Laporkan Masalah

Konservatisma Akuntansi, Risiko Kebangkrutan, dan Krisis Ekonomi Global

AVESENA BINTANG SATRIA, Singgih Wijayana, S.E., M.Sc., Ph.D.

2018 | Skripsi | S1 AKUNTANSI

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan penelitian Biddle, Ma, dan Song (2016) mengenai hubungan antara Konservatisma Akuntansi dan Risiko Kebangkrutan. Konservatisma Akuntansi, baik Konservatisma Bersyarat maupun Konservatisma Takbersyarat, diprediksi memiliki hubungan negatif signifikan dengan risiko kebangkrutan. Selain itu, penulis juga mengembangkan penelitian Biddle dkk. dengan memasukkan krisis ekonomi global sebagai natural experiment untuk melihat pengaruhnya terhadap hubungan antara konservatisma dan risiko kebangkrutan. Menggunakan sampel yang terdiri dari 696 firm-year meliputi 115 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, penulis menemukan bahwa Konservatisma Bersyarat tidak signifikan mempengaruhi risiko kebangkrutan, sedangkan Konservatisma Takbersyarat justru secara positif signifikan mempengaruhi risiko kebangkrutan. Hasil ini berhubungan dengan perbedaan asimetri informasi antara perusahaan dengan pemegang saham dan kreditur. Selanjutnya, dilihat dari tingkat konservatisma bersyarat, perusahaan yang lebih konservatif memiliki rata-rata risiko kebangkrutan yang lebih rendah dibandingkan perusahaan nonkonservatif pada saat krisis. Sebaliknya, perusahaan yang lebih konservatif dari sisi Konservatisma Takbersyarat justru memiliki risiko kebangkrutan yang lebih besar dibandingkan perusahaan nonkonservatif pada saat. Untuk kedua jenis konservatisma, perbedaan risiko kebangkrutan sama-sama lebih lemah pada saat krisis dibandingkan sebelum krisis. Hal ini mengindikasikan adanya faktor lain yang mempengaruhi risiko kebangkrutan pada saat krisis.

This study aims to prove the research of Biddle, Ma, and Song (2016) on the relationship between Accounting Conservatism and Bankruptcy Risk. Accounting Conservatism, both Conditional Conservatism and Unconditional Conservatism, are predicted to have significant negative relationships with the risk of bankruptcy. In addition, the author expands Biddle et al. by including the global economic crisis as a natural experiment to see its influence on the relationship between conservatism and bankruptcy risk. Using a sample of 696 firm-years from 115 manufacturing firms listed on the Indonesia Stock Exchange, the authors found that the Conditional Conservatism does not significantly affect the risk of bankruptcy, whereas the Unconditional Conservatism actually positively affects the risk of bankruptcy. This result relates to the difference between information asymmetry regarding shareholders and creditors. Furthermore, judging from the level of conditional conservatism, more conservative firms have lower bankruptcy risks than nonconservative firms in times of crisis. Conversely, more conservative firms in terms of the Unconditional Conservatism have a greater risk of bankruptcy than non-conservative firms at the time. For both types of conservatism, the difference in bankruptcy risk is equally weaker in times of crisis than before the crisis. This indicates the existence of other factors that affect the risk of bankruptcy in times of crisis.

Kata Kunci : Konservatisma, Konservatisma Bersyarat, Konservatisma Takbersyarat, Risiko Kebangkrutan, Asimetri Informasi

  1. S1-2018-363179-abstract.pdf  
  2. S1-2018-363179-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-363179-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-363179-title.pdf