FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN AKSEPTABILITAS VCT HIV PADA TENAGA KERJA INDONESIA PURNA DI KABUPATEN WONOSOBO
ANDARIAS P K, dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D.
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo bersama LSM Wonosobo Youth Center telah melakukan penjangkauan, rujukkan dan VCT pada TKI purna selama September 2016-September 2017. Hasil kegiatan menunjukkan angka VCT masih rendah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan akseptabilitas VCT pada TKI purna. Metode Penelitian: Penelitian kualitatif dengan desain eksplanatori ini dilaksanakan di Kabupaten Wonosobo selama April-Mei 2018. Subjek penelitian TKI purna dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Data yang dikumpul ditranskrip menjadi data verbatim dan dianalisis secara tematis. Hasil: Wawancara mendalam dilakukan pada 9 orang TKI purna yang menerima dan 10 orang yang menolak. TKI purna yang menerima dan yang menolak merasa tidak berisiko terhadap HIV karena tidak melakukan perilaku berisiko dan tidak ada indikasi. Manfaat VCT menurut yang menolak: mengetahui status HIV, mengetahui penyakit HIV/AIDS, pencegahan dan pengobatan, memastikan status HIV, dan persepsi manfaat VCT untuk orang lain. Sedangkan menurut yang menerima: mengetahui status HIV, penanganan dini, meyakinkan status negatif, dan pemeriksaan kesehatan secar a gratis. Hambatan VCT yang menolak: waktu, merasa tidak diundang, takut mengetahui hasil tes, takut jarum, stigma terhadap pemeriksaan HIV, dan kurang pengetahuan tentang VCT. Hambatan yang menerima yaitu jarak dan takut hasil positif. Faktor-faktor pendorong tes HIV adalah ingin tahu, petugas VCT ditemani orang dikenal, persuasi petugas VCT, dan petugas VCT mendatangi ke rumah. Faktor yang berhubungan dengan akseptabilitas lainnya yakni belum adanya kerjasama antara stakeholder terkait untuk pemeriksaan HIV pada TKI purna secara reguler. Faktor yang tidak berhubungan dengan akseptabilitas antara lain: target VCT terlalu tinggi, dana yang tidak memadai, ketidakseimbangan antara target dan jumlah sumber daya manusia yang dilibatkan, dan adanya target tes HIV di setiap wilayah. Kesimpulan: Kurang pengetahuan, takut dan stigma terhadap pemeriksaan HIV adalah faktor hambatan pada TKI purna yang menolak. Persuasi petugas, dan petugas VCT mendatangi ke rumah merupakan faktor pendorong pada TKI purna yang menerima. Perlu upaya untuk mengatasi kurangnya pengetahuan, stigma dan ketakutan. Perlu meningkatkan kemampuan petugas dalam melakukan persuasi dan mengembangkan pelayanan VCT ke rumah-rumah untuk meningkatkan angka VCT. Perlu membuat target yang sesuai dengan kemampuan sumber daya organisasi untuk mencapainya.
Background: Public Health Service in District of Wonosobo and Wonosobo Youth Center had conducted the outreach, referral and HIV counseling and testing (HCT) to Former Indonesian Migrant Workers (FIMW) during September 2016-September 2017. The results showed that the VCT uptake was still low. The objective of study was to describe the related factors to acceptability of HCT in FIMW Methods: Qualitative research with explanatory design was conducted in Wonosobo District during April to May 2018. The subjects of FIMW were selected by purposive sampling. Data collection used in-depth interviews. The collected data was transcribed into verbatim and analyzed thematically Results: In-depth interviews were conducted to 9 accepters and 10 decliner. Both accepters and decliners perceived not being at risk to HIV due to not engaged in risky behaviors and no indications. Benefits of VCT for decliners: to know HIV status, to know HIV/AIDS, prevention and treatment, ensuring of HIV status, and perception of VCT benefits for others. Meanwhile for accepters: to know HIV status, early medication, convincing of negative status, and medical examination for free. Barriers for decliners: time, not given invitation, fear of test results, fear of needles, stigma against HIV test, and lack of knowledge on HIV test. Barriers for accepters were distance and fear of positive result. Facilitator factors to HIV test were curiosity, VCT officers accompanied by a known person, persuasion of VCT officers, and VCT officers visit to home. Another acceptability factor influencing the low of VCT usage was there was no colaboration among stakeholders to carry out HIV test to FIMW regularly. Too high of VCT target, inadequate fund, imbalancing between target and the number of deployed human resource, and target of HIV test in every region were the unrelated factors to acceptability that influencing the low of hiv test among FIMW. Conclusion: Lack of knowledge on HIV test, fear and stigma against HIV test had been the barriers for those who reject. Persuasion and visiting to home by VCT officers had been facilitator factors for those who receive. It takes efforts to overcome lack of knowledge, fear and stigma. The need to improve officers ability in persuading and the program in developing of VCT services to homes for increasing VCT usage has to be concerned. It needs to set targets that are in accordance with the ability of organization resources to achieve them.
Kata Kunci : HIV, VCT, akseptabilitas, TKI, Wonosobo, acceptability