Laporkan Masalah

PASANG SURUT EKSISTENSI KEPERCAYAAN TRADISIONAL KARO PASCA ERUPSI GUNUNG SINABUNG 2010 SAMPAI 2013 STUDI KASUS DI DESA MARDINGDING KEC. TIGANDERKET KAB. KARO SUMATERA UTARA

JEKONIA TARIGAN, Dr. Zainal Abidin Bagir

2018 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYA

Karya tulis ini bermaksud untuk melihat fenomena kemunculan kembali ritual kepercayaan tradisional Karo pasca erupsi Gunung Sinabung yang dilaksanakan oleh masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Sinabung secara khusus di desa Mardingding, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Erupsi Gunung Sinabung telah menjadi sebuah realitas yang mengejutkan masyarakat Karo terutama yang bermukim di kaki Gunung Sinabung. Hal ini disebabkan karena gunung tersebut tidak pernah mengalami erupsi selama empat ratus tahun terakhir, dan baru mengalami letusan kembali pada bulan Agustus tahun 2010. Erupsi sempat terhenti selama dua tahun sampai 2013 namun setelah itu erupsi terus berlangsung hingga kini. Erupsi Gunung Sinabung tersebut telah menjadi sebuah kondisi yang memungkinkan (condition of possibility) dari kemunculan ritual yang dikenal dengan nama mere buah huta-huta di Mardingding. Pada tahun 2010 terlaksanalah ritual mere buah huta-huta yang cukup besar, namun mendapat reaksi keras dari Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Selain melarang warga untuk melaksanakan kembali ritual yang dipandang sebagai praktek animisme itu, GBKP juga memberikan sanksi penggembalaan bagi anggota jemaatnya yang diketahui menjadi praktisi ritual. Ritual sempat dilaksanakan lagi, saat erupsi kembali terjadi tahun 2013 namun dengan jumlah peserta yang amat kecil dan setelah itu hingga kini tak pernah ada pelaksanaan ritual lagi. Sepanjang sejarahnya GBKP berulang kali harus bergumul dengan eksistensi kepercayaan tradisional Karo, utamanya karena masih banyak jemaat GBKP yang terlibat dalam praktek kepercayaan tradisional tersebut. Dalam kasus kemunculan ritual mere buah huta-huta di Mardingding, GBKP berperan sangat besar dalam mendominasi narasi religius terkait erupsi, bahkan juga dalam menjelaskan fenomena kemunculan ritual pasca erupsi. Akibatnya, selain ritual berhenti dipraktekkan, timbul pula stigma negatif yang menyudutkan para praktisi ritual sebagai penyembah setan yang telah menduakan Tuhan. Ironisnya, para praktisi ritual tak pernah mendapat kesempatan untuk menjelaskan praktek yang mereka lakukan. Oleh karena itu lewat, karya tulis ini akan berupaya melihat pergumulan dua pihak yakni GBKP dan praktisi ritual dengan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: mengapa ritual mere buah huta-huta muncul kembali dalam konteks erupsi sinabung di Mardingding? Bagaimana dinamika eksistensi ritual di Mardingding berhadapan dengan kehadiran kekristenan? Bagaimana narasi gereja menyikapi kemunculan kembali ritual? Bagaimana praktisi ritual menanggapi narasi penolakan gereja dan menjelaskan ritual yang mereka lakukan dan bagaimana perspektif indigenous religion dapat membantu upaya praktisi menjelaskan praktek ritual yang mereka lakukan tersebut? Pada akhirnya, kemunculan ritual mere buah huta-huta pasca erupsi Gunung Sinabung akan diposisikan sebagai salah satu bagian dari bagaimana GBKP menyikapi eksistensi kepercayaan tradisional Karo. Namun demikian narasi praktisi ritual pun akan ditempatkan sebagai sebuah narasi religius yang setara dengan narasi gerereja, bahkan terma animistik yang disematkan gereja terhadap ritual dan praktisinya juga akan dikaji ulang dengan menggunakan pandangan Nurit-Bird David dan Irving A. Hallowell yang menawarkan konsep personhood dan interpersonal relation untuk dapat mengerti dengan lebih baik sudut pandang dan penghayatan praktisi ritual terhadap ritual yang dilakukannya.

This paper aims to see the phenomenon of reemergence of Karonese primal religion ritual after Mount Sinabung�s eruption which was practiced by people who live in the slope of Mount Sinabung especially in Mardingding, Tiganderket, Karo District, North Sumatera. Mount Sinabung eruption have become shocking shocking reality for Karo people especially who lived in the slope of the mountain, because Sinabung never erupted for 400 years before 2010. Eruption of this mount also stopped for two years until 2013 but after that eruption continue until today. Eruption of Mount Sinabung also becom condition of possibility for reemergence of ritual in Mardingding which known as mere buah huta-huta. In 2010 great ritual was hold, but soon Batak Karo Protestant Church (GBKP) reacted violently toward the practitioners of ritual, and impose special pastoral treatment to the practitioners or ritual. After that ritual was hold again in 2013 but it was very small, and then ritual disappear. Throughout its history, GBKP always struggled with the eksistence of Karonese primal religion, especially because there are many of GBKP�s member involved in the practice of Karonese primal religion. In the case of reemergence of ritual mere buah huta-huta in Mardingding, GBKP play important role in dominating religious narrative related to eruption and even also in explaining ritual. However, beside ritual have been disappeared then negative stigma toward practitioners of ritual also grow and they were accused as worshiper of Devil. Ironically, practitioners never get chance to explain their practice. Therefore, this paper aims to see the struggle of these two party, GBKP and practitioners by using some research question: Why ritual mere buah huta-huta reemerge in the context of Mount Sinabung Eruption; How the existence of ritual in Mardingding dealing with Christianity? How GBKP deal with the reemergence of ritual? How practitioners explain their practice from and how it can be understood from indigenous religion paradigm? Finally, this paper will presents both narratives from GBKP and practitioners. There will be a part which explain the struggle of GBKP but on the other hand there will be also part for the practitioners to voice their narratives, and this practitioners narratives will be read and interpreted by using theories or concept personhood and interpersonal relation from Nurit Bird-David and Irving A Hallowel. The purpose of using this theories are, to revisited concept of animism and understand how practition live their practice better.

Kata Kunci : erupsi Gunung Sinabung, ritual mere buah huta-huta, orang Karo, animisme, personhood

  1. S2-2018-404929-abstract.pdf  
  2. S2-2018-404929-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-404929-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-404929-title.pdf