Laporkan Masalah

ANALISIS STAKEHOLDER DALAM PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DI KABUPATEN GROBOGAN

RATNA KUSUMASARI P, dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D; dr. Yanri Wijayanti Subronto, SpPD., Ph.D

2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar Belakang: HIV-AIDS merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan dunia. Kabupaten Grobogan merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah dengan angka HIV nomor 4 dan penemuan kasus baru HIV-AIDS nomor 3 se-Jawa Tengah pada tahun 2015. Sampai tahun 2017, kasus HIV-AIDS masih fluktuatif dan cenderung meningkat. Berbagai upaya dilakukan untuk menggalang dukungan dan komitmen politik dari Pemerintah Grobogan dan stakeholder lainnya. Kesinambungan program tergantung pada komitmen politik dan dukungan kebijakan stakeholders di daerah. Melakukan analisis stakeholder menjadi penting untuk pengembangan perencanaan strategis penanggulangan HIV-AIDS selanjutnya. Tujuan: Untuk mendeskripsikan bagaimana perencanaan strategis pemerintah daerah dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Grobogan. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan penelitian ada 20 orang yaitu pejabat Eksekutif dan Legislatif, LSM Peduli HIV-AIDS, Klinik VCT, komunitas ODHA. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Hasil: Perencanaan strategis pemerintah daerah terhadap upaya penanggulangan HIV-AIDS masih berupa agenda kebijakan dan exit strategy. Meskipun seluruh stakeholder setuju dan mendukung upaya penanggulangan HIV-AIDS, keterlibatan stakeholder dalam perumusan, pelaksanaan kebijakan dan program masih kurang. Koordinasi dinas kesehatan dengan stakeholder lainnya juga tidak berjalan baik, sehingga program tidak terintegrasi. Advokasi dinas kesehatan kepada pimpinan daerah masih lemah. Tenaga kesehatan mulai dievaluasi kinerjanya khususnya tingkat kecamatan. Usulan alternatif anggaran penanggulangan HIV-AIDS dari dana desa. Kesimpulan: Tidak terintegrasinya upaya penanggulangan HIV-AIDS oleh stakehoders menunjukkan lemahnya komunikasi dan fungsi koordinatif. Permasalahan ini lebih banyak disebabkan oleh personil kunci yang menangani di-reshuffle termasuk kepala dinas kesehatan disamping bupati yang baru juga belum memahami benar kasus HIV-AIDS yang terjadi.

Background: HIV-AIDS is one of the world's health problems. Grobogan regency is one of the districts in Central Java with HIV number 4 and the discovery of new cases of HIV-AIDS number 3 in Central Java by 2015. Until 2017, HIV-AIDS cases are still fluctuating and tend to increase. Efforts were made to garner support and political commitment from the Grobogan Government and other stakeholders. The continuity of the program depends on political commitment and stakeholder policy support in the region. Conducting stakeholder analysis becomes important for the development of future strategic HIV / AIDS prevention plans. Objective: To describe how local government strategic planning in HIV and AIDS prevention in Grobogan District. Method: This research is descriptive research with qualitative approach. There were 20 informants in the study: Executive and Legislative officials, HIV / AIDS Caring NGO, VCT Clinic, community of PLWHA. The data was collected by observation, in-depth interview, and document review. Result: Local government strategic planning on HIV / AIDS prevention efforts is still in the form of policy agenda and exit strategy. Although all stakeholders agree and support HIV / AIDS prevention efforts, stakeholder involvement in the formulation of policies and programs is lacking. Coordination of health offices with other stakeholders is also not working well, so the program is not integrated. The health department advocacy to local leaders is still weak. Health workers began to be evaluated for their performance, especially at sub-district level. Proposed alternatives to HIV / AIDS prevention budget from village funds. Conclusion: Unintegrated HIV / AIDS prevention efforts by stakeholders show weak communication and coordinative functioning. This problem is mainly caused by the key personnel dealing with reshuffle including the head of the health office in addition to the new bupati also not fully understand the case of HIV-AIDS that occurred.

Kata Kunci : Stakeholder, Renstra, HIV / AIDS prevention, Grobogan

  1. S2-2018-403338-abstract.pdf  
  2. S2-2018-403338-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-403338-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-403338-title.pdf