Analysis of Prebiotic Consumption Status and Haemoglobin level of preadolescent children in kulonprogo district. A Cross sectional study using Food Frequency Analysis.
RAHADIYAN WHISNU D, Siti Helmyati, DCM M.Kes ;Perdana Samekto Tyasnugroho
2017 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang: Menurut Riset Kesehatan Dasar (2013) yang dikeluarkan oleh pemerintahan Indonesia, anak perempuan usia sekolah di Indonesia termasuk dalam populasi yang dikategorikan memiliki risiko tinggi terkena anemia. Laporan tersebut menyatakan persentasi untuk kelompok usia 5-14 tahun di Indonesia yang menderita anemia adalah 26,4 persen. Menurut WHO Worldwide Prevelance of Anemia (1993-2005), dinyatakan bahwa anemia berpengaruh signifikan terhadap anak usia sekolah, seperti mengurangi kemampuan mereka untuk belajar, mengganggu pengetahuan, dan menyebabkan kelemahan. Tujuan: Menentukan apakah konsumsi prebiotik yang rendah merupakan faktor resiko yang cukup untuk menyebabkan anemia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode irisan melintang. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama 2 dan 3 Wates di Kulonprogo. Hasilnya dihitung menggunakan metode median (X2) dan metode rasio risiko untuk mengetahui hubungan antara asupan oligosakarida dan kadar hemoglobin, selain itu untuk mengetahui risiko perolehan kadar hemoglobin lebih rendah jika asupan oligosaccharida rendah. Hasil: Ada korelasi negatif yang signifikan (Φ = -0,098) antara asupan oligosakarida anak dengan kadar hemoglobin (p = 0,00001). Risiko untuk memperoleh kadar hemoglobin lebih rendah jika asupan oligasakarida rendah adalah 0,655. Kesimpulan: Sebagai ganti menurunkan kemungkinan memperoleh kadar hemoglobin rendah, konsumsi oligosakarida lebih dari 2,25 g / hari meningkatkan kesempatan 1,5 kali untuk menurunkan kadar hemoglobin di bawah median data yang diperoleh.
Background: According to Riset Kesehatan Dasar (2013) by Indonesian government, school-age children in Indonesia are included into population that categorized into having high risk to acquire anemia. Those report state that the percentages for age group 5-14 years old in Indonesia who suffer from anemia are 26.4 percent. According to WHO Worldwide Prevelance of Anemia (year 1993-2005) it is stated that anemia has significant effect toward the school-age children, such as reducing their capability to learn, impair their knowledge, and causing weakness. Objective: To understand whether low prebiotic intake are a significant risk factor for acquiring anemia Method: This research was a cross sectional study. This research was conducted in Wates 2nd and 3rd national junior high school in Kulonprogo. The result was calculated using median (X2) method and risk ratio method in order to understand correlation between oligosaccharide intake and haemoglobin level and risk of acquiring lower haemoglobin level if consuming low oligosaccharide. Result: There was a significant weak negative (Φ = -0,098) correlation between children oligosaccharide intakes with the haemoglobin level (p = 0,00001). The odd ratio for acquiring lower haemoglobin level if consuming low oligosaccharide is 0,655. Conclusion: Instead of lowering the chance of acquiring low level of haemoglobin, oligosaccharide intake more than 2,25 g/day increased the chance by 1,5 times to lowering the haemoglobin level below the median of data acquired.
Kata Kunci : Kata Kunci: Anemia, konsumsi prebiotik, ketakberaturan dari lingkungan permukaan saluran pencernaan, peradangan, penyerapan besi, oligosakarida.