Pelayanan Sosial Berbasis Komunitas: Praktik Baik Program Bina Keluarga Lansia (BKL) Mugi Waras Dusun Blendung Desa Sumbersari Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman
MUHAMMAD RIEFQI PUTR, Dr. Tri Winarni Soenarto Putri,S.U. ;Eka Zuni Lusi Astuti, S.Sos,M.A. ; Sari Handayani, S.Sos., M.A.
2018 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANLanjut Usia adalah suatu fase yang wajib dialami oleh setiap orang nantinya, mulai terbatasnya kegiatan yang bisa lakukan karena penurunan seluruh fungsi-fungsi anggota tubuh. Stigma konservatif sering dilekatkan kepada lanjut usia yang dinilai tidak kreatif, menolak inovasi dan berorientasi ke masa silam, susah berubah, keras kepala serta cerewet, bingung dan tidak peduli terhadap lingkungan, rentan terhadap penyakit, kesepian dan tidak bahagia. Penanganan terhadap lanjut usia yang masuk dalam golongan kelompok rentan dikelola oleh negara hal ini diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini dipilih karena dapat menjelaskan secara mendalam fenomena yang diteliti. Teknik penentuan informan dilakukan dengan menggunakan metode informan bertujuan. Informan dalam penelitian ini berjumlah sebelas orang yang terdiri dari informan utama yaitu 9 orang lansia, serta sisanya dari pihak dukuh dan dinas sosial. Lokasi penelitian berada di Bina Keluarga Lansia Mugi Waras, Dusun Blendung, Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan wilayah tempat tinggal informan utama. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian lapangan menemukan bahwa Bina Keluarga Lansia Muncul sebagai jawaban dari negara untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh kelompok rentan tersebut. Meskipun berbasis komunitas namun Bina Keluarga Lansia pada dasarnya dibentuk oleh Negara, BKL Mugi Waras memiliki tugas utama untuk memberikan layanan kesehatan bagi lansia Dusun Blendung, ada individu utama yang menjadi penggerak BKL Mugi Waras yakni Ibu DJ. DJ berperan penting dalam inisiasinya terkait persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Dusun Blendung. Keresahan beliau terhadap permasalahan yang dihadapi di desa seperti kecenderungan dari penduduk usia lansia mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan menganggur. Meskipun berbasis komunitas namun Bina Keluarga Lansia pada dasarnya dibentuk oleh Negara, BKL Mugi Waras memiliki tugas utama untuk memberikan layanan kesehatan bagi lansia Dusun Blendung. Pelayanan sosial lanjut usia oleh Bina Keluarga Lansia (BKL) Mugi Waras meliputi penyuluhan tentang Bina Keluarga Lansia (BKL), kegiatan spiritual dan keagamaan, pelayanan kesehatan, pelayanan ekonomi, dan pelayanan pendidikan dan pelatihan. Hasil yang diperoleh lansia dari kegiatan spiritual dan keagamaan yaitu mendapat ketenangan batin, mempertebal keimanan, dan lebih dekat dengan Tuhan; hasil dari pelayanan kesehatan yaitu dapat menjaga kesehatannya, dan tubuh menjadi lebih bugar; hasil dari pelayanan ekonomi yaitu lansia menjadi mandiri secara ekonomi, tetap produktif, membantu lansia dalam mendapatkan modal usaha; hasil dari kegiatan pendidikan dan pelatihan antara lain menambah pengetahuan, mengasah keterampilan dan kreativitas lansia.
Aging is a phase that must be experienced by everyone later, starting from the limited activities that can be done because of the decrease in all the functions of the limbs. Conservative stigma is often attached to the elderly who are considered not creative, reject innovation and oriented to the past, difficult to change, stubborn and talkative, confused and unconcerned about the environment, prone to illness, loneliness and unhappiness. Handling of elderly who belong to the group of vulnerable groups managed by the state this is regulated in Article 5 of Law Number 39 of 1999 concerning Human Rights affirms that every person who belongs to a vulnerable group of people has the right to receive more treatment and protection with regard to their specificity. This study uses qualitative research methods with a descriptive approach. This method was chosen because it can explain in depth the phenomenon under study. The technique of determining the informant was done using the aiming informant method. The informants in this study amounted to eleven people consisting of the main informants, namely 9 elderly people, and the rest from the hamlet and social services. The research location was in the Development of Mugi Waras Elderly Family, Blendung Hamlet, Sumbersari Village, Moyudan District, Sleman Regency Yogyakarta Special Region which was the main residence of the informant. Data collection techniques used are through observation, interviews, and documentation. From the results of field research found that the Elderly Family Development appeared as an answer from the state to overcome the problems faced by the vulnerable groups. Although based on the community, Elderly Family Development is basically formed by the State, BKL Mugi Waras has the main task to provide health services for the elderly of Blendung Hamlet, there is a main individual who is the driving force of BKL Mugi Waras namely Ms. DJ. DJ plays an important role in his initiation related to the problems faced by the Blendung Hamlet community. His anxiety about problems faced in the village such as the tendency of the elderly population have difficulty adjusting to unemployment. Although community based but Elderly Family Development is basically formed by the State, BKL Mugi Waras has the main task to provide health services for elderly Blendung Hamlet. Elderly social services by Elderly Family Development (BKL) Mugi Waras includes counseling on Elderly Family Development (BKL), spiritual and religious activities, health services, economic services, and education and training services. The results obtained by the elderly from spiritual and religious activities are getting inner peace, strengthening faith, and being closer to God; results from health services that is able to maintain their health, and the body becomes more fit; results of economic services, namely the elderly become economically independent, remain productive, help the elderly in obtaining business capital; the results of education and training activities include increasing knowledge, honing the skills and creativity of the elderly.
Kata Kunci : Pelayanan Sosial, Komunitas, Lanjut Usia, Bina Keluarga Lansia