Laporkan Masalah

Evaluasi Efektivitas Program "PEKKA" dalam Memberdayakan Ekonomi Rumah Tangga dengan Kepala Rumah Tangga Perempuan

DYAH KARTIKA, Eny Sulistyaningrum, M.A., Ph.D

2018 | Tesis | Magister Ekonomika Pembangunan

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan jumlah rumah tangga yang dikepalai perempuan mencapai 13% pada tahun 2001 yang kemudian meningkat 13,6% pada tahun 2007 serta telah menjadi 14% pada tahun 2010 (PEKKA 2011, 15). Kenaikan tersebut menjadi masalah karena rumah tangga yang dikepalai perempuan umumnya miskin dan merupakan kelompok termiskin dalam strata sosial ekonomi di Indonesia. Kondisi tersebut yang melatarbelakangi munculnya program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) pada tahun 2001 dengan fokus pemberdayaan pada bidang ekonomi serta hukum dan politik. Dengan menggunakan data sekunder tahun 2011 dan 2014 yang mengambil lokasi di 4 provinsi dengan awal mulai mendapat intervensi PEKKA pada tahun 2011, penelitian ini mencoba mengukur dampak dari program PEKKA terhadap kelompok kepala rumah tangga perempuan penerima program (kelompok Pekka). Dampak PEKKA diukur menggunakan Propensity Score Matching (PSM) terhadap outcome pendapatan rumah tangga dari usaha, pendapatan dari aset/harta rumah tangga, kepemilikan tabungan dan akses terhadap pinjaman dari lembaga keuangan formal. Hasilnya, program PEKKA belum berhasil memperkecil kesenjangan pendapatan rumah tangga dari usaha antara rumah tangga dengan kepala rumah tangga laki-laki dan perempuan, dengan pendapatan kepala rumah tangga laki-laki jauh lebih besar. Kesenjangan semakin lebar dengan meningkatnya kesejahteraan. Program PEKKA juga belum berhasil memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan dari kepemilikan aset/harta rumah tangga, karena pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan pendapatan kelompok Pekka dan Non Pekka. Dalam hal kepemilikan tabungan, program PEKKA juga belum memberikan dampak yang signifikan. Peningkatan akses pada kelompok Pekka diiringi penurunan akses oleh kelompok Non Pekka sehingga secara statistik menjadi tidak signifikan. Meski akses kelompok Pekka meningkat, namun kemampuan saving tersebut semakin rendah pada kelompok miskin. Program PEKKA juga belum memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan akses terhadap pinjaman dari lembaga keuangan formal Bank dan Non Bank. Mayoritas rumah tangga masih mengandalkan pinjaman dari saudara/keluarga/teman, barang kredit dan kelompok sosial di masyarakat.

The data from National Social Economy Survey (Susenas) shows that the number of households headed by women reached 13% in 2001, which then it increased 13.6% in 2007 and it became 14% in 2010 (PEKKA, 2011: 15). The increase has become a problem since female household heads are generally poor and are the poorest groups in the socio-economic strata in Indonesia. This condition is the background of the emergence of the Empowerment of Female Heads of Households Program (PEKKA) in 2001 focusing on empowerment in the economic and legal and political fields. Using 2011 and 2014 secondary data in which taking place in 4 provinces with the initial start of PEKKA intervention in 2011, this study tried to measure the impact of PEKKA program on the group of female heads of households receiving program beneficiaries (Pekka groups). The impact of PEKKA is measured by using Propensity Score Matching (PSM) on the outcome of household income from enterprise, income from household assets, saving ownership and access to loans from formal financial institutions. As the result, PEKKA program has not succeeded in reducing the gap in household income from businesses between households with male and female heads households - the income of male household heads is much higher. The gap is getting widened by increasing welfare. PEKKA program has also not succeeded in having a significant impact on increasing income from ownership of household assets, for at the same time there has been an increase in the income of Pekka and Non-Pekka groups. In saving ownership, PEKKA program also has not shown a significant impact. The increase in access for Pekka groups has been accompanied by a decrease in access for Non-Pekka groups so that it statistically becomes insignificant. Although the access of Pekka groups has increased, however, the ability of saving is getting lower in the poor group. PEKKA program has also not provided a significant impact in increasing access to loans from formal financial institutions; banks and non-bank. The majority of households still rely on loans from relatives/family/friends, credit goods and social groups in the community.

Kata Kunci : pemberdayaan, perempuan, ekonomi, PEKKA, Pekka

  1. S2-2018-406965-abstract.pdf  
  2. S2-2018-406965-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-406965-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-406965-title.pdf