HUBUNGAN USIA IBU PADA SAAT HAMIL TERHADAP KEJADIAN KEGUGURAN BERULANG DI INDONESIA (Analisis Data Indonesian Family Life Survey 1993-2014)
FOVILIA DEWI, Prof. dr. Djaswadi Dasuki, MPH., SpOG(K)., PhD.
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Risiko keguguran berulang meningkat seiring dengan menuanya usia ibu. Sebuah penelitian di Indonesia menemukan adanya tren penundaan pernikahan dan ini akan menyebabkan penundaan usia kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia ibu pada saat hamil terhadap kejadian keguguran berulang di Indonesia. Metode: Ini adalah penelitian case control tanpa matching menggunakan datasekunder IFLS 1993 - 2014 d engan rasio kasus dan kontrol 1:4. Kasus adalah ibu yang yang pernah hamil miminal 3 kali dan mengalami minimal 2 kali keguguran berturut-turut, yang didahului oleh minimal 1 kelahiran sedangkan kontrol adalah wanita yang pernah hamil minimal 3 kali dan tidak pernah mengalami keguguran berulang. Variabel penelitian terdiri dari usia ibu, usia suami, usia menstruasi, jenis kelamin anak pertama, dan status merokok terhadap kejadian keguguran berulang. Hasil: Dibandingkan dengan ibu yang berusia <29 tahun, risiko keguguran berulang meningkat pada ibu yang berusia 30 - 34 tahun (OR 1,75; CI 95% 1,0 -2,8), usia 35 - 39 tahun (OR 2,91; CI 95% 1,8 - 4,6), dan usia >40 tahun (OR 4,97; CI 95% 3,1 - 8,0). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara jenis kelamin anak pertama dan usia menstruasi. Status merokok dan usia suami hanya berhubungan signifikan terhadap keguguran berulang pada analisis bivariat dan menjadi tidak signifikan pada analisis multivariat. Kesimpulan: Meningkatnya usia ibu merupakan faktor risiko terjadinya keguguran berulang.
Background: The risk of recurrent miscarriages increases with advanced maternal age. A study in Indonesia found that there were a trend of marriage delay and will result in advancing maternal age in childbearing. This study aimed to determine the association between maternal age and risk of recurrent miscarriage in Indonesia. Methods: Unmatched case control study was performed using IFLS data with 1:4 case and control ratio. Cases were ever pregnant women at least 3 times, had at least 2 consecutive miscarriages, and preceded by at least 1 firstborn while controls were ever pregnant women at least 3 times and never experienced recurrent miscarriages. Main exposure was maternal age and potential confounder variables were paternal age, menarcheal age, body mass index, sex of firstborn child, and smoking status. Result: Compared to women aged 20 - 29, the risk of recurrent miscarriages increased on women aged 30 - 34 (OR 1,75; CI 95% 1,0 - 2,8), women aged 35 - 39 (OR 2,91; CI 95% 1,8 -4,6), and women aged >40 (OR 4,97; CI 95% 3,1 - 8,0). Paternal age and smoking status were significantly associated to recurrent miscarriage in bivariate analysis and became insignicant in multivariate analysis. No significant association was found between menarcheal age and sex of firstborn child with recurrent miscarriage. Conclusion: Advanced maternal age was a risk factor for recurrent miscarriages.
Kata Kunci : keguguran berulang, Indonesia, usia ibu, recurrent miscarriages, Indonesia, maternal age