Berdaya di Sepanjang Value Chain ALTERNATIF MODEL PEMBERDAYAAN PETANI KOPI
MIR'ATUL ASHFIYA, Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.
2018 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHANUngkapan Berdaya di Sepanjang Value Chain dipilih sebagai judul untuk menggambarkan rangkaian proses pemberdayaan, dalam menjalin kebersamaan dengan petani kopi. Untuk menggantikan model pemberdayaan yang selama ini dianggap sudah baku, penulis mengusulkan skema pengelolaan jejaring dan pengembangan nilai tambah di setiap mata rantai perekonomian kopi. Dengan begitu, petani tidak hanya dipatok menjadi produsen, melainkan menjadi pelaku ekonomi yang memperoleh manfaat. Nilai tambah harus diupayakan dapat ikut dinikmati oleh petani. Formula alternatif ini disusun berdasarkan magang di Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang, tepatnya di Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan, khususnya di Unit Pelaksana Teknis Dinas tersebut. Lembaga ini bertugas melakukan pemberdayaan petani kopi. Magang difokuskan pada penyelenggaraan pembinaan petani kopi di lereng Gunung Kelir Kabupaten Semarang tepatnya di Kecamatan Jambu yang menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Jawa Tengah. Model alternatif diperlukan karena selama sekian lama, petani kopi masih belum berdaya secara mandiri dan tingkat kesejahteraan petani kopi masih belum berkembang manakala permintaan kopi dari dalam negeri maupun dari luar negeri terus meningkat. Dengan terlebih dahulu mencari tahu sejauh mana hal yang telah dilakukan oleh Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang dalam mengentaskan petani dari permasalahan tersebut, penulis merasakan adanya nuansa state-centric yang sejatinya memposisikan petani sebagai objek. Dalam kesadaran tentang hal itu, penulis mengacu pada literature yang ada untuk merumuskan posisi sentral yang bisa dimainkan oleh petani, dan lebih dari itu, juga merumuskan cara yang memungkinkan petani memperoleh kemanfaatan terbesar dari ekonomi perkopian yang berlangsung. Penyusunan usulan model alternatif ini didasari pembelajaran selama magang yang memungkinkan penulis melakukan observasi partisipatoris dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, dan pembacaan kepustakaan yang terkait.
The Phrase empowering along the value chain was choosen as title to describe the sequence of empowerment processes, in braiding togetherness with coffee farmers. To replace the empowerment model which has been considered standard, the author propose scheme of network management and value added development in each chains of the coffee economy. Thus, farmers are not only pegged to become producers, but become economic actors who gets the benefit. Value added must be sought to be enjoyed by farmers. This alternative formula was prepared based on an internship at Local Government Office of Semarang Regency, precisely in the Department of Agriculture Fisheries and Food, especially in the Office of Technical Implementation Unit. This institution is on duty to empower coffee farmers. This internship focused on organizing coffee farmers on the slope of Kelir in Semarang Regency, precisely in Jambu District, which become one of the coffee producing area in Central Java. Alternative model is needed because for a long time, coffee farmers are still powerless independently and the level of welfare of coffee farmers is still not developed when the demand for coffee from domestic and foreign continues to increase. By finding out first the extend of what has been done by Government of Department of Agriculture Fisheries and Food Semarang Regency in alleviating farmers from thes problems, the author felt a state-centric nuance that actually positions the farmers as an object. In this awareness the author refers to existing literature to formulate a central position that can be played by farmers, and more than it, also formulate way to allow farmers to obtain the greatest benefits from the coffee economy that going on. The forming of this alternative model is based on learning during an internship which bring the author to do participatory observation in the each activities that has been done, and also by reading related literature.
Kata Kunci : manajemen jaringan, model alternatif, nilai tambah, pemberdayaan, petani kopi, rantai nilai