Laporkan Masalah

Memaknai Sejarah 1965 Lewat Video Pertunjukan MWATHIRIKA

TIKA SAVITRI, Dr. phil. Vissia Ita Yulianto ; Prof. Dr. Suminto A. Sayuti

2018 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPA

G30S 1965 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Negara Indonesia. Peristiwa itu merupakan transisi kekusaan Orde Lama ke Orde Baru. Proses tersebut dianggap penting untuk dipelajari oleh generasi muda hingga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memasukannya dalam kurikulum pelajaran Sejarah. Dalam buku pelajaran Sejarah konflik-konflik seputar tahun 1965 dituliskan sebagai peristiwa optimis yang membawa perubahan Indonesia menuju arah yang lebih baik (era pembangunan). Hal ini justru berbanding terbalik di ranah seni. Dunia seni justru menggambarkan peristiwa tersebut sebagai proses kelam dan mencekam. Salah satu karya seni pertunjukan yang mengangkat tema G30S adalah teater boneka kontemporer Mwathirika dari Papermoon Puppet Theatre. Mwathirika menceritakan tentang seorang anak yang kehilangan orang-orang terdekat karena terjadi peristiwa besar di Negaranya. Mwathirika tidak menceritakan secara spesifik mengenai transisi kekuasaan, tetapi mengkedepankan tentang rasa kehilangan yang dialami oleh korban peristiwa tersebut. Buku Sejarah yang ditulis oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga mencantumkan mengenai banyaknya korban yang timbul, namun tidak mencantumkan bahwa terdapat pula orang-orang yang mencadi korban tanpa ada sangkut pautnya dengan G30S. Berdasarkan analisis singkat tersebut penulis mengajukan hipotesa bahwa seni pertunjukan bisa menjadi suplemen yang baik bagi pendidikan formal sehingga siswa bisa memperluas cara pandangnya. Untuk menguji hipotesa tersebut maka diajukan pertanyaan: bagaimana Mwathirika, sebagai seni kontemporer, bisa berkontribusi dalam proses pembelajaran sejarah dalam pendidikan formal terutama dalam jenjang Sekolah Menengah Atas dan setara? Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif atau wawancara mendalam dengan siswa SMA. Siswa SMA dipilih menjadi subjek kajian karena mereka adalah pengguna terakhir ilmu yang diberikan oleh lembaga pendidikan. Pemilihan informan dilakukan dengan cara mengundang siswa SMA untuk mengikuti screening video Mwathirika. Setelah itu meminta para responden untuk menulis esai pendek. Dari esai yang terkumpul akan dipilih beberapa informan kunci yang representatif.

Education in Indonesia never ran short of its critics; academics have been pointing out about the lack of depth and alternatives in the education system. The critics are not without its flaws, though, since there are still issues which are seldom touched like the students as subjects themselves and how they respond to the information given. Therefore, this study is conducted to discuss the process of forming critical thinking among high school students, specifically towards Indonesia's history in 1965, through alternative media of a puppet theater performance video. The text which this study tries to analyze is taken from Indonesia's history textbook published by the Ministry of Education and Culture in 2013; in which a sub-chapter entitled 'Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI)' is focusing about the alleged "insurgency" by PKI, or Indonesian Communist Party, at the time. The information given in the text serves as the states official historical representation of PKI. Said text is then put side by side with video of Mwathirika performance by Papermoon Puppet Theater (2012) to provide the role as alternative narration about similar issues. Using the lens of Structuralism, one can figure out how these two media narrate the 1965 history, thus one can then further analyze how the differing ways of conveying similar messages affect how the students make sense and make meanings of what happened in 1965.

Kata Kunci : Seni pertunjukan, pendidikan, teater boneka, pelajaran sejarah, G30S, PKI

  1. S2-2018-372643-abstract.pdf  
  2. S2-2018-372643-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-372643-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-372643-title.pdf