ASPEK DAN DINAMIKA SUBJECTIVE WELL-BEING PADA ANAK YANG DITITIPKAN DI PANTI ASUHAN (Studi Kasus di Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran)
RAHARDIANTI CITRA M, Tina Afiatin, Prof. Dr., M.Si., Psikolog
2018 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIPanti asuhan tidak hanya menjadi tempat bagi anak yang tidak memiliki orangtua. Terdapat orangtua yang menitipkan anaknya di panti asuhan dengan alasan ekonomi dan pendidikan yang lebih baik. Bagi anak yang masih memiliki orangtua tinggal di panti asuhan bukanlah perkara yang mudah, terutama yang sedang beranjak remaja. Menurut beberapa penelitian, keluarga berperan pada munculnya subjective well-being remaja. Kendati demikian, remaja tetap dapat memunculkan subjective well-being meski tinggal di panti asuhan dan minim interaksi dengan orangtua. Pengambilan data melalui wawancara panel dan observasi partisipatif. Penelitian melibatkan 3 responden anak panti asuhan usia remaja yang masih memiliki orangtua. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil menunjukkan aspek subjective well-being pada anak yang dititipkan di panti asuhan meliputi hubungan positif dengan orangtua dan penghuni panti asuhan, memiliki pengalaman baru yang menyenangkan selama di panti asuhan, kepuasan hidup karena terpenuhinya segala kebutuhan, dan konsep kebahagiaan yang terpenuhi. Munculnya subjective well-being karena faktor religiusitas dan spiritualitas, kepribadian, dan tujuan hidup.
The orphanage is not just a place for orphaned children. There are parents who sends their children to orphanages for economic reasons and better educational opportunities. For children who still have parents, living in an orphanage is certainly not an easy matter, especially for adolescents. According to several studies, families play a role in the development of subjective well-being in adolescents. However, adolescents can still develop subjective well-being despite living in an orphanage with little interaction with their biological parents. Data was collected by conducting panel interviews and participatory observation. This research involved three teenage respondents who still have complete parents but lives in the orphanage. A qualitative research method with a case study approach is used. The results shows the aspects of subjective well-being in children who are entrusted to the orphanage are a positive relationship with parents and orphanage residents, having a pleasant new experience while at orphanage, life satisfaction because the fulfillment of needs, and the concept of happiness that is fulfilled. The emergence of subjective well-being affected by factors of religiosity and spirituality, personality, and purpose of life.
Kata Kunci : Panti Asuhan, Remaja, Subjective Well-Being