PENENTUAN KRITERIA EVALUASI PENAWARAN SISTEM NILAI PADA PROSES PENGADAAN BARANG DAN JASA di PT PERTAMINA GAS MELALUI METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS
Asep Bhakti Mihardja, Fahmy Radhi, Dr., M.B.A
2018 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN (KAMPUS JAKARTA)Dalam proses Pengadaan Barang dan Jasa di Pertagas, Metode Sistem Nilai belum memiliki standar pembobotan yang baku dan belum secara jelas diatur dalam pedoman sehingga baik Fungsi Perencana maupun Fungsi SCM belum memiliki acuan bila akan melaksanakan evaluasi penawaran dengan Sistem Nilai. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kriteria Evaluasi Penawaran Sistem Nilai dalam proses Pengadaan Barang dan Jasa dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP), mengetahui kelebihan dan kekurangan pada metode AHP dan merumuskan kriteria dan subkriteria terbaik untuk proses evaluasi penawaran. Analisis penelitian ini dibantu dengan software expert choice 11.1. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya 4 (empat) kriteria utama dalam proses pengadaan barang dan jasa, dimana prioritas pertama yang harus dilengkapi dan diperhatikan oleh panitia dan peserta lelang dalam dokumen penawaran sistem nilai adalah kriteria Evaluasi HSE dengan bobot 39,00% dengan tingkat inconsistency tidak lebih dari 10%. Simulasi penggunaan bobot yang telah dihasilkan melalui metode AHP pada proses pengadaan yang telah dilakukan dengan sistem gugur tetap menunjukkan KKM sebagai pemenang lelang. Metode AHP dapat memecahkan permasalahan yang kompleks (complexity) dan memberikan kemudahan dalam menyusun struktur hierarki (hierarchy structuring) dari kriteria yang ada tetapi penerapan metode AHP ini sangat didominasi oleh persepsi dari responden (expert) yang dapat mempengaruhi konsistensi penilaian dan hasil pembobotan. Dalam bobot global Surat Keterangan Lulus CSMS (ES2) menjadi faktor terbaik dari 28 subkriteria yang memiliki bobot global paling besar yaitu 16,77%. Hal ini menunjukkan pentingnya aspek HSE bagi proyek investasi karena terkait langsung dengan keselamatan pekerja dan keberlangusungan proyek investasi.
In the Procurement of Goods and Services, Pertagas does not have a standardized weighting in Merit System Method and has not been clearly regulated in the guidelines so that both the Planner Function and the SCM Function do not have a uniform reference when evaluating bids with the Merit System. This research aims to evaluate the Merit Sytem Bid Evaluation criteria in the Procurement of Goods and Services using the Analytic Hierarchy Process (AHP) method, knowing the advantages and disadvantages of the AHP method and formulating the best criteria and subcriteria for the bid evaluation process. This research analysis is assisted by expert choice software 11.1. The results show that there are 4 (four) main criteria in the process of procurement of goods and services, where the first priority that must be completed and considered by the committee and bidder in the Merit System bidding document is the HSE Evaluation criteria with a weight of 39.00% with an inconsistency level not more than 10%. Simulation of the use of weights that have been generated through the AHP method in the procurement process that has been carried out in a knockout system still shows KKM as the auction winner. The AHP method can solve complexity problems and provide convenience in structuring hierarchy structures from the existing criteria but the application of the AHP method is very much dominated by the perception of respondents (experts) that can influence the consistency of assessment and weighting results.In the global weight, the Certificate of Graduation from CSMS (ES2) is the best factor of 28 subcategories that have the largest global weight of 16.77%. This shows the importance of HSE aspects for investment projects because it is directly related to the safety of workers and the sustainability of investment projects.
Kata Kunci : Pengadaan Barang dan Jasa, Sistem Nilai, AHP, Kriteria, Subkriteria, Expert Choice