagai cara untuk mencari informasi tambahan dari fenomena yang ditemukan. Variabel dalam penelitian ada dua, yakni (1) variabel bebas berupa frekuensi mahasiswa dalam menonton drama Korea dan (2) variabel terikat berupa pemerolehan dan pemahaman kosakata bahasa Korea. Fokus pemerolehan dan pemahaman kosakata Indonesia-Korea terletak pada kelas kata (verba, adjektiva, dan nomina) dan jumlah kosakata (kata dan frasa) yang bisa mereka kuasai dan pahami. Sedangkan, pemerolehan dan pemahaman kosakata Korea-Indonesia diukur hanya pada kelas kata (verba, adjektiva, dan nomina) yang mereka pahami. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian berjumlah delapan orang yang terbagi atas tiga kelompok mahasiswa. Satu dari tiga kelompok tersebut dijadikan sebagai kelompok kontrol, sedangkan dua kelompok lainnya sebagai kelompok eksperimen. Hasil perhitungan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemerolehan kosakata bahasa Korea melalui menonton drama Korea lebih efektif daripada pemerolehan kosakata bahasa Korea tanpa melalui menonton drama Korea. Kelompok A (kelompok yang menonton setiap hari) dan kelompok B (kelompok yang menonton tiga hari sekali) memperoleh kosakata terbanyak. Akan tetapi, terkadang kelompok C (kelompok yang tidak menonton) memperoleh kosakata lebih banyak daripada kelompok B. Selain itu, terjadi pengurangan jumlah kosakata yang dijawab benar pada pascates kosakata mahasiswa. Semua kelompok menunjukkan hasil pemerolehan kosakata Indonesia ke Korea berupa verba dan frasa dengan jumlah paling banyak. Sedangkan pada pemerolehan kosakata Korea ke Indonesia, kategori nomina adalah yang paling banyak diperoleh dan dipahami oleh semua kelompok. Namun perlu juga diketahui bahwa pemerolehan dan pemahaman kosakata juga dipengaruhi oleh faktor eksternal lain seperti perkuliahan di kampus dan kemampuan pemahaman bahasa yang berbeda oleh setiap mahasiswa. Penelitian ini tidak mampu mengendalikan pengaruh tersebut karena mahasiswa yang diteliti dalam riset ini tidak hanya belajar melalui drama tetapi juga lewat perkuliahan untuk memperkaya kosakata mereka.
This study was conducted to determine the effect of watching Korean drama on the acquisition of Korean vocabulary by students of Korean Language and Cultural Program, Faculty of Cultural Sciences Universitas Gadjah Mada. The research method used was a quasi-experiment applied to three different control groups by combining pretest-posttest designs. Apart from that, an interview was also conducted in order to find additional information about their vocabulary acquisition processes. There were two variables in this research, namely (1) independent variable in the form of student frequency in watching Korean drama and (2) dependent variable in the form of Korean language vocabulary acquisition. These students are required to show their vocabulary acquisition by translating Indonesian vocabularies to Korean (Indonesian-Korean). The vocabularies used as the barometer were those under the class of words: verb, adjective, and noun as well as how many words and phrases they can acquire and understand. At the same time, they were also measured on how well they managed to translate Korean words into Indonesian. In this case, the task only focusing on the class of words: verb, adjective, and noun that they can acquire and understand. The sampling was 8 people divided into three groups of students. One of the three groups was used as the control group while the other two groups were the experimental group. The results indicates that the acquisition of Korean vocabulary through watching Korean drama was more effective than the acquisition of Korean vocabulary without watching Korean drama. Group A (daily watching) and group B (every three-day watching) acquired vocabularies comprehension the most. However, the result also indicates that those not watching drama (Group C) sometimes acquired more vocabularies than Group B. Interestingly, the posttest also shows that the number of vocabularies that were answered correctly also decreased. In Indonesian-Korean questions, verb and phrases acquisition were the highest in term of the students understanding. On the other hand, in Korean-Indonesian questions, noun was the most highly acquired type of words by all three groups. However, the students language acquisition was influenced by other external factors such as class participation and the students own capability of language acquisition. This study could not control such external influences since the students were free to engage in any other means of vocabulary acquisition apart from watching drama.
Kata Kunci : Korean drama, Korean language vocabulary acquisition