Laporkan Masalah

STRATEGI MERUANG DAN ADAPTASI MASYARAKAT PASCA BENCANA GEMPA BUMI 2013 DI DESA MEDANA KECAMATAN TANJUNG KABUPATEN LOMBOK UTARA NUSA TENGGARA BARAT

LAYLAN JAUHARI, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc; Doddy Aditya Iskandar, S.T., MCP., Ph.D.

2018 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Bencana alam merupakan suatu fenomena alam yang selalu menjadi topik hangat pembicaraan hingga saat ini, salah satunya yakni bencana alam gempa bumi. Kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu wilayah dengan intensitas kejadian bencana alam gempa bumi tinggi di Pulau Lombok. Pada hari Sabtu, 22 Juni 2013 terjadi bencana alam gempa bumi yang menyebabkan kerusakan hampir di seluruh wilayah Kabupaten Lombok Utara. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah dari bencana alam gempa bumi tersebut yakni di wilayah Desa Medana, Kecamatan Tanjung. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan bentuk strategi meruang dan adaptasi yang dilakukan masyarakat Desa Medana pasca bencana alam gempa bumi Juni tahun 2013. Lokasi penelitian terletak di Desa Medana dengan fokus pada 4 (empat) dusun dengan kondisi kerusakan terparah yakni Dusun Gol, Dusun Kopang, Dusun Orong Kopang dan Dusun Orong Ramput. Penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dengan metode analisis deskriptif kualitatif serta objek amatan yakni masyarakat dan lingkungan permukimannya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi non-partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masyarakat Desa Medana memiliki upaya/strategi untuk bertahan dari ancaman bencana alam gempa bumi yakni dengan melakukan perubahan fisik lingkungannya melalui dua aktifitas yakni, (1) merubah konstruksi bangunan rumah, dimana strategi ini dilakukan oleh masyarakat setelah mengetahui kekurangan/kesalahan mereka dalam membangun konstruksi rumah yang belum sesuai standar; dan (2) menentukan lokasi rumah baru yang lebih dekat dengan jalan utama, hal ini dilakukan dengan maksud untuk dapat lebih dekat dengan tetangga dan memudahkan evakuasi jika terjadi bencana alam gempa bumi dikemudian hari. Sedangkan strategi meruang masyarakat Desa Medana dapat diketahui dari adanya (1) aktivitas yang terjadi dalam ruang berugaq, dimana masyarakat memanfaatkan ruang berugaq sebagai ruang sosial yang dapat berubah fungsi menjadi ruang menyelamatkan diri saat dan pasca terjadinya bencana alam gempa bumi; (2) masyarakat Desa Medana memiliki hubungan kekerabatan yang menjadi identitas permukimannya, sehingga dapat memicu lahirnya hubungan sosial (social capital) antar masyarakat yang lebih erat; (3) keberadaan lahan perkebunan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai ruang alternatif sumber penghidupan pasca terjadinya bencana alam gempa bumi Juni 2013 yang lalu.

Natural disasters are a natural phenomenon that has always been a hot topic of conversation today, one of them is the earthquake. North Lombok Regency is one of the regions with high intensity of natural disaster earthquakes in Lombok Island. On Saturday, June 22, 2013 occurred the earthquake which caused damage to almost all regions in North Lombok regency. One of the areas affected was quite severe from the earthquake is the Medana Village area, Tanjung District. This study aims to formulate a form of the strategy of spatial behaviors and adaptation by the Medana Village community after the earthquake in June 2013. The research location is situated in Medana Village with a focus on 4 (four) hamlets with the worst damage conditions, namely Gol Hamlet, Kopang Hamlet, Orong Kopang Hamlet and Orong Ramput Hamlet. This study uses an inductive approach with qualitative descriptive analysis methods and the observed objects are community and settlement environment. Data collection methods are carried out by non-participatory observation, in-depth interviews and documentation. Based on the results of the study, it is known that Medana Village's community have an strategy to survive the threat of the earthquake, that by making changes to their physical environment through two activities, namely, (1) changing the construction of house buildings, where this strategy is carried out by the community after knowing the deficiencies/errors they build houses that have not been appropriate construction standards; and (2) determine the location of new house that are closer to the main road, this is done with the intent to get closer with neighbors and facilitate the evacuation in the event of an earthquake in the future. Whereas the strategy of spatial behaviors Medana Village community can be seen from (1) activities that occur in berugaq space, where the community utilizes berugaq space as a social space which can be changed into a space to save themselves during and after the earthquake; (2) the Medana Village community has a kinship relationship that identifies the settlement, so it can trigger the emergence of social capital between closer communities; (3) the existence of plantation land is used by the community as an alternative source of livelihood space after the occurrence of the earthquake in June 2013 ago.

Kata Kunci : strategi meruang, strategi adaptasi, bencana alam, gempa bumi, berugaq

  1. S2-2018-407683-abstract.pdf  
  2. S2-2018-407683-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-407683-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-407683-title.pdf