Laporkan Masalah

CITRA LAKI-LAKI BARU DALAM NOVEL SEPERTI DENDAM RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN

YUDO SURYO HAPSORO, Drs. Muh. Arif Rokhman, M.Hum. Ph.D.

2018 | Tesis | MAGISTER SASTRA

Laki-laki sama halnya dengan perempuan, tergenderkan oleh sistem maskulinitas. Laki-laki dipaksa untuk mengikuti sebuah sistem agar mendapat pengakuan sebagai 'laki-laki'. Bagi mereka yang tidak bisa mencapai standar tersebut akan mendapat stigma negatif dari masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa maskulinitas tidak bersifat alami, tetetapi sebuah sistem gender yang tercipta dari proses sosial dalam ruang dan waktu. Sistem maskulinitas tradisional memiliki peluang untuk digantikan oleh jenis maskulinitas baru. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai laki-laki dan maskulinitas perlu diteliti untuk mendapatkan sudut pandang baru mengenai ‘menjadi laki-laki’. Penelitian ini merupakan kajian gender yang fokus pada proses pembentukan citra laki-laki baru. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan gender dan maskulinitas yang terbagi menjadi maskulinitas hegemonik serta maskulinitas subordinat yang didasarkan pada teori R.W.Connell. Novel karya Eka Kurniawan berjudul Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas memiliki beberapa tokoh laki-laki yang berseberangan dengan karakter maskulinitas hegemonik, yaitu bentuk maskulinitas tradisional yang menitikberakan pada laki-laki rasional, penentu, kompetitif, kuat secara fisik, mengesampingkan aspek emosional, dan non-feminin. Hasil dari peneltian ini menunjukkan bahwa konstruksi gender yang dibangun dalam novel ini masih mengarahkan pada konstruksi gender tradisional yang menempatkan perempuan sebagai sosok feminin dengan karakter lembut, menjadi objek seksual, lemah, dan bergatung pada laki-laki. Sedangkan laki-laki ditempatkan sebagai sosok maskulin dengan karakter menjadikan seksualitas sebagai identitas, bersikap penuh kekerasan, kuat, dan kompetitif. Proses rekonstruksi maskulinitas dengan menggunakan maskulinitas hegemonik dan maskulinitas subordinat sebagai dasar, menunjukkan bahwa terdapat tokoh yang memiliki karakter menyimpang dari maskulinitas hegemonik atau merupakan kombinasi karakter dari maskulinitas dan femininitas. Rekonstruksi tersebut membentuk sebuah pandangan baru mengenai identitas laki-laki yang tidak harus terikat oleh identitas maskulinitas tradisional. Adanya citra laki-laki baru yang keluar dari citra maskulinitas hegemonik, tidak secara otomatis menempatkan tokoh-tokoh tersebut pada posisi subordinat.

Men similar to women, they are gendered by a system of masculinity. Men are forced to follow the system to get recognition as 'men'. For those who can't reach these standards will get negative stigma from the community. This shows that masculinity isn't something natural, but a system created by social processes within time and space. Traditional masculinity system has the opportunity to be replaced by new types of masculinity. Therefore, discussion about men and masculinity needs to be examine to get a new perspective. This research is using a gender study that focused on the process of forming a nem men image. This research takes a gender approach and masculinity which is divided into hegemoninc masculinity and subordinate masculinity based on the theory of R.W.Connell. A novel by Eka Kurniawan entitled Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas has several male characters who are opposed to the character of hegemonic masculinity, that is the traditional form of masculinity that tells men to be rational, decisive, competitive, physically strong, neglect the emotional sides, dan non-feminine. This study shows that gender construction in this novel leads to traditional gender construction that positioned women as feminine, to become sexual object, weak, and dependent on men. While men are violence, strong, and competitive. The process of reconstructing masculinity using hegemonic masculinity and subrodinate masculinity as a theory to shows that there are chraracters who have deviant characteristic from hegemonic masculinity. This characteristic is a combination of masculinity and femininity. Reconstruction forms a new view of male identity that doesn't have bounded by traditional masculinity identities. The existence of a new male image that comes out of the image of hegemonic masculinity does not automatically positioned these characters in subordinate position.

Kata Kunci : laki-laki, konstruksi gender, maskulinitas hegemonik, maskulinitas subordinat, citra laki-laki baru

  1. S2-2018-389077-abstract.pdf  
  2. S2-2018-389077-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-389077-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-389077-title.pdf