SUSTAINABILITAS LEMBAGA KEUANGAN MIKRO KELOMPOK USAHA BERSAMA (LKM KUBE) DI KOTA YOGYAKARTA (Studi Kasus LKM KUBE di Kota Yogyakarta)
DIAN RATRI, Dr. Suripto, S.IP, MPA
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PUBLIKSalah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan adalah dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang merupakan sebuah program pemberdayaan sosial. KUBE terdiri dari beberapa kepala keluarga yang memiliki usaha sosial ekonomi produktif. Untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif mereka, maka anggota KUBE memerlukan akses tambahan modal. Sayangnya, akses mereka terhadap lembaga keuangan formal seperti bank masih sangat terbatas. Dalam rangka memberikan kemudahan akses bagi anggota KUBE ini, maka pemerintah kemudian menginisiasi pembentukan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) KUBE yang merupakan gabungan dari sedikitnya sepuluh KUBE. Sesuai dengan tujuan pembentukannya, maka LKM KUBE diarahkan untuk memberikan pinjaman kredit lebih banyak kepada anggota KUBE dibandingkan dengan masyarakat umum, dengan harapan agar anggota KUBE memiliki kemudahan akses keuangan sehingga dapat mendukung perkembangan perekonomian produktif mereka. Namun dalam perjalanannya, LKM KUBE mengalami perkembangan yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana LKM KUBE sustainable dari segi kapasitas kelembagaan dan dari segi permodalan. Terdapat enam LKM KUBE di sini, yaitu LKM Binus, LKM Umbulharjo, LKM Wirobrajan, LKM Danurejan, LKM Kotagede, dan LKM USEP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan purposive sampling melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menjelaskan implementasi LKM KUBE sebagai sebuah kebijakan pemerintah. LKM kemudian mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan berbeda-beda salah satunya dalam rangka menjaga sustainabilitas kelembagaan mereka. Dari eksplorasi yang dilakukan, didapatkan hasil yaitu: (1) LKM Binus, LKM Umbulharjo, LKM Wirobrajan, dan LKM Kotagede dapat sustainable dari segi kapasitas kelembagaan dan permodalan; (2) LKM Danurejan masih mampu sustainable dari segi kapasitas kelembagaan, namun tidak sustainable dari segi permodalan (3) LKM USEP tidak sustainable, baik dari segi kapasitas kelembagaan maupun permodalan.
One of the government's efforts in resolving poverty is by establishing a Kelompok Usaha Bersama (KUBE) which is a social empowerment program. KUBE consists of several heads of families who have socially productive economic busineses. To develop their productive economic activities, KUBE members need access to additional capital. Unfortunately, their access to formal financial institutions such as banks is still very limited.In order to facilitate access for KUBE members, the government then initiated the establishment of a KUBE Lembaga Keuangan Mikro (LKM) which is a joint of at least ten KUBEs. In accordance with the objectives of its formation, the LKM KUBE directed to lend more credit to members of KUBE compared with the general population, with the hope that members of KUBE have easy access to finance in order to support the development of their productive economy. But along the way, the LKM KUBE has developed differently. This study aims to determine the extent to which LKM KUBE sustainable in terms of institutional capacity and in terms of capital. There are seven KUBE LKMs here, namely LKM Binus, LKM Umbulharjo, LKM Wirobrajan, LKM Danurejan, LKM Kotagede, and LKM USEP. This research is a qualitative descriptive study using purposive sampling through observation, interviews, and documentation. This research explains the implementation of KUBE LKM as a government policy. The LKM then implements these policies differently in order to maintain their institutional sustainability.From the exploration conducted, the results obtained are: (1) LKM Binus, LKM Umbulharjo, LKM Wirobrajan, and LKM Kotagede can be sustainable in terms of institutional capacity and capital; (2) LKM Danurejan still able to be sustainable in terms of institutional capacity, but not sustainable in terms of capital; (3) LKM USEP is not sustainable, both in terms of institutional capacity and capital.
Kata Kunci : sustainabilitas/sustainability, LKM KUBE, implementasi/implementation