Laporkan Masalah

IMMOBILITAS PENDUDUK TERDAMPAK ROB DI PESISIR SEMARANG

CHOIRUL AMIN, Dr. Sukamdi, M.Sc., Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.

2018 | Disertasi | DOKTOR ILMU GEOGRAFI

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) menjelaskan secara teoretis immobilitas penduduk di daerah rawan bencana dan (2) menguraikan pengambilan keputusan tinggal di daerah rawan bencana. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran yang diadopsi dari Creswell (2003, 2014) dengan desain multi-fase, yaitu: Fase I (observasi-kualitatif), Fase II (survei-kuantitatif), dan Fase III (grounded-kualitatif). Pengumpulan data Fase I menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam kepada penduduk terdampak rob di Pesisir Semarang. Hasil Fase I berupa isu-isu utama yang didalami pada Fase II. Pengumpulan data pada Fase II menggunakan metode survei. Populasi penelitian adalah Kepala Keluarga di Kampung Tambak Lorok yang terdampak rob, paling padat penduduk, dan memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak di Kelurahan Tanjung Emas. Jumlah sampel sebanyak 235 sampel yang diambil menggunakan teknik proporsional area sampling. Data penelitian Fase II dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis model struktural dengan SEM PLS yang hasilnya berupa Model Keputusan Tinggal. Model ini dielaborasikan dengan hasil Fase III. Pengumpulan data Fase III menggunakan wawancara mendalam terhadap 12 informan pengambil keputusan tinggal dan 6 informan pemangku kepentingan. Hasil penelitian adalah (1) terdapat 3 tipe penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana berdasarkan keinginan tinggalnya yaitu: Tipe 1, mereka yang ingin tetap tinggal; Tipe 2, mereka yang ragu antara tinggal atau pindah; dan Tipe 3, mereka yang tidak ingin tinggal. Masing-masing tipe memiliki perbedaan signifikan dalam hal daerah asal, umur, lama tinggal, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan penghasilan; (2) Pemodelan menggunakan SEM PLS menunjukkan bahwa Model Keputusan Tinggal yang dikembangkan memiliki determinasi yang kuat, ukuran pengaruh yang besar, dan tingkat generalisasi yang cukup besar sehingga model ini dapat digunakan sebagai dasar penelitian empiris lebih lanjut mengenai faktor yang mempengaruhi keputusan tinggal di daerah rawan bencana; (3) Unit pengambilan keputusan tinggal adalah rumah tangga; (4) Keputusan tinggal diambil melalui 7 tahap yaitu: stimulus: ancaman bencana, valuasi lokasi, adaptasi, resiliensi, amenitas, pengambilan keputusan, dan review keputusan; (5) Proses pengambilan keputusan tinggal dipengaruhi oleh praktik sosial yang melibatkan tiga konsep yaitu Habitus, Modal, dan Arena. Arena berupa lingkungan fisik yang terdegradasi oleh kejadian bencana dipengaruhi oleh Habitus yang membentuk dan dibentuk oleh aktor melalui Modal sosial dan ekonomi yang dipertaruhkan di dalam arena tersebut; (6) Faktor Penahan (Hold Factor) merupakan konsep penting yang dapat menjelaskan mengapa orang tidak bermigrasi (immobile) dari daerah rawan bencana. Faktor Pengikat dapat berupa: ikatan lokasi, ikatan keluarga, ikatan sosial, dan ikatan pekerjaan; (7) Persamaan Immobilitas Bencana merupakan kerangka teoritis untuk menjelaskan perilaku migrasi penduduk di daerah rawan bencana, dalam hal ini Immobilitas Bencana adalah akumulasi dari Valuasi daerah tempat tinggal dan Adaptasi terhadap bencana yang dikuatkan oleh Faktor Penahan. Persamaan Immobilitas Bencana dinotasikan: ImB = V + A + |P|.

The objectives of this study were to (1) explain theoretically the immobility of the population in disaster-prone areas and (2) to decipher the decision to live in disaster-prone areas. This study uses a mixed method adopted from Creswell (2003, 2014) with multi-phase design, namely: Phase I (observation-qualitative), Phase II (survey-quantitative), and Phase III (grounded research-qualitative). The data collection in Phase I uses observation and in-depth interviews of the tidal inundation affected the population in Semarang Coastal area. The results of Phase I were the main issues that were then explored in Phase II. Data collection in Phase II using survey method. The research population is the head of households in Kampung Tambak Lorok, Tanjung Emas Village which is the village with the largest migration push factor on the coast of Semarang. The sample size is 235 households taken using proportional sampling area technique. Phase II research data were analyzed using descriptive analysis and structural model analysis with SEM PLS which resulted in the Staying Decision Model. This model is elaborated with Phase III results. Phase III data collection used in-depth interviews of 12 decision makers informants and 6 stakeholder informants. The results of the research are (1) there are 3 types of people living in disaster-prone areas based on their staying intention: Type 1, those who want to stay; Type 2, those who uncertain between living or moving; and Type 3, those who do not want to stay. Each type has significant differences in terms of place of origin, age, length of stay, education level, occupation, and income; (2) The Staying Decision Model developed using SEM PLS has strong determination, large effect size, and a considerable degree of generalization so that this model can be used as a basis for further empirical research on the factors influencing the decision to stay in disaster-prone areas; (3) Staying decision making units are households; (4) The decision to stay is taken through 7 stages: stimulus: disaster threat, location valuation, adaptation, resilience, amenities, decision making, and review of decision; (5) The decision-making process remains influenced by social practices involving three concepts of Habitus, Capital, and Field. The Field of physical environments degraded by disasters is influenced by Habitus that form and shaped by actors through the social and economic Capital; (6) Hold Factor is an important concept that can explain why people do not migrate (immobile) from disaster-prone areas. The hold factors can be: location ties, family ties, social ties, and employment ties; (7) Disaster Immobility Equation is a theoretical framework for explaining the behavior of population migration in disaster-prone areas, where Disaster Immobility is the accumulation of Values of the area of residence and Adaptation to disasters multiplied by the Hold Factor. Disaster Immobility Equation denoted DIm = V + A + |P|.

Kata Kunci : Migrasi, Immobilitas, Perubahan Iklim, Rob, Penurunan Tanah, Tambak Lorok

  1. S3-2018-371691-abstract.pdf  
  2. S3-2018-371691-bibliography.pdf  
  3. S3-2018-371691-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2018-371691-title.pdf