Laporkan Masalah

PERLAWANAN DARI BAWAH : Kelompok Akar Rumput Menentang Pembangunan Trans Studio Semarang di Kawasan Cagar Budaya

SRI BINTANG PAMUNGKAS, Arya Budi S.I.P, MA

2018 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

#SaveTBRS adalah sebuah istilah yang populer di media sosial begitu isu pembangunan TransStudio Semarang bergejolak. Fokus penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor apa saja yang menjadikan gerakan #SaveTBRS tersebut muncul, bagaimana tahapan eskalasi dari perjuangan rakyat, strategi gerakan reclaiming seperti apa yang digalang oleh rakyat guna menolak pembangunan TransStudio Semarang dikawasan Cagar Budaya dan diakhiri dengan penjelasan mengenai keberhasilan dari tujuan gerakan dalam membengaruhi kebijakan yang telah disepakati pemerintah dengan pihak Trans Retail dalam pembangunan TransStudio Semarang Hasil dari penelitian ini menghasilkan tiga aspek kunci tentang bagaimana menggalang suatu gerakan yang mampu mempengaruhi kerasnya kebijakan sehingga kebijakan tersebut dapat berubah sesuai dengan tujuan. Pertama, dengan penggunaan social media sebagai basis penggiringan opini publik. Peran social media melalui jejaring situs Twitter, Instagram Facebook, Whatsapp dan Youtube berhasil mengcounter hegemony wacana yang dibangun oleh pemerintah yang di sokong oleh media massa, sehingga publik yang awalnya tidak tau menjadi tahu, yang tidak peduli menjadi peduli dan yang tidak tergerak menjadi tergerak untuk ikut serta ambil bagian guna mempertahankan cagar budaya Kota. Hal yang menarik dalam penelitian ini, netizen menunjukan respon yang sama atas isu tersebut, yakni menolak pembangunan TransStudio dikawasan tersebut. Kedua, pengerahan mobilisasi sumber daya sebagai upaya meningkatkan bargaining power gerakan. Karena peran social media yang begitu besar dalam penggiringan opini publik maka masyarakat memobilisasi diri maupun dimobilisasi untuk menyatukan kekuatan guna melakukan perlawanan, karena atas dasar kekecewaan dimana pemerintah membuat kebijakan yang lebih berpihak dan menguntungkan perut para elit politik predatoris di tingkat lokal. Secara garis besar dalam pengerahan mobilisasi sumber daya dilakukan secara 3 hal. Yaitu dengan melakukan aksi dan demonstrasi secara konvensional, melakukan pertunjukan wayang secara rutin setiap minggunya dan juga menyelenggarakan konser musik. Ketiga, peran Daniel Sekjend Dewan Kesenian Semarang (Dekase) sebagai pemimpin gerakan yang cerdik sekaligus licik. Daniel memang tak memperlihatkan badanya berlumur darah sebagai upaya reclaiming TBRS yang telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupanya sebagai seniman. Daniel juga tak pernah memperlihatkan mulutnya bersuara dengan lantang diatas podium melawan pemerintah atas kebijakan yang dinilai serampangan. Namun upaya yang dilakukan Daniel dalam mengambil posisi tawar yang tegas yang menolak pembangunan Trans Studio dilakukan dengan cara menggalang jaringan massa ditingkat basis akar rumput dan juga upaya diplomasi dengan pejabat daerah Kesimpulan penelitian ini yang berujung pada rumusan argument diatas diperoleh melalui metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan studi kasus di kawasan Tegalsari Semarang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan snowball sampling. Adapun sumber data yang diperoleh oleh peneliti dari beberapa informan ada 3 aktor sentral, yakni Pemerintah Kota Semarang beserta jajaranya, elemen masyarakat yang menolak pembangunan dan juga pihak TransStudio sebagai pemrakarsa pembangunan. Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder berupa dokumentasi dari pihak terkait, media massa, artikel jurnal dan juga regulasi perda terkait. Dalam validitas data yang digunakan oleh peneliti adalah menggunakan trianggulasi sumber data (pihak-pihak yang berkonflik), jenis data (primer dan sekunder) metode pengumpulan data (wawancara mendalam dan observasi) dan teknik analisis data

#SaveTBRS is a term that is popular on social media once the issue of the construction of TransStudio Semarang is turbulent. The focus of this research is to explore what factors make the #SaveTBRS movement appear, how the escalation stages of the people's struggle, the strategy of reclaiming movements like what was raised by the people to reject the construction of TransStudio Semarang in the Cultural Heritage area and ended with an explanation of the success of the movement's objectives in influencing policies that have been agreed by the government with Trans Retail in the construction of TransStudio Semarang The results of this research produce three key aspects of how to make a movement that is able to influence policy so that the policy can change according to the purpose. First, with the use of social media as the basis for driving public opinion. The role of social media through Twitter, Instagram, Facebook, Whatsapp and Youtube networking sites has successfully counted the hegemony of discourse that was built by the government supported by the mass media, so that the public who did not know about being aware, who didn't care about being caring and who were not moved became moved to take part in maintaining the City's cultural heritage. This point an interesting thing in this research, netizens showed the same response to the issue, all of them are rejecting the construction of TransStudio in the region. Second, the deployment of resource mobilization as an effort to increase the bargaining power of the movement. Because the role of social media is so great in driving public opinion, people mobilize themselves as well as mobilize to unite forces to fight, because on the basis of disappointment where the government making policies that are more impartial and beneficial for investors and local government elites. Generally, the mobilization of resource mobilization is carried out in 3 ways. That is by carrying out conventional actions and demonstrations, performing puppet shows regularly every week and also holding music concerts. Third, Daniel's influence as Secretary of the Semarang Arts Council (Dekase) as a smart and cunning movement leader. Daniel did not show his blood-laden body as a reclaiming effort for TBRS which has become part of his life and life as an artist. Daniel also never showed his mouth making a loud voice on the podium against the government over a haphazard policy. But the efforts made by Daniel in taking a firm bargaining position against the construction of Trans Studio were carried out by mobilizing a mass network at the grassroots level and also diplomatic efforts with local officials. The conclusion of this research which led to the formulation of the arguments above was obtained through descriptive qualitative research methods, with a case study in the Tegalsari area of Semarang City. Sampling technique using snowball sampling. The data sources obtained by researchers from several informants are 3 central actors, namely the Semarang City Government and its staff, elements of the community who reject development and also TransStudio as the initiator of development. In addition, researchers also use secondary data in the form of documentation from related parties, mass media, journal articles and also related regional regulations. In the validity of the data used by researchers is using triangulation of data sources (conflict parties), data types (primary and secondary) data collection methods (in-depth interviews and observations) and data analysis techniques. Keywords : Social Movement, Mobilization Resource, Contentious Politics, Reclaiming

Kata Kunci : social movement, contentious politics, reclaiming, resource mobilization

  1. S1-2018-364610-abstract.pdf  
  2. S1-2018-364610-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-364610-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-364610-title.pdf