GENERAL AND APPLIED TOLERANCE AS THE OUTCOME OF INTERFAITH DIALOGUE: ASSESSING PERSPECTIVES ON RELIGIOUS OTHERNESS AMONG MUSLIM AND ADVENTIST YOUTH PARTICIPANTS OF MAKASSAR INTERNATIONAL PEACE GENERATION
FERRY GOODMAN P. P , Dr. Gregory A. Vanderbilt
2018 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAMunculnya intoleransi dalam dekade terakhir menimbulkan pertanyaan tentang pengaruh dialog antar iman dalam mempromosikan toleransi di Indonesia. Satu fakta penting tentang kondisi hubungan antar iman di Indonesia adalah kesenjangan antara toleransi umum dan toleransi terapan. Beberapa survei tentang topik ini menunjukkan temuan umum: mayoritas orang Indonesia toleran dalam istilah umum. Namun tingkat toleransi menurun secara signifikan ketika pertanyaan tentang toleransi ditentukan, seperti pertanyaan tentang tinggal di lingkungan yang sama dengan agama lain, keterbukaan untuk dipimpin oleh orang dari agama lain dan pembangunan rumah ibadah agama lain. Pada saat yang sama, ada banyak gerakan akar rumput pada dialog antar iman yang diprakarsai oleh pemuda yang berafiliasi dengan komunitas agama. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki dampak dialog antar iman kepada toleransi umum dan terapan. Makassar dipilih sebagai lokasi penelitian karena potensinya yang tinggi untuk konflik agama. Menurut survei yang dilakukan oleh Setara Institute pada 2017, Makassar adalah salah satu kota yang tidak toleran di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode gabungan (kuantitatif dan kualitatif) dengan studi kasus komunitas Makassar International Peace Generation (MIPG) di Indonesia. Penelitian ini menjawab bagaimana dialog antar iman yang dilakukan di MIPG membantu peserta memiliki toleransi terapan dalam politik, sosial dan moral. Dalam metode Kuantitatif ada 31 responden yang mengisi survei, dan ada 3 Muslim dan 3 peserta Kristen untuk metode Kualitatif. Ada dua kerangka teoritis utama yang digunakan. Tesis Paul Vogt akan digunakan untuk menganalisis perspektif atau sikap dimana Vogt adalah sarjana yang meredefinisikan arti toleransi dan membedakan tiga jenis toleransi yaitu toleransi politik, toleransi moral, dan toleransi sosial. Selain itu penelitian ini juga akan menganalisa model dialog antar iman antara pemuda Muslim dan Advent dengan menggunakan teori Swidler dengan model dialog kepala, dialog tangan, dialog hati dan dialog utuh (w)holiness. Dari analisis data ditemukan bahwa dialog antaragama di MIPG telah efektif untuk membuat peserta memiliki toleransi terapan dalam polik, sosial, dan tetapi tidak efektif dalam toleransi moral. Dengan kata lain, peserta sangat toleran di depan umum, lingkungan tempat tinggal tetapi tidak dalam keluarga sebagai tempat pertama untuk membentuk nilai-nilai moral.
The rise of intolerance in the last decade raised a question on the impact of the established interfaith dialogue in promoting tolerance in Indonesia. One notable fact about the condition of interfaith relation in Indonesia is the gap between general and applied tolerance. A few surveys on this topic shows a common finding: the majority of Indonesian are tolerant in general term. However, the level of tolerance dropped significantly when questions on tolerance are specified, such as question about living in the same neighborhood with other religion, openness to be led by person of other religion and the building of other religions' house of worship. At the same time, there are many grass-roots movement on interfaith dialogue initiated by the youth who affiliated with religious community. This study, therefore, aimed at investigating the impact of interfaith dialogue in general and applied tolerance. Makassar is choosen as the research location due to its high potential for religious conflicts. According to the survey conducted by Setara Institute on 2017, Makassar is one of intolerant cities in Indonesia. This research used mixed method (quantitative and qualitative) with a case study of Makassar International Peace Generation (MIPG) community in Indonesia. This study answer how interfaith dialogue that performed in MIPG helped participants to have applied political tolerance, applied social tolerance and applied moral tolerance. In Quantitative method there were 31 respondents who fill the survey, and there were 3 Muslim and 3 Christian participants for qualitative method. There are two main theoretical framework that used. Paul Vogt's thesis will be used to analyze the perspective or attitude of who defined the meaning of tolerance and discerned three type of tolerance which are political tolerance, moral tolerance and social tolerance. Beside of that this study also analyzes the model of interfaith dialogue between young Muslim and Adventist by using Swidler's theory which is dialogue of head, hand, heart and (w)holiness. From the data analysis it is found that interfaith dialogue in MIPG had been effective to make participant having applied policital tolerance, social tolerance, and but not effective in moral tolerance. In other words, participant were very tolerant in public, neighborhood life but not in family as the first place to forming moral values.
Kata Kunci : interfaith dialogue, tolerance, Youth Adventist, MIPG