NILAI TAMBAH, EFISIENSI, DAN KELAYAKAN AGROINDUSTRI GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN MADIUN
YOESTI SILVANA A, Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P.
2018 | Tesis | MAGISTER EKONOMI PERTANIANTebu dikenal oleh masyarakat sebagai bahan baku pembuatan gula kristal putih oleh pabrik-pabrik gula yang besar. Selain diolah di pabrik, tebu juga dapat diolah menjadi gula merah tebu oleh pengrajin di Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Usaha pengolahan gula merah tebu berbasis home industry dengan berbagai permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui besarnya nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan tebu menjadi gula merah tebu, 2) mengetahui tingkat efisiensi relatif pada masing-masing industri pengolahan gula merah tebu dan 3) mengetahui kelayakan finansial usaha agroindustri gula merah tebu di Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kebonsari dengan melibatkan 13 pengrajin gula merah tebu yang diambil dengan metode sensus. Analisis nilai tambah dengan menggunakan metode Hayami. Analisis efisiensi relatif dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA), model Charnes, Cooper dan Rhodes (CCR) yang berorientasi output. Analisis kelayakan usaha dengan menggunakan metode NPV, IRR, Gross B/C, Net B/C, Discounted Payback Period dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan nilai tambah sebesar Rp 1.051,00 dengan rasio 58,28% yang tergolong tinggi dan usaha gula merah tebu termasuk usaha yang padat modal karena persentase keuntungan pemilik modal lebih besar daripada proporsi pendapatan tenaga kerja dan sumbangan input lain. Analisis efisiensi relatif menghasilkan 3 DMU yang efisien dan 10 DMU yang inefisien dari total 13 DMU yang diteliti. Hasil analisis kelayakan usaha agroindustri gula merah tebu dengan umur ekonomis selama 10 tahun dan tingkat suku bunga sebesar 9% adalah nilai Gross B/C sebesar 1,085, Net B/C sebesar 1,153, IRR sebesar 12% dan discounted payback period selama 8,74 tahun sehingga usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan. Analisis sensitifitas menghasilkan bahwa usaha tersebut termasuk usaha yang tidak sensitif terhadap goncangan harga input dan harga output.
Sugar cane is known as raw material for making white crystal sugar by sugar factories. In addition to processed in the factory, sugar cane can also be processed into brown sugar by craftmen in Kebonsari District, Madiun District. This study aimed to determine: 1) the added value obtained from the processing of brown sugar, 2) the relative efficiency level of each brown sugar processing industry and 3) the financial feasibility of brown sugar agroindustry. This research was conducted in Kebonsari District with 13 brown sugar craftmen taken with census method. Value added analysis used Hayami method. Relative efficiency analysis used DEA, CCR model of output-oriented. Feasibility analysis used NPV, IRR, Gross B/C, Net B/C, Payback Period (PP) and sensitivity analysis. The result of the research showed that the added value of Rp 1,051.00 with a high 58.28% ratio and brown sugar business including capital-intensive business because the percentage of profit of the owner of capital was greater than the proportion of labor income and other input contribution. Relative efficiency analysis showed that there were 3 efficient DMUs and 10 DMUs inefficient. The results of brown sugar agroindustry feasibility analysis with economic life for 10 years and interest rate of 9% are Gross B/C value of 1.085, Net B/C of 1,153, IRR of 12% and PP for 8.74 years so that brown sugar business is feasible to be developed. The sensitivity analysis resulted in the effort including those that were insensitive to input price shocks and output prices.
Kata Kunci : Value Added, Relative Efficiency, Feasibility, Brown Sugar