MANAJEMEN RANTAI PASOK BAWANG MERAH DI KABUPATEN BANTUL
WULAN PRIANTIKA, Dr. Ir Suhatmini Hardyastuti, M.S
2018 | Tesis | Magister Manajemen AgribisnisBawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai strategis untuk dipasarkan. Konsep manajemen rantai pasok pada bawang merah akan lebih sulit disebabkan karakteristik buah bawang merah yang bulky, perishable dan musiman serta rumitnya rantai kelembagaan pelaku rantai pasok akan mempengaruhi kinerja manajemen rantai pasok. Data dianalisis dengan menggunakan Supply Chain Operations Research dan indeks monopoli rantai pasok. Responden yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 68 orang terdiri dari 60 orang petani, 2 orang tengkulak, 3 orang pedagang pengepul, dan 3 orang pedagang pengecer. Pelaku rantai pasok bawang merah di Kabupaten Bantul yaitu petani, tengkulak, pedagang pengepul, dan pedagang pengecer. Ada 3 jenis aliran bawang merah yang terjadi pada rantai pasok bawang merah. Jenis informasi yang terdapat rantai pasok hanya ada dua jenis yaitu informasi harga dan informasi kuantitas (jumlah) yang diminta supplier luar kota. Kinerja Supply Chain Reliability yang diperoleh adalah 88,34 (baik), Supply Chain Responsiveness adalah 3 hari (baik sekali), Supply Chain Agility tidak dapat dihitung disebabkan pelaku rantai pasok tidak menghadapi kondisi dimana adanya permintaan meningkat 20% dari jumlah bawang merah yang telah disetorkan sebelumnya selama jangka waktu 30 hari berturut-turut, Supply Chain Cost dengan nilai 1,42 (cukup baik), Supply Chain Asset Management adalah 41,03 pada metrik waktu siklus (kurang) dan 0,44 pada metrik tingkat pengembalian tetap (sangat kurang). Tengkulak yang memiliki kekuatan monopoli paling besar dengan indeks monopoli 7,44. Efisiensi pemasaran tertinggi terdapat pada saluran 3 dan merupakan saluran pemasaran paling efisien. Rantai pasok dari petani ke tengkulak kemudian ke pengepul dan dari pengepul ke pengecer merupakan rantai pasok yang paling banyak dan mendominasi dalam rantai pasok bawang merah di kabupaten Bantul
Onion is one of the horticultural commodities that have strategic value to be marketed. The concept of supply chain management will be more difficult than the large red fruit factor, easily damaged and damaged will also cause changes in the structure of the group. Data were analyzed using Supply Chain Research Research and Supply Chain Monopoly Index. Respondents in this study were 68 people consisting of 60 peasants, 2 middlemen, 3 merchants, and 3 retailers. The perpetrators of the red meat supply chain in Bantul Regency are farmers, middlemen, merchant collectors, and retailers. There are 3 types of onion flow that occur in the structure of red meat supply. The type of information that there is a supply chain there are only two types of price information and information quantity (number) proposed supplier out of town. Supply Chain Reliability performance obtained is 88.34 (good), Supply Chain Responsiveness is 3 days (excellent), Supply Chain Agility cannot be calculated using an unqualified supply chain where demand increases 20% of the amount deposited previously during the term time 30 consecutive days, Supply Chain Costs with a value of 1.42 (good enough), Supply Chain Asset Management is 41.03 in the cycle time metric (less) and 0.44 in fixed rate metrics (very less). The middleman has the greatest monopoly power with a monopoly index of 7.44. Proven highest on channel 3 and is the most efficient. The supply chain of farmers to wholesalers to retailers are the most numerous and confusing supply chain in the red meat supply group in Bantul district.
Kata Kunci : manajemen rantai pasok, bawang merah, SCOR, Indeks Monopoli